Salatiga Carnival Center

Salatiga Carnival Center
Sebuah event akbar tahunan WORLD CULTURE FASHION CARNIVAL..

Profil Saya

Foto saya
Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
I was born in Solo, December 25, 1987 from the father of Drs. Luke Suroso and Mrs. Sri Puji Lestari Hantokyudhaningsih. I grew up in a city full of culture that is the city of Solo. as the descendants of the solos even have blood from a stranger. I was born like a tiny man, weighing> 4 kg. the second child of three brothers that I tried to be a pioneer and a child who was always proud of my extended family. trained hard in terms of education and given the religious sciences until thick. I am standing upright in my life the 19th to voice the aspirations of the marginalized of LGBT in the city of Salatiga. as a new city that will be a starting point toward change and transformation that this country is a country truly democratic. soul, body and all of my life will always fight for rights of the marginalized is to get our citizen rights. Ladyboys no rights, no gay rights, no rights of lesbian, but there's only citizen rights regardless of sexual orientation and gender.

11 Oktober 2009

Solo Batik Carnival 2



Solo - Jalan Slamet Riyadi Solo pada hari Minggu (28/6) mulai perempatan Purwosari sampai bundaran Geladag ditutup total karena digunakan untuk acara "Solo Batik Carnival II", yang akan dilepas oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

"Penutupan jalan itu dilakukan karena di kawasan Purwosari digunakan panggung kehormatan dimulai Sabtu (27/6) pukul 20.00 WIB, sementara itu Minggu (28/6) dari Purwosari sampai bundaran Geladag ditutup total," kata Kepada Dinas Pariwisata Seni Budaya Kota Surakarta, Drs Purnomo Subagio di Solo, Jumat.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu beserta tamu undangan lainnya seusai melepas karnaval tersebut terus naik kereta yang berhenti di Bundaran Geladag, sementara Walikota Surakarta Ir Joko Widodo dan Wakilnya FX Hadi Rudyatmo juga memakai pakaian batik untuk ikut acara tersebut.

Untuk kelancaraan Solo Batik Carnival yang merupakan salah satu dari tujuh Event Indonesia Creative itu ada 59 titik perempatan jalan yang ditutup.

Oleh karena itu diharapkan kepada masyarakat yang akan menyaksikan acara ini mau memperhatikan rambu-rambu jalan tersebut.

Solo Batik Carnival merupakan event tahunan yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surakarta bekerjasama dengan Solo Center Point serta masyarakat, dengan peserta 300 orang yang diikuti oleh anak-anak, remaja, karyawan, ibu-ibu rumah tangga dari lintas etnik dan usia di Solo.

Tak ketinggalan, dibelakang layar banyak juga para perias peserta carnival, yang banyak terdiri dari komunitas Gay di Kota Solo, yaitu salah satunya adalah Jeng Asih. Jeng Asih merasa sangat senang dengan adanya event-event seperti ini. Karena mendapatkan penghasilan dari profesinya sebagai perias, dia juga merasa senang dapat melukis di wajah dan tubuh para peserta carnival, karena dapat meluapkan ekspresi dan jiwa seninya melalui para peserta carnival.


Solo Batik Carnival untuk mengangkat Solo sebagai Kota Batik. Peserta Solo Batik Carnival telah melakukan workshop (dance, rancangan kostum, runway, rias, musik dan seluk beluk carnival) selama tiga bulan.

Untuk Solo Batik Carnival kedua ini akan mengangkat topeng tradisi sebagai tema utama, selain batik sebagai bahan baku utama pembuatan kostum karnaval.

Imajinasi dan kreatifitas peserta sangat diperlukan untuk membentuk kostum karnaval yang indah dipadukan dengan properti topeng yang sesuai dengan temanya.

Ada tiga jenis topeng yang digunakan untuk karnaval ini yaitu Panji yang menggambarkan topeng halus seorang raja dengan kehalusan dan kecantikannya, Kelana yaitu topeng yang menggambarkan kesatria atau raksasa yang menggambarkan amarah dan kemarahan dalam pertempuran, serta Gecul yaitu topeng yang menggambarkan punakawan (abdi dalem) yang dengan tingkah lucunya dan wajah komedi.

Peserta Solo Batik Carnival akan berangkat dari Purwosari dengan jalan kaki sambil menari yang memakai pakaian motif batik beraneka warni itu jalan kaki sekitar 6,5 kilometer dan berakhir sampai di halaman Balikota Surakarta.

Untuk urut-urutan acara tersebut yaitu pembawa spanduk, bendera, penari panji motif batik, tari topeng, terdiri dari Panji, Kelana dan Gecuk. Dalam rangka memeriahkan suasana tersebut kepada para penonton juga diminta memakai pakaian batik.

Dalam rangka memeriahkan acara tersebut di city walk dari Purwosari sampai Gendengan juga akan digelar Srawung Batik (pameran dan edukasi batik) yang diikuti peserta dari lima kota yaitu Yogyakarta, Madura, Lasem, Indramyu dan Solo sebagai tuan rumahnya.

Untuk mengamankan jalannya acara tersebut akan diterjunkan petugas khusus yang mengatur arus lalulintas sebanyak 192 dan 1000 petugas gabungan lainnya.

Tidak ada komentar: