Salatiga Carnival Center

Salatiga Carnival Center
Sebuah event akbar tahunan WORLD CULTURE FASHION CARNIVAL..

Profil Saya

Foto saya
Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
I was born in Solo, December 25, 1987 from the father of Drs. Luke Suroso and Mrs. Sri Puji Lestari Hantokyudhaningsih. I grew up in a city full of culture that is the city of Solo. as the descendants of the solos even have blood from a stranger. I was born like a tiny man, weighing> 4 kg. the second child of three brothers that I tried to be a pioneer and a child who was always proud of my extended family. trained hard in terms of education and given the religious sciences until thick. I am standing upright in my life the 19th to voice the aspirations of the marginalized of LGBT in the city of Salatiga. as a new city that will be a starting point toward change and transformation that this country is a country truly democratic. soul, body and all of my life will always fight for rights of the marginalized is to get our citizen rights. Ladyboys no rights, no gay rights, no rights of lesbian, but there's only citizen rights regardless of sexual orientation and gender.

08 Desember 2010

Theodurus adalah pejuang Gay dan berjuang demi masyarakat

1. Bagaimanakah penerimaan serta pandangan masyarakat di sekitar anda terkait dengan keterbukaan anda sebagai gay ?

Negara ini adalah demokrasi. Fine untuk saya beradaptasi dengan lingkungan yang bergenre heterogen ini. Dimana kita berada di Negara demokrasi pastilah banyak pro dan kontra, karena buat saya itu wajar saja. Saya selalu menerima semua pro dan kontra itu secara bisa, Tuhan saja di pro dan kontrakan apalagi saya yang ciptaannya pasti ada pro dan kontra. Pandangan masyarakat di sekitar saya sendiri sudah mulai menerima keadaan saya karena mereka tidak memandang saya dari sisi orientasi seksualnya tetapi memandang saya dari sisi sebuah karya saya yang bisa berarti dan berguna untuk saya. Tetapi diluar sana masih banyak kekerasan dan penganiayaan berbasis orientasi seksual. Saya hanya berpikir apa yang salah pada kami yang berorientasi berbeda ini. Padahal kami ini juga manusia yang diciptakan dengan hati dan cinta. Bukan kami yang menciptakan hati dan cinta itu, melainkan Tuhan yang menciptakannya.

2. Terkait dengan pertanyaan no. 1, apakah penerimaan serta pandangan mereka pernah menjadi efek negatif bagi diri anda ?

Saya selalu positif melihat ini semuanya. Karena saya mempunyai prinsip bahwa semakin saya ditekan maka semakin saya punya tanggung jawab untuk berkarya dan lebih memaknai hidup saya untuk semakin berguna bagi masyarakat. Walaupun pernah saya alami bagaimana kontra secara langsung dari masyarakat di caci-maki, diludahi, dikepung hingga di perlakukan tidak baik di hadapan umum pernah saya terima. Tetapi bagi saya itu adalah sebuah proses dari Tuhan untuk mematangkan saya menjadi seorang yang lebih dewasa dan berguna bagi masyarakat. Berjuang untuk menghasilkan karya disetiap hidup saya ini.

3. Apakah ada tekanan, gunjingan, serta perlakuan tidak menyenangkan dari masyarakat kepada anda ?

Itu pernah terjadi di diri saya. Tahun 2009 saya berkarya melalui bakat saya bersama teman-teman saya, saya membuat sebuah fashion on the street di salatiga saya di caci-maki, di olok-olok, bahkan saya diludahi karena bagi sebagaian orang saya hanya seorang gay yang selamanya tak bisa berkarya. Tetapi saya tunjukan kepada mereka untuk terus berjuang dalam karya saya, akhirnya banyak masyarakat suka dan selalu menunggu karya saya ini. Di tahun 2007 saya ingin mengadakan sebuah perkumpulan bersama komunitas saya dalam acara party di salah satu café di Salatiga. Saya waktu itu mendapatkan kecaman yang cukup hebat dan kuat, saya berusaha tetap kukuh menjadi pemimpin untuk mereka. Hasilnya adalah banyak teman yang tidak ingin acara ini berlangsung. Tetapi saya terus berjuang bukan diacara itu. Terus tetap menyerukan hak kami untuk berkumpul dan bermufakat sesuai UUD 1945, karena saya melihat bahwa saya dan teman-teman saya memang sebagai WNI yang tidak memiliki salah apapun.

4. Apakah dengan keterbukaaan anda sebagai gay dapat menjadikan anda dengan mudah bisa memasuki segala bidang di kemasyarakatan atau malah sebaliknya ?

Saya orang yang tak mudah putus asa. Dahulu saya dilarang untuk memasuki segala bidang di kemasyarakatan. Saya merasa sendiri dan tak pernah bisa merasakannya namanya bersosial sebagai manusia. Tetapi saya tak putus asa. Saya terus maju dan berkembang. Saya memulainya dengan memasuki bidang kesehatan masyarakat, ternyata saya diterima dengan baik. Di bidang kebudayaan dan pariwisata, saya juga diterima dengan baik bahkan berdampak banyak sekali untuk hidup saya. Lalu semakin saya mengepakkan sayap saya di segala sector kemasyarakatan, dan akhirnya saya diterima dan dimengerti serta masyarakat menghargai pilihan saya. Sekarang saya mulai merasakan bagaimana masyarakat memandang saya, dahulu saya berpikir bahwa masyarakat akan mengucilkan saya hingga mungkin tidak akan menerima saya. Tetapi ternyata itu hanya pikiran saya. Masyarakat lebih banyak menerima saya sebagai seorang individu yang selalu berkarya dan selalu bekerja untuk masyarakat, bukan memandang saya sebagai seorang gay walaupun dengan keterbukaan saya, mereka semakin menerima saya dan mengikuti jalan pikir saya. Dan selama ini saya berusaha juga untuk tidak melakukan diskriminasi dalam basis apapun. Karena saya berpendapat bahwa selama masyarakat bisa menghargai pilihan saya, maka saya juga akan dua kali lipat menghargai mereka sebagai individu yang sempurna.

5. Bagaimana anda mengatasi semua hambatan yang datang pada anda terutama mengenai ke-“gay”-an anda?

Hal yang paling mudah bagi saya bahwa semakin saya di hambatan dalam karya saya, maka saya akan mencari celah dimana saya bisa berkarya. Karena Tuhan selalu memberikan pikiran dan akal untuk saya selalu berkarya dalam keadaan ciptaan-Nya ini. Dan saya percaya dan telah membuktikan sendiri, apabila saya dihambatan di bidang A maka saya berusaha semaksimal saya berkarya di bidang B. Dan suatu saat bidang A itu bisa terbuka untuk saya karena bidang A telah melihat bagaimana saya berkarya di bidang B. Saya terus berusaha menjadi individu yang berarti dan berguna bagi masyarakat.

6. Apakah pernah terbersit dalam pikiran anda mengenai bagaimanakah masa depan anda berkenaan dengan status anda sebagai gay ? Pernahkah ada keinginan untuk berubah atau memang anda sudah mantap untuk memilih hidup sebagai gay ?

Gay bukanlah status tetapi gay adalah orientasi sexsual saya. Dan orientasi seksual dan jenis kelamin tidak bisa digolongkan seperti status ekonomi ataupun pernikahan.
Melihat masa depan itu penting untuk saya. Dan saya memiliki sama pemikiran dengan individu lainnya yang ingin mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya. Tetapi bagaimana taraf bahagia untuk saya itu tak sama seperti individu lainnya. Mungkin individu lainnya akan berpikir bahagia itu haruslah memiliki anak dan berkeluarga. Tetapi itupun individu lain juga bisa melakukan adopsi anak atau apapun. Lalu bagaimana dengan saya? Ya, saya bisa juga melakukan itu. Mengadopsi anak, bekerja, berkeluarga, dan menikmati hidup saya. Tetapi pastinya saya memiliki visi yang tidak hanya itu saja. Saya bahagia apabila orang lain bahagia terlebih dahulu. Melihat teman-teman saya merasakan bahagia sebagai individu yang bisa diterima masyarakat itu merupakan kebahagiaan untuk saya. Kebahagiaan yang lainnya, saya bisa membuatkan rumah tinggal, pekerjaan, atau apapun itu selama berguna bagi teman-teman saya, keluarga saya, lingkungan saya, dan siapapun orang yang bisa menghargai saya.
Bukan saya yang merubah diri saya. Biarkan yang menciptakan saya yang merubah saya. Dia yang berhak penuh atas hidup saya. Saya hanya wayang bagi Sang Dalang di dunia ini. Saya tidak mungkin pernah menjalankan tugas saya sebagai wayang-Nya. Jadi kalau saya ditanya seperti ini, coba tanyakan kepada Tuhan saya. Apa Dia ingin anak-Nya ini berubah?


Pesan saya : Menjadi manusia yang jujur dan bisa menghargai orang lain itu pasti dampak positif bagi kita akan semakin indah. Dan jangan pernah menjadi individu yang merasa kecil sebelum kita mencoba hal yang besar. Terus berjuang dan terus memantapkan hidup ini, semoga hidup kita semakin bisa berarti dan berguna dalam setiap karya kita bagi individu lainnya.

29 November 2010

SATYA WACANA CARNIVAL AKAN TAMPIL DI BALAIKOTA SOLO DALAM RANGKA PERINGATAN HIV/AIDS SE-DUNIA 2010




Satya Wacana Carnival kembali akan tampil dalam perhelatan aktar peringaan hari AIDS se-Dunia di Solo tepatnya tanggal 1 Desember 2010 di depan Balaikota Solo jam 08.00. acara akan di buka oleh Walikota Solo, dan dimeriahkan oleh Putra-Putri Solo dan seluruh LSM peduli AIDS. Satya Wacana Carnival akan mengirimkan 4 orang perfor,er yang menampilkan kostum undersea, Neo Heritage, dan 2 dodotan carnival... hadirin dan saksikanlah perform SWC ini.. SUKSES untuk peringatan hari AIDS se-dunia 2010 di Solo. STOP DISCRIMINATION AND STOP HIV/AIDS....!!!!

26 November 2010

SWC dalam Demo Aksi Budaya

Satya Wacana Carnival kembali dengan bangga akan hadir dalam kancah hiburan Fashion Carnival di Kota Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia. 30 performer akan tampil dalam balutan busana desaigner SWC - Aditya Vertiana Putra. Dengan melibatkan 30 model dari Mahasiswa UKSW Salatiga. Acara ini merupakan undangan dari Panitia Demo Aksi Budaya seniman se-Salatiga yang akan diselenggarakan pada Minggu, 28 November 2010 jam 09.00 wib. Rute aksi ini akan melewati Jalan - Jalan Utama Salatiga. SWC akan tampil dalam 30 busana carnival dodotan batik. Kami mengundang Fotografer dan Media untuk dapat ambil bagian dalam kegiatan ini. Bravo untuk Aksi Budaya dan Satya Wacana Carnival...

18 November 2010

Pertanyaan atas semua hal tentang aku

Perkenalkan nama saya Theodurus Gary Natanael. Saya anak dari Drs. Lukas Suroso dan Sri Puji Lestari Hantok Yudhaningsih. Saya lahir pada 25 Desember 2010 dan saya beragama Kristen Protestan. Saya merupakana warga kenegaraan Indonesia hingga sekarang. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S1 Komunikasi di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Dan saya juga bekerja sebagai President Directur Satya Wacana Carnival yang merupakan icon pusat karnaval fashion dunia di Salatiga.

Ada 15 hal yang akan saya ungkapkan disini untuk menjawab segala pertanyaan anda tentang saya.
1. Sejak kapan anda sadar bahwa anda memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis ?
Saya dilahirkan sebagai seorang lelaki yang memang untuk mencintai lelaki. Saya menyadari bahwa saya adalah seorang gay sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar tepatnya di kelas 1 dan saat itu saya sedang berumur 7 tahun. Saya sadar bahwa saya gay bukan tanpa alasan. Saat itu saya pernah suka dengan teman saya yang sebangku dengan saya bahkan saya juga pernah suka dengan guru olahraga saya waktu itu guru olahraga saya adalah guru paling muda dan modis.
2. Sejak kapan anda mulai membuka diri sebagai seorang gay?
Saya membuka diri sebagai gay sebenarnya sudah sangat lama. Kalao menjadi gay yang terbuka sebenarnya membutuhkan sebuah perjuangan dan proses yang lama. Ada beberapa hal seorang akan membuka diri menjadi seorang gay. Diawali dengan terbuka di komunitas gay itu sendiri, lalu terbuka di kalangan teman, di kalangan keluarga, dan secara umum. Saya terbuka di komunitas sejak saya duduk di bangku SMP, setelah itu saya berusaha tegar dan berjuang untuk terbuka dengan teman saya di bangku SMA. Dan di akhir pendidikan SMA saya memberanikan diri untuk terbuka di keluarga saya. Dan di awal perkuliahan saya memberanikan diri untuk terbuka pada Januari 2007. Ada seorang wartawan dr sebuah koran Jawa Pos meminta saya untuk melakukan wawancara. Dan di bulan Februari tepatnya 28 Februari 2007 media kampus UKSW mempublis saya untuk melakukan pengakuan diri. Dan berikutnya di lakukan oleh seluruh media di seluruh Indonesia dan Dunia.
3. Apa motivasi anda untuk menjadi gay yang terbuka ?
Motivasi ini sebenarnya muncul sejak saya duduk di bangku SMA dan waktu saya terlibat di LSM GESSANG sebagai seorang volunteer. Saya termotivasi untuk terbuka karena bukan karena ikut-ikutan atau apapun. Saya juga tidak memiliki keinginan atau motivasi untuk pamer atau apapun. Tetapi saya berusaha menyadarkan masyarakat bahwa seorang gay itu ada di sekitar kita dan menjadi seorang gay atau orientasi apapun sebenarnya merupakan kebanggaan dan saya selalu berkata bahwa banggalah sengan orientasi anda. Lalu motivasi kedua saya adalah ingin membuka wacana dan pemikiran teman-teman saya secara khusus dan masyarakat dunia secara umum bahwa menjadi gay di Indonesia juga mampu untuk menunjukan ekspresinya. Bukan hanya datar-datar saja. Dan memiliki orientasi seksual apapun sebenarnya bukan menjadi penghalang untuk berekspresi. Bahkan saya waktu itu memiliki motivasi bahwa menjadi gay bukan hanya sex yang dipikirkan tetapi memikirkan bagaimana menjadi warga Negara yang mempunyai hak yang sama sebagai WNI dan mampu untuk membangun Negara ini.
4. Apakah ada peristiwa khusus yang terjadi dalam hidup anda, sehingga menjadi alasan kuat bagi anda untuk memilih menjadi seorang gay?
Tidak ada peristiwa apapun yang membuat saya menjadi gay. Semuanya kehidupan saya berjalan dengan baik. Saya merasakan bagaimana mendapatka kasih saying oleh kedua orang tua saya dan kakak saya. Bahkan saya juga merasakan bagaimana menjadi anak kecil yang manja dan sering bermain selayak laki-laki lainnya. Untuk jalan hidup saya sebenarnya baik-baik saja memang tidak ada yang special tetapi untuk anak seumur saya sebenarnya tidak ada hal menonjol juga di perjalanan hidup saya. Dengan kegiatan rutin pagi sekolah, siang pulang ke rumah kadang klayapan ke mall, sore latihan dance atau kadang les dan banyak bolosnya alasan latihan dance. Malam minggu nongkrong ma teman-teman tapi kadang diajak teman agency model juga untuk dugem. Semua berjalan dengan baik kok.
5. Apakah ada peristiwa khusus yang terjadi dalam hidup anda, sehingga menjadi alasan kuat bagi anda untuk memilih membuka diri sebagai seorang gay?
Coming Out. Merupakan sebuah perjuangan dan membutuhkan proses yang panjang. Tetapi saya juga tidak ada peristiwa yang membuat saya terbuka. Karena kapanpun dan dimanapun saya pastinya berusaha untuk tetap terbuka. Oleh sebab itu saya memberanikan diri saya sebagai seorang lelaki untuk terbuka dan mengakui kalau saya adalah seorang gay. Saya tidak mengalami peristiwa apapun disini. Semuanya baik-baik saja.
6. Apa kendala yang dihadapi anda, ketika anda memilij untuk membuka diri sebagai seorang gay?
Sebenarnya kendalanya tidak ada. Ini masalah kepercayaan diri saja. Dibutuhkan keberanian dan mempunyai dasar atau tujuan yang menjadi dasar coming out itu sendiri. Tidak ada kendala apapun yang saya hadapi untuk menjadikan saya sebagai seorang gay. Semua berjalan dengan lancar dan untuk saya jika ada pro – kontra itu hal yang biasa karena Negara ini adalah Negara demokrasi.
7. Bagaimana anda menghadapi itu?
Kalau masalah pro-kontra itu tidak perlu saya tanggapi. Biarkan masyarakat sendiri yang menilai karena pro-kontra dari masyarakat dan saya hanya ingin menyaksikan dan berbuat yang terbaik saja untuk masyarakat saja.
8. Tekanan – tekanan seperti apa yang terjadi pada diri anda yang menyebabkan anda untuk mengambil keputusan berani membuka diri ?
Tidak ada tekanan dari pihak manapun dan dalam bentuk apapun yang membuat saya membuka diri. Ini dari hati saya dan kata hati saya untuk berkata. COMING OUT…!!! to be proud of their sexuality.
9. Bagaimana anda melihat pandangan masyarakat melihat anda?
Masyarakat masih bisa terkontrol. Karena jika mereka melakukan kekerasan pastinya hokum Negara ini yang bertindak. Dalam arti saya sebagai warga Negara ini sudah menjalankan kewajiban yang sama dan seharusnya memiliki hak untuk dilindungi. Jadi, buat saya pro-kontra itu masih biasa kok.
10. Apakah keluarga mengetahuinya?Bagaimana reaksi mereka?
Keluarga sudah mengetahuinya. Pertama kali mereka dengar dari mulut saya sendiri mereka sangat kaget dan tidak menerima saya. Di rumah saya seperti terasingkan dan tidak pernah di dengar. Orang tua saya pergi dari rumah untuk menenangkan diri sendiri. Tetapi setelah beberapa hari orang tua saya sudah tahu dan semuanya berjalan normal kembali. Tetapi prose situ sangat menyakitkan dan penuh keanehan. Tanya jawab yang panjang serta dibubuhkan perdebatkan sering terjadi. Tetapi buat saya itu karena saya berusaha menjadikan pikiran mereka terbuka. Hanya satu pesan orang tua saya adalah membuat mereka bangga. Dan itu saya buktikan dengan cepat. Segala prestasi saya raih dalam 2 tahun terakhir ini. Mulai dari beasiswa dan kemandirian saya untuk tidak bergantung pada orang tua. Itulah hal yang saya lakukan. Dan memiliki usaha di dunia fashion sebagai penyaluran hobi saya dan memiliki sebuah wadah komunitas sendiri untuk memperkuat kepercayaan diri teman-teman komuitas membuat kedua orang tua saya bangga.
11. Pernahkan anda mengalami diskriminasi dari masyarakat? Contoh?
Untuk diskriminasi sebagai seorang gay selama hidup saya belum pernah saya alami. Semua berjalan baik. Tetapi saya pernah merasakan bagaimna dihina dan dicaci maki. Buat saya itu hal yang biasa, dan membuat saya semakin kuat untuk menghadapi hidup. Tetapi di tahun 2009 pertama kali saya memiliki sebuah event fashion show tunggal dalam Fashion Weeks di Salatiga berupa WORLD CULTURE FASHION CARNIVAL itulah saya memiliki banyak tekanan. Banyak hal yang saya alami. Mulai di cemooh dan dipermasalahkan karena memang waktu itu saya mengajak teman-teman komunitas untuk terlibat di dalam kegiatan itu. Saya diludahi oleh orang-orang yang mengatasnamakan agama. Bukan hanya itu saja, saya juga pernah merasakan bagaimana keadaan yang sangat mencekam saat saya dan seluruh aktivis LGBT se-Asia melakukan kegiatan di Surabaya pada tahun 2010, tepatnya pada kegiatan ILGA-ASIA. Saya terpojokkan dalam kamar hotel bersama kawan-kawan saya. FPI dan Hizbullah melakukan pengepungan dan pemberontakan di lobi hotel waktu itu. Sungguh membuat saya merasakan bagaimana saya dan teman-teman saya untuk berjuang atas hak kami sebagai WNI untuk berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Hak kami waktu itu terenggut.
12. Bagaimana anda memandang hidup anda saat ini?
Saya memandang dan mengartikan hidup saya sebagai seorang gay haruslah mempunyai arti dan berguna bagi masyarakat di sekitar kita. Itulah mengapa saya terus berjuang untuk teman-teman dan sekeliling saya. Dimana ada diskriminasi dan kekerasan pastilah saya terus menolaknya. Bukan hanya untuk lesbian, gay, biseksual, ataupun transeksual dan transgender. Seorang heteroseksual pun menjadi perjuangan saya jika hak mereka direnggut.
13. Apa pendapat anda tentang pelaku transseksual dan transgender ?
Buat saya hidup adalah pilihan. Semua sudah diatur dalam buku kehidupan kita dan yang mengatur kita adalah Tuhan bukan manusia dengan agama apapun. Jadi buat saya, menjadi transseksual dan transgender itu merupakan pilihan dari seorang manusia. Mereka memiliki hak atas seksual mereka. Karena seksual itu bukan nafsu melainkan dari hati dan pilihan. Jadi setiap gay ataupun lesbian itu juga mempunyai type pasangan yang disukainya. Tidak semuanya ingin dimiliki. Jadi jika ada teman lelaki saya yang takut karena ke’gay’an saya, maka satu hal yang menjadi pertanyaan saya adalah “lha apa kamu itu typeku? Jangan menjadi orang yang terlalu keren dan terkenal dihadapan saya. Jika mereka ini belum mampu melebihi keberanian saya.” Mungkin hal itu sedikit sombong, tetapi saya memiliki hak untuk melakukan hal itu. Karena buat saya bahwa menjadi gay itu bukan penyakit yang menular seperti flu dan lainnya. Jadi, buat saya menjadi gay itu adalah hak mereka.
14. Bagaimana anda memandang fenomena tersebut ?
Saya memandang itu semua baik adanya. Tidak ada yang salah. Dan menjadi LGBT itu juga tidak mudah semua butuh perjuangan dan masih banyak hal. Dan jika masih ada yang menyingkirkan dari kehidupannya tentang seorang LGBT dari kehidupannya itu salah. Sebenarnya mereka itu ada dan berada di sekitar kita. Mungkin ada di keluarga kita, teman kita, bahkan sahabat dekat kita. Semua tergantung kita memandang mereka seperti apa. Jangan meminta mereka berubah, tetapi mintalah kepada mereka untuk menjadi gay ataupun lesbian untuk selalu peduli dan menjadi yang terbaik.
15. Apakah anda mengetahui motivasi mengapa seorang memilih untuk menjadi seorang transgender ?
Buat saya apapun motivasi mereka menjadi playboy, transgender atau manusia seperti apapun berusaha menjadi manusia yang peduli dan bisa berarti dan berguna buat masyarakat. Memang saya tidak mengerti motivasi mereka ataupun tujuan hidup mereka. Tetapi jadilah yang terbaik dan bisa dibanggakan tanpa melakukan diskriminasi apapun.


Ditulis sebagai tugas untuk mahasiswa Fakultas Bisnis dan Ekonomi UKSW atas nama Rio angkatan 2009.

d Gading Nite Carnival, 22 Mei 2010 - "Masquerade"

Kemeriahan Jakarta Fashion and Food Festival seolah mencapai klimaksnya saat berlangsungnya Gading Nite Carnival. Inilah sebuah cerminan dari kekayaan seni kontemporer masa kini yang tak meninggalkan akar budaya muasalnya. Gading Nite Carnival merupakanBerkali-kaliRutin menggelar Gading Carnivalkarnaval di penghujung rangkaian acara Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) sekaligus menjadi malam puncak acara, rasanya wajar jika Jakarta Fashion & Food FestivalJFFF mengklaim Gading Nite Carnival sebagai satu-satunyapelopor yang memiliki karnaval meriah di malam hari. Tahun ini, acara yang selalu dipadati massa ini , yaitu Gading Nite Carnival. Gading Nite Carnival ini menjadi sebuah puncak acara sekaligus penutup dari serangkaian event hebat akbar di Jakarta Fashion & Food FestivalJFFF., yang pada Ttahun ini Gading Nite Carnival JFFF 2010 mengangkat tema “Masquerade”.
Sejalan dengan tema Masquerade yang berarti topeng, seluruh pendukung acara Gading Nite Carnival ini tampil dengan menggunakan berbagai macam jenis topeng. Sementara itu, Llayaknya sebuah karnaval, Gading Nite Carnival akan diisi oleh berbagai pertunjukkan seru dan menarik yang diikuti oleh sekitar 500 peserta, yang menampilkan m, mulai dari atraksi Eengrang, + Mmarching band anak-anak, Ccosplay parade, Float Parade, pertunjukan Street Dancerpenari jalanan yang atraktif dan membakar semangat, Cosplay parade, Oondel-ondel, parade Jember Fashion Carnaval yang memukau, partisipasi penampilanatraksi sarat kreativitas dari siswa-siswi Esmod, clown party yang mengundang tawa, adaptasi kisah rama dan shinta, parade unjuk kabisadari karyawan Summarecon dan tentunya parade iring-iringan mobil hias. Mobil hias ini yang hadir dengan tema-tema menarikmenampilkan seperti tema makanan kuliner, - buah dan sayur, tema ffashion - futuristic, tema lingkungan -Save our ocean serta tema budaya, dan ditutup dengan - Rama dan Shinta. Tak lupa pertunjukkan kembang api yang spektakuler. Beragamnya hiburan yang memanjakan mata ini sungguh sesuai untuk menjadi hiburan yang ramah bagi seluruh keluarga.

Demi menyesuaikan dengan temanya Masquerade yang berarti topeng, seluruh pendukung acara Gading Nite Carnival ini tampil dengan menggunakan berbagai macam jenis topeng. Gading Nite Carnival ini berlangsung diselenggarakan pada hari Sabtu, 22 Mei 2010, mulai pukul 18.00 WIB. Sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini Tahun ini Gading Nite Carnival berpusat di kawasan Sentra Kelapa Gading. Sehingga membuat rute yang dilaluinya berbeda dari tahun- tahun sebelumnya. Gading Nite Carnival akan start dimulai dari depan Gedung Parkir La Piazza menuju Bulevar Timur – Bunderan La Piazza – MKG 1 – MKG 2 – MKG 3 dan berakhir di depan Harris Hotel MKG 5.

Demi melancarkan kelancaran kegiatan acara ini, pada Sabtu, 22 Mei 2010 hari tersebut, mulai pukul 16.00 WIB, Jjalan yang mengitari mengelilingi Sentra Kelapa Gading akan ditutup 1 sisi. Jadi untuk Anda yang ingin menjadi saksi sejarah kemeriahan JFFF 2010, datanglah lebih awal ke Mal Kelapa Gading, karena berbagai acara menarik bisa Anda temukan selama Jakarta Fashion & Food Festival berlangsung.

03 November 2010

Memahami Homoseksualitas (Membaca Ulang Pemahaman Islam)

…Adakah Islam berbicara soal homo?
Berkaitan dengan identitas gender, Al-Qur’an hanya menyebut dua jenis identitas, yakni laki-laki dan perempuan (ar-rajul dan al-mar’ah). Sementara, literatur fikih menyebut empat varian, yaitu: pertama, perempuan (al-mar’ah); kedua, laki-laki (al-rajul); ketiga, waria atau banci (al-khunsa), dan keempat, laki-laki yang keperempuanan (al-mukhannits) atau perempuan yang kelaki-lakian (al-mukhannats).



Adapun istilah untuk perilaku seksual ditemukan kata liwath yang berarti sodomi. Menarik dicatat, bahwa kajian fikih tidak mengenal istilah untuk orientasi seksual, baik hetero maupun homo serta lainnya. Karena tidak ditemukan istilah bagi orientasi seksual dalam literatur fikih, tidak heran setiap kali pembahasan soal homo dalam fikih selalu menggunakan kata al-khunsa’(waria atau banci). Jelas sekali bahwa Bahasa Arab tidak mengenal kosa kata untuk orientasi seksual, baik hetero maupun homo dan lainnya. Lalu, bagaimana mungkin Islam yang lahir di Arab mengutuk homo? Homo berkaitan dengan orientasi seksual, sedangkan khunsa berhubungan dengan identitas gender. Penelusuran terhadap kitab-kitab fikih menyimpulkan bahwa yang dikutuk sesungguhnya adalah berkaitan dengan perilaku seksual, yakni mengekspresikan perilaku seksual dalam bentuk sodomi atau liwath dengan cara yang keji. Dan ini bukan hanya ditujukan kepada kelompok homo, juga selain homo.

Para fukaha berbeda pendapat soal hukuman terhadap pelaku liwath yang keji. Imam Syafi’i menegaskan bahwa pelaku liwath dapat dikenai hukuman hanya jika dilakukan di depan publik. Selanjutnya, al-Auza”i dan Abu Yusuf menyamakan hukuman sodomi dengan zina. Fakta sejarah tidak menjelaskan adanya kasus penghukuman atas praktek sodomi pada masa Nabi. Eksekusi pertama terhadap perilaku sodomi justru terjadi pasca Nabi. Misalnya, pada masa Abu Bakar terjadi hukuman mati terhadap pasangan pelaku sodomi. Lalu, masa khalifah Umar bin Khattab, beliau menginstruksikan agar seorang pelaku sodomi dibakar hidup-hidup. Namun, karena mendapat kritik keras, lalu hukumannya dirajam.

Secara teologis penolakan sebagian besar masyarakat Islam terhadap homoseksual dinisbahkan pada ayat-ayat Al-Qur’an yang berkisah tetang Nabi Luth as. Di antaranya, Q.S. al-Naml, 27: 54-58, Hud, 11:77-83; al-A’raf, 7: 80-81; al-Syu’ara, 26:160-175). Di samping Al-Qur’an ditemukan juga sejumlah hadis Nabi. Di antaranya, hadis riwayat Tabrani dan al-Baihaqi; Ibnu Abbas; Ahmad, Abu Dawud, Muslim dan Tirmizi. Informasi dan petunjuk yang dapat disimpulkan dari sejumlah ayat dan hadis itu sebagai berikut: Pertama, Luth adalah Nabi dan Rasul yang diutus Allah swt sebagai pembawa risalah tauhid sebagaimana nabi dan rasul lainnya. Kedua, Nabi Luth diutus kepada suatu kaum untuk mengajarkan manusia cara berketuhanan dan berkemanusiaan yang benar. Ketiga, umat Luth melakukan kezaliman, ketidakadilan, dan kedurhakaan sehingga Allah murka dan menimpakan bencana, azab, dan malapetaka yang dahsyat. Keempat, Salah satu bentuk pelanggaran kaum Luth adalah mengekspresikan perilaku seksual terlarang menurut agama; mengandung unsur kekerasan, pemaksaan, dan penganiayaan dalam bentuk sodomi. Al-Qur’an menggunakan empat kosa kata yang tidak secara langsung dapat diartikan liwath atau sodomi, yaitu al-fahisyah (al-A’raf, 7:80); al-sayyiat (Hud, 11:78); al-khabaits (al-Anbiyaa, 21: 74) dan al-munkar (al-Ankabuut, 29:21). Kelima, ada kesan bahwa pengikut Luth adalah biseksual. Sebab, dikatakan kaum laki-laki mendatangi sesama jenis dan berpaling dari isteri-isteri mereka. Umat Luth mengekspresikan perilaku seksual analseks (sodomi atau liwath) dengan cara yang amat keji dan tercela. Ada indikasi kuat telah terjadi perilaku kekerasan dan eksploitasi berbasis seksual. Keenam, Allah juga menimpakan azab pedih terhadap isteri Luth, padahal tidak ada informasi dia lesbian atau mengekspresikan perilaku seksual terlarang. Hal itu menunjukkan bahwa murka Allah kepadanya bukan karena faktor homo. Ketujuh, Laknat dan azab pedih dari Allah bukan hanya monopoli kaum Luth yang homo, melainkan juga mengenai umat nabi-nabi lainnya yang bukan homo (tidak ada informasi bahwa mereka homo), seperti umat nabi Nuh, Hud, Syuaib, Saleh, dan Musa. Bahkan, azab bagi umat Nuh jauh lebih dahsyat sehingga peristiwa itu disebut kiamat pertama. Artinya, Allah selalu murka kepada umat yang berbuat keji dan zalim serta melampaui batas, tidak peduli dengan orientasi seksual dan identitas gender mereka. Kedelapan, Meskipun dalam hadis, seperti hadis Ibnu Abbas, diperintahkan membunuh kaum homo, namun Al-Qur’an tidak menyebutkan perintah untuk mendiskreditkan kaum homo, apalagi membunuhnya. Kesembilan, Allah Maha Tahu siapa yang patut menerima azab-Nya; dan siapa pula berhak mendapatkan rahmat dan karunia-Nya (al-Ankabuut, 29:21). Manusia -apa pun orientasi seksualnya- hanya dapat berfastabiqul khairat, berlomba berbuat kebajikan seoptimal mungkin. Jadi, interpretasi tentang homo selalu dikaitkan dengan kisah Luth. Umumnya, umat Islam menganggap pemahaman itu sudah final dan mutlak, tidak dapat dipertanyakan lagi. Namun, kajian kritis akibat tuntutan dinamika masyarakat, serta penemuan sains dan teknologi membawa kepada sejumlah pertanyaan baru: Apakah pengikut Luth dilaknat hanya karena memiliki orientasi seksual homo yang tidak mungkin diingkarinya karena bersifat takdir?; atau karena mereka mengekspresikan perilaku seksual analseks secara keji, seperti sodomi? Lalu, apakah kaum homo yang tidak mengekspresikan perilaku seksual secara keji, yakni perilaku seksual yang mengandung unsur kekerasan, pemaksaan, eksploitasi dan membahayakan kesehatan, seperti sodomi, perkosaan, pedofili, berzina, melacurkan diri, dan gonta-ganti pasangan- juga tetap akan dilaknat? Apakah laknat Allah kepada kaum Luth yang homo lebih dahsyat daripada laknat Allah kepada umat nabi Nuh yang bukan homo? Sementara, Al-Qur’an mengisahkan azab dan siksaan Allah kepada umat Nuh -yang bukan homo- (tidak ada informasi mereka homo) adalah paling dahsyat sehingga disebut kiamat pertama karena memusnahkan semua makhluk, kecuali sedikit pengikut Nuh. Selain itu, pertanyaan lain: mengapa para ulama begitu antusias menceritakan kisah Luth sebagai dakwah anti homo? Penulis jadi teringat pak guru di madrasah Tsanawiyah, mendramatisasi kisah ini di dalam kelas sehingga membuat beberapa murid, termasuk penulis menggigil ketakutan dan mimpi buruk. Belakangan penulis dapat info, ternyata dia seorang homo, persisnya gay.

Adalah suatu fakta yang terang benderang bahwa tafsir keagamaan sangat dihegemoni oleh heteronormativitas, nilai-nilai patriarkal dan bias gender, yaitu ideologi yang mengharuskan manusia berpasangan secara lawan jenis; dan harus tunduk pada aturan heteroseksualitas yang menggariskan tujuan perkawinan semata-mata untuk prokreasi, menghasilkan keturunan. Akibat hegemoni heteronormativitas, nilai-nilai patriarkal dan bias gender dalam fikih, umumnya masyarakat Islam memandang seksualitas yang normal, baik, natural dan ideal adalah heteroseksual, marital, reproduktif dan nonkomersial. Sebaliknya, homo dan orientasi seksual lainnya dipandang immoral, tidak religius, haram, penyakit sosial, menyalahi kodrat, dan bahkan dituduh sekutu setan. Dalam komunitas Muslim mainstream, penolakan terhadap homo dipandang mutlak, tidak dapat dipertanyakan lagi, maka setiap upaya mengkritisi pandangan Islam soal ini, apalagi mengubahnya dianggap perbuatan melawan hukum Islam, menentang syari’ah. Alasannya, sudah merupakan ijma’(konsensus fukaha) bahwa homo hukumnya haram, pelakunya harus dihukum berat: dibunuh, dirajam atau dibakar. Titik!!!

Sejumlah pertanyaan penting muncul: Apakah umat Islam sekarang tidak boleh membaca ulang pandangan fukaha terdahulu yang begitu rigid dan kaku soal homo? Apakah tidak mungkin merumuskan kembali pandangan keislaman yang lebih akomodatif dan lebih humanis terhadap homo mengingat banyak hal telah berubah dalam realitas sosiologis, sebagai akibat kemajuan peradaban manusia dan perkembangan yang pesat dalam sains dan teknologi? Apakah mustahil umat Islam sekarang memberikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak asasi terhadap kelompok homo yang tertindas akibat orientasi seksual dan identitas gendernya? Bukankah Islam mengklaim diri sebagai agama pembawa rahmat dan janji pembebasan bagi semua kelompok mustadh’afin (tertindas) seperti dibuktikan Rasul pada masa awal perjuangannya? Bukankah Islam mengklaim diri sebagai agama penentang ketidakadilan dan semua bentuk kekerasan, pelecehan, diskriminasi, pengucilan dan stigmatisasi terhadap siapa pun? Bukankah Islam mengajarkan pemeluknya mencintai dan mengasihi sesama manusia, bahkan juga mengasihi semua makhluk?

Tawaran pembaharuan pemikiran

Umat Islam hampir sepakat bahwa ijtihad dalam arti pembaruan hukum Islam adalah suatu kebutuhan dasar, bukan hanya setelah Rasul tiada, bahkan ketika masih hidup. Hal itu mengingat Al-Qur’an dan Hadis meski mempunyai aturan bersifat hukum, namun jumlahnya amat sedikit jika dibandingkan dengan kompleksitas persoalan sosial kontemporer manusia yang memerlukan ketentuan hukum. Untuk itu, perlu sekali menggali hukum-hukum baru, sebagaimana pernah dilakukan umat Islam pada masa-masa awal, sehingga tersedia hukum Islam yang lebih responsif dan lebih akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dalam kaitan pembaharuan hukum ini penulis mengusulkan tiga prinsip berikut:

Prinsip maqashid al-syari`ah

Pembaruan hukum Islam harus tetap mengacu kepada sumber utama Islam: Al-Qur`an dan Sunnah. Penting dicatat, pemahaman terhadap kedua sumber tadi tidak semata didasarkan kepada pemaknaan literal teks, melainkan lebih banyak kepada pemaknaan non-literal atau kontekstual sambil tetap mengacu kepada prinsip maqashid al-syari`ah (memperhatikan tujuan inti syariat). Prinsip ini mengandung nilai-nilai keadilan (al-`adl), kemashlahatan (al-mashlahah), kebijaksanaan (al-hikmah), kesetaraan (al-musawah), kasih sayang (al-rahmah), keragaman (al-ta`addudiyah), dan nilai-nilai hak asasi manusia (al-huquq al-insaniyah). Berangkat dari prinsip Maqashid al-Syari`ah, Ibnu Muqaffa` mengklasifikasikan ayat-ayat Al-Qur`an ke dalam dua kategori: ayat ushuliyah yang bersifat universal karena menerangkan nilai-nilai utama Islam; dan ayat furu`iyah yang bersifat partikular karena menjelaskan hal-hal spesifik. Kategori pertama adalah ayat-ayat yang berbicara soal keadilan, sedangkan kategori kedua, ayat-ayat tentang uqubat (bentuk hukuman), dan hudud (bentuk sanksi), serta ketentuan perkawinan, waris, dan transaksi sosial. Sayangnya, umat Islam lebih menfokuskan perhatian pada ayat-ayat partikular, dan mengabaikan ayat-ayat universal sehingga sering lupa pada tujuan inti syariat, yaitu memanusiakan manusia.

Ibnu al-Qayyim al-Jawziyah, ahli fikih dari Mazhab Hanbali, merumuskan sebagai berikut: Syariat Islam sesungguhnya dibangun untuk kepentingan manusia dan tujuan-tujuan kemanusiaan yang universal, seperti kemashlahatan, keadilan, kerahmatan, dan kebijaksanaan. Prinsip-prinsip inilah yang harus menjadi acuan dalam setiap perumusan hukum Islam, dan juga harus menjadi inspirasi bagi setiap pembuat hukum. Penyimpangan terhadap prinsip-prinsip ini berarti menyalahi cita-cita hukum Islam itu sendiri. Pernyataan senada dilontarkan Ibnu Rusyd: kemashlahatan itu merupakan akar dari berbagai syariat yang ditetapkan Tuhan. Bahkan, Izzuddin ibn Abdissalam berkesimpulan bahwa seluruh ketentuan ajaran Islam harus diarahkan sepenuhnya untuk memenuhi kemaslahatan manusia.

Prinsip relativitas fiqh

Fiqih adalah formulasi pemahaman Islam yang digali dari Al-Qur’an dan Sunnah, Sifatnya relatif, tidak absolut dan dapat berubah. Sebagai hasil ijtihad atau rekayasa cerdas pemikiran manusia dalam kaitan dengan hukum, tidak ada jaminan bahwa pandangan fikih tidak mengandung kesalahan atau kekeliruan. Fikih selalu dipengaruhi faktor-faktor sosio-kultural dan sosio-historis. Oleh karena itu, fikih harus diyakini sebagai hal yang relatif, tidak absolut, dan tidak mungkin berlaku abadi untuk semua ragam manusia sepanjang masa.

Boleh jadi, suatu pandangan fikih cocok untuk suatu masyarakat tertentu, kurun waktu tertentu, namun belum tentu cocok untuk masyarakat lain, pada kurun waktu lain, yang memiliki budaya dan kebutuhan yang berbeda. Artinya, suatu pandangan fikih mungkin dapat diterima, tetapi penerimaan itu tidak harus menghalangi umat Islam bersikap kritis dan berpikir rasional. Pembaharuan hukum Islam hanya dapat terjadi jika produk fikih diperlakukan sebagai hal yang relatif. Sebab, manakala umat Islam menganggap fikih sebagai hal yang absolut akan membuat mereka berhenti berfikir rasional dan bersikap kritis. Selanjutnya, umat Islam akan terjebak dalam kejumudan berpikir dan pada gilirannya akan membuat mereka terbelakang dalam seluruh bidang kehidupan, sebagaimana terjadi pada masa sekarang.

Perlu dipahami bahwa seorang faqih, seobyektif apa pun dia, akan sulit melepaskan diri dari pengaruh budaya, hukum dan tradisi yang berkembang pada masa atau lingkungan di mana dia hidup. Karena itulah, pembukuan pendapat-pendapat fiqh dalam suatu masyarakat yang bias gender tentu akan melahirkan kitab-kitab fiqh yang memuat pandangan-pandangan keagamaan yang tidak ramah terhadap perempuan (missoginis). Demikian pula, pembukuan pendapat-pendapat fiqh dalam suatu masyarakat hetero yang homofobia (anti homo) tentu akan melahirkan kitab-kitab fiqh yang memuat pandangan-pandangan keagamaan yang diskriminatif terhadap kelompok homo.

Prinsip tafsir tematik

Al-Qur’an dan Sunnah sarat dengan muatan nilai-nilai luhur dan ideal, hanya saja ketika nilai-nilai itu berinteraksi dengan beragam budaya manusia terjadi sejumlah distorsi, baik sengaja maupun tidak. Pemahaman yang distortif itu muncul, antara lain karena perbedaan tingkat intelektualitas; dan pengaruh latar belakang sosio-kultural dan sosio-historis. Di samping itu, teks-teks suci itu sendiri mengandung makna-makna literal dan simbolis. Kosa kata bahasa Arab sebagai bahasa teks-teks suci dikenal sangat kaya makna sehingga satu kata dapat memiliki sejumlah penafsiran berbeda tergantung konteksnya. Oleh karena itu, perlu sekali menggunakan metode tafsir tematik dalam memahami sebuah isu dalam Al-Qur’an, termasuk isu seksualitas.

Kajian terhadap metode tafsir tahlily yang selama ini banyak dipakai menyimpulkan sedikitnya lima kekurangan. Pertama, penafsiran tersebut sangat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan sektarian (al-ta’milah al-‘ashabiyah). Kedua, produk pemahaman keagamaan yang dihasilkan oleh model penafsiran ini kelihatan mengada-ada. Ketiga, penafsirannya amat diwarnai oleh pandangan non-Islam, seperti pandangan isra’iliyat atau dipengaruhi tradisi Judeo-Kristiani kuno. Keempat, kemukjizatan Al-Qur’an (I’jaz) cenderung diabaikan dalam tafsir konvensional ini. Terakhir, keunikan dan kedahsyatan retorika Al-Qur’an luput dari pengamatan para mufasir yang memakai metode tradisional ini.

Oleh karena itu, ditawarkan sebuah solusi penafsiran yang disebut penafsiran tematik dengan inductive method. Metode penafsiran ini dibangun berdasarkan teori yang meyakini bahwa seluruh isi Al-Qur’an merupakan satu kesatuan yang integral, utuh dan tidak terpisahkan. Prinsipnya adalah satu bahagian dalam Al-Qur’an menjelaskan bahagian lainnya (Al-Qur’an yufassiru ba’duhu ba’dan). Prinsip-prinsip dasar dari metode penafsiran tematik sesungguhnya sudah populer digunakan di masa sahabat dengan istilah tafsir bi al-ma`tsur. Para mufassir hendaknya memahami Al-Qur’an berdasarkan informasi yang terkandung di dalam diri Al-Qur’an itu sendiri, bukan berdasarkan pandangan atau ajaran dari luar Al-Qur’an. Karena itu, penting sekali pemahaman terhadap kata, kalimat dan struktur bahasa Al-Qur’an. Pola tafsir tematik mengunakan tiga pendekatan. Pertama, menekankan pentingnya memahami arti bahasa kata-kata Al-Qur’an (lexical meaning of any Qur’anic word). Pemahaman terhadap makna asli kata-kata dalam teks Al-Qur’an akan sangat membantu mufasir memahami tujuan makna (al-ma’na al-murad) sesuai dengan asbab nuzul ayat. Kedua, menyelidiki serta menyeleksi semua ayat yang berhubungan dengan tema pokok yang dibahas. Dengan prinsip ini, Al-Qur’an diberi kebebasan dan otonomi untuk berbicara tentang dirinya sendiri sehingga dihasilkan penafsiran yang objektif, bukan penafsiran subjektif yang mungkin sarat dengan muatan politis dari para mufasirnya. Ketiga, dalam rangka memahami kata, kalimat dan struktur bahasa Al-Qur’an harus ada kesadaran untuk mengakui adanya teks-teks agama yang turun dalam konteks tertentu atau khusus (as-siyaq al-khas) dan yang turun dalam konteks yang lebih umum (as-siyaq al-am). Dengan kata lain, sebuah penafsiran harus dilakukan dengan pendekatan tekstual dan kontekstual sekaligus.

Beragamnya penafsiran dalam memahami teks-teks suci merupakan keniscayaan, dan itulah agaknya maksud hadis Nabi: “Ikhtilaf ummati rahmah” (Perbedaan pendapat di antara umatku merupakan rahmat). Untuk itu, dibutuhkan kearifan, ketelitian, dan sikap demokratis dalam memahami teks-teks suci, khususnya berkaitan dengan isu seksualitas. Dengan kata lain, penafsiran baru mendesak dilakukan, demi menemukan kembali pesan-pesan moral keagamaan yang menjanjikan rahmat bagi seluruh makhluk.

Dengan berdasarkan tiga prinsip itulah perlu membaca ulang pemahaman Islam tentang homo. Jika para ulama terdahulu telah memberikan kontribusinya yang positif dalam perumusan hukum Islam dan pemahaman keislaman secara umum, termasuk soal homo, mengapa ulama sekarang tidak dapat melakukan hal serupa? Penulis khawatir, ada ketidaksiapan mental dan ketakutan psychologis yang sangat besar. Sebab, reinterpretasi terhadap pemahaman Islam soal homo pasti akan mengubah bangunan sistem hukum Islam yang selama ini dianggap sudah mapan dan tidak dapat dipertanyakan lagi. Selain itu, reinterpretasi pemahaman Islam soal homo akan mendekonstruksikan sejumlah konsep hukum Islam yang selama berabad-abad dianggap baku, terutama berkaitan dengan keluarga dan perkawinan. Wallahu a’lam bishawab. In urîdu illa al-ishlâh mastatha’tu. Wa mâ tawfîqiy illâ billâh.

Tokoh-Tokoh Terkemuka : GLBT, Jangan Bunuh Diri!



Para pemimpin rohani menyuarakan pendapat mereka dalam sebuah proyek video baru yang tergabung di dalamnya para artis dan tokoh politik yang meyakinkan para gay yang dianiaya bahwa ‘kondisi sekarang sudah lebih baik’. Dalam video pesan tersebut, Evangelical Gereja Lutheran di Amerika memberitahu para korban yang dianiaya bahwa Tuhan mencintai mereka.

“Saya mendengar dengan sakit dan kaget bahwa banyak anak muda yang bunuh diri karena mereka dianiaya dan disiksa, hanya karena mereka berbeda, menjadi gay atau mengakui gay,” kata Rev. Mark S. Hanson. Dia menekankan, “Engkau dikasihi Tuhan. Hidupmu membawa martabat dan keindahan sebagai ciptaan Tuhan. Ada tempat untukmu di dunia ini dan di dalam gereja.”

“Kadangkala, kata-kata dari saudara-saudara Kristen dapat melukai Anda dan saya tahu bahwa diamnya kami dapat membuat Anda terluka,” kata Hanson, yang denominasinya mulai menerima gay secara terbuka tahun lalu.

Proyek ‘It Gets Better’ ini didirikan oleh pastor Katolik Dan Savage. Menurut proyek tersebut, 9 dari 10 murid GLBT (gay, lesbian, biseksual, dan transgender) pernah mengalami kekerasan di sekolah dan lebih dari 1/3 mereka mencoba untuk bunuh diri. Penyediaan dukungan proyek untuk para anak muda GLBT ini, ada belasan video yang dibuat dan menampilkan tokoh terkenal yang memberikan harapan dan menceritakan kisah bagaimana bisa terbebas dari penganiayaan dan menemukan kebahagiaan.

Beberapa di antara mereka yang pernah ada di video ini yaitu Jewel (penyanyi terkenal), Eve, dan Emily dan Martie dari Dixie Chicks, Sekretaris Negara Hillary Clinton, Juru Bicara Gedung Nancy Pelosi, dan Rady Roberts Potts, cucu pembicara di televisi yang bernama Oral Roberts.

Presiden Barack Obama juga menambahkan bahwa dia mendukung proyek ini. Dengan terkejut dan sedih, ketika Obama mengetahui peristiwa bunuh diri oleh gay ini mengatakan, “Hal ini mematahkan hati saya. Hal ini bukanlah sesuatu yang seharusnya terjadi di negara ini. Ketika Anda dianiaya, kelihatannya Anda memang berbeda atau tidak sesuai dengan orang lain, tapi apa yang ingin saya katakan adalah ini : Anda tidak sendiri. Anda tidak melakukan sesuatu yang salah.”

Gene Robinson, seorang Uskup Episcopal New Hampshire, menunjuk secara jelas pesannya kepada Katolik Roma, Southern Baptists dan Mormon yang mengatakan kepada gay bahwa hidup mereka tidak diterima oleh Tuhan. “Saya ingin memberitahu Anda sebagai orang yang rohani, mereka semua salah. Tuhan mencintai Anda sebagaimana Anda adanya,” kata uskup yang juga menjadi gay tersebut. Videonya ini mengundang kontroversi karena dia menyerang grup agama yang lainnya tersebut.

Menanggapi hal ini, Greg Kandra, seorang Katolik Roma di Diocese Brooklyn, New York mengatakan dalam blognya, beliefnet, “Robinson berhak atas pendapatnya sendiri, dan atas teologi moralnya. Kami bisa saja tidak setuju dengan kesimpulannya. Tapi saya tidak bisa menghargai caranya yang salah dalam menggambarkan moral pengajaran kepada yang lain,” kata Greg.

Sejak bunuh dirinya para gay belakangan ini, banyak orang yang mempersalahkan gereja karena ‘anti gay’ mereka. Menurut Jim Daly, pemimpin dari Focus on the Family, percaya bahwa umat Kristen tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas tragedi yang terjadi ini karena gereja dan organisasi karena Injil sendiri menempatkan kegiatan homoseksual di luar rancangan Tuhan untuk seksualitas manusia. Tapi dia percaya umat Kristen, harus mempraktikkan solusi yang tepat dalam memperlakukan orang lain.

“Jika ada satu wacana emas yang dikemukakan melalui Injil dan iman, adalah ini : ketika menyangkut hak manusia dan bagaimana cara memperlakukan seorang dengan yang lain, tidak ada orang yang lebih tinggi ataupun lebih rendah derajatnya. Ya, dosa itu tetap ada dan Tuhan tidak bisa mengampuni itu. Tapi Dia meraih orang yang berdosa, yang itu berarti setiap dari kita,” tulisnya dalam sebuah blog di CNN.

“Jadi, jika merusak martabat orang lain, baik dalam bentuk apapun itu, hal ini bertolak belakang dengan kehidupan yang berpusat pada Injil. Dan jika ada anggapan bahwa kaum ortodoks meminta umat Kristen untuk melakukan kekerasan melawan homoseksual adalah sesuatu yang salah dimengerti.”

Analisa Tafsir Ayat-Ayat Homoseksual Dalam AL Qur’an

SALAH satu hambatan terbesar dalam advokasi hak-hak homoseksual adalah tafsir homofobia terhadap ayat-ayat Alquran yang bercerita tentang hubungan seksual sesama jenis.

Tafsir model ini merupakan tafsir literal yang menegasikan sisi sosial-kultural- politik di balik difirmankannya ayat-ayat itu. Padahal, Alquran, seperti ditunjukkan dengan adanya asbab an-nuzul, mengekspresikan situasi sosial tertentu yang mengilhami ayat-ayat itu diwahyukan, dan selalu menyertakan faktor sosial-kultural ini dalam proses pewahyuannya itu. Ada sekitar 85 ayat dalam 12 surat yang terdapat dalam Alquran yang bercerita mengenai Kaum Lut (the People of Lot), sebagai “ilustrasi” komunitas homoseksual dalam sejarah umat manusia. Karena penggambaran Alquran mengenai orang-orang Lut yang (seakan-akan) homofobia itulah, umat Islam menjadi sangat percaya bahwa agama penuh kasih ini melarang hubungan sesama jenis; dengan cerita ini pula, umat Islam menyandarkan legitimasi teologisnya untuk “menghukum” dan memperlakukan secara diskriminatif mereka yang terlibat dalam pengalaman hubungan sesama jenis.

Bagaimana mencari solusi terhadap problem teologis ini? Yang paling penting dan utama adalah mencoba menerapkan pendekatan kontekstual terhadap ayat-ayat tersebut; “membayangkan” situasi sosial-kultural pada saat ayat-ayat itu diwahyukan. Pertama, dalam pendekatan ini, kita perlu menekankan bahwa Alquran bukanlah buku atau kitab sejarah (historical book). Alquran adalah kitab suci agama (religious book atau holy book). Apa implikasi dari cara pandang ini? Karena Alquran bukan buku atau kitab sejarah, maka beragam cerita dan kisah dalam Alquran tidak selalu terjadi secara faktual. Tidak seperti buku sejarah yang merupakan hasil observasi dan analisis historis, berbagai kisah dalam Alquran (hanya) merupakan ilustrasi sosial-politik- kultural sebuah kondisi masyarakat tertentu yang kejadian aslinya tidak selalu “akurat” dideskripsikan oleh Alquran itu.

Salah satu contoh saja adalah kisah “pengusiran” Nabi Adam dan Siti Hawa dari swargaloka. Karena Alquran bukan kitab sejarah, maka kisah “pengusiran” Adam dan Hawa di situ merupakan ilustrasi karikaturistik tentang “balasan” Tuhan bagi umat-Nya yang mencoba tidak taat terhadap perintah-Nya. Karena Alquran bukan kitab sejarah, maka kejadian tersebut tidaklah benar-benar terjadi secara nyata dan faktual.

Sementara, karena Alquran adalah kitab suci agama atau kitabullah, maka upaya manusia untuk memahami isinya tidak bisa dilepaskan dari keharusan melakukan penafsiran. Kita membutuhkan penafsiran untuk bisa “menerapkan” firman-firman Allah itu. Karena manusia bukan Allah, maka yang kita fahami dari ayat-ayat dalam Alquran adalah pemahaman manusiawi, yang (bisa jadi) tidak sepenuhnya memenuhi tujuan teologis yang ditetapkan Allah. Dalam bahasa yang lebih singkat, Alquran adalah kitabullah, sementara proses pemahaman terhadap Alquran adalah proses manusiawi, di mana logika kemanusiaan berperan penting dalam proses pemahaman itu. Dengan landasan ini pula, menurut saya, cerita mengenai Kaum Lut yang dibinasakan oleh Allah karena terlibat dalam hubungan seksual sesama jenis dalam kenyataan faktualnya tidak terjadi demikian.

Kisah itu merupakan ilustrasi sebuah kelompok masyarakat yang tidak sudi tunduk terhadap ajaran ketuhanan dan kenabian serta menolak visi dan misi kenabian yang dibawa oleh Nabi Lut utusan-Nya. Faktanya, dalam kisah mengenai hubungan sesama jenis yang dilakukan oleh orang-orang Lut, Alquran juga bercerita mengenai perilaku buruk mereka yang lain, seperti merampok, bergunjing, mabuk-mabukan; gambaran masyarakat yang tidak tertib, tidak “berperaturan”.

Namun, penafsiran-penafsiran yang homofobia akan langsung menunjuk kalau mereka dihancurkan karena perilaku homoseksualitasnya itu. Padahal, sangat mungkin mereka dihancurkan lebih karena perilaku negatifnya yang lain serta penentangannya terhadap misi kenabian Lut. Yang kedua, menurut saya, sangat tidak “Islami”, dalam artian bertentangan dengan misi Islam sebagai agama damai, agama penuh kasih, agama yang disebarkan dengan cara-cara tanpa kekerasan, agama kaum terpinggirkan, jika Islam “semena-mena” menghancurkan orang-orang Lut karena alasan mereka terlibat dalam hubungan seksual sesama jenis. Padahal, Islam sendiri “belum pernah memberikan ajaran dan “pelajaran” mengenai masalah ini.

Bagaimana mungkin, sesuatu yung belum diajarkan kebaikan dan keburukannya menjadi target “pembinasaan” seperti itu? Mungkin hal ini bisa diterima oleh akal sehat kita jika sejak awal Islam memang lebih ingin menggambarkan diri sebagai agama penuh kekerasan, agama tanpa toleransi. Tetapi, Islam yang saya yakini, adalah Islam rahmatan lil ‘alamin, Islam pembawa misi kasih dan damai bagi seluruh umat. Karena itu kisah pembinasaan orang-orang Lut dengan alasan terlibat hubungan homoseksualitas menjadi tidak masuk akal keislaman saya dan bertentangan dengan logika Islam rahmatan lil’alamin itu. Yang ketiga, istilah homoseksual adalah penemuan modern untuk mendefiniskan hubungan seksual sesama jenis kelamin. Hubungan seksual homoseksual berbeda dengan hubungan seksual heteroseksual, yang berlawanan jenis kelamin. Yang menjadi janggal, istilah modern ini juga diterapkan untuk menyebut perilaku seksual orang-orang Lut, untuk menguatkan pandangan homofobia berdasarkan ajaran keagamaan, termasuk Islam. Padahal perilaku seksual orang-orang Lut itu berbeda dengan hubungan sesama jenis di masa modern ini. Contohnya saja, seperti disebutkan dalam salah satu ayat, Ata’tuna adz-dzukran fi al-‘alamin, “Apakah kamu (laki-laki) mendatangi (approaching) laki-laki (lain) yang ada di jagat raya ini?” (QS. Asy-Syuara [27]: 165). Dalam ayat tersebut, Alquran menggunakan kata al-‘alamin, alam raya. Artinya, dalam pemahaman saya, orang-orang Lut itu juga terlibat dalam hubungan sesama jenis dengan spesies lain, selain manusia, seperti dengan binatang, dan benda-benda lain yang menggambarkan maskulintas (ad-dzakr), termasuk batu-batuan dan pepohonan. Karena itu, dalam pemikiran saya, perilaku seksual Kaum Lut lebih dari sekedar perilaku homoseksualitas dalam definisi masyarakat kontemporer sekarang ini. Karena beda, maka tidak seharusnya menjadikan cerita orang-orang Lut untuk bertindak tidak adil dan menghalalkan kekerasan terhadap kaum gay.

Keempat, ilustrasi homofobia dalam cerita Kaum Lut yang diangkat Alquran itu terkait dengan politik pencitraan teologi Islam (the politics of Islamic theology). Sebagai agama dan kepercayaan baru, Islam tentu saja berkeinginan menghadirkan sebuah citra sebagai agama yang berbeda, yang lebih baik, dari praktik keagamaan yang berkembang di masa sebelumnya. Cerita pembinasaan Kaum Lut, menurut saya, terkait dengan politik pencitraan ini. Islam ingin mencitrakan diri sebagai agama yang “bersih” dari pengaruh praktik-praktik keagamaan, kegiatan ritual, yang dilakukan kelompok masyarakat sebelum Islam. Politik pencitraan ini sangat penting untuk menarik minat dan ketertarikan publik terhadap Islam, sehingga akan lebih banyak orang memeluk agama baru ini.

Berbagai kajian sejarah menyebutkan kalau masyarakat purba dan masyarakat pra Islam sangat kuat memasukkan unsur pengalaman seksual ke dalam ritual keagamaan mereka. Seorang lelaki tokoh “agama” purba sangat biasa melakukan praktik ritual keagamaan dengan cara menyetubuhi anak lelaki untuk mencapai orgasme teologisnya. Praktik seksual ala orang-orang Lut adalah cerita lain bagaimana unsur pengalaman seksual terkait dengan pandangan dan praktik agama tertentu, dalam sebuah periode sejarah manusia. Nyatanya, seperti saya pernah menuliskannya dalam sebuah artikel “Changing Needed to Islamic Views on Homosexuality” di Jakarta Post, para filsuf Yunani semacam Plato dan Socrates juga terlibat dalam pengalaman seksual sesama jenis ini, yang menandakan adanya sebuah kondisi sosial yang sangat terbuka dan “melumrahkan” praktik-praktik ini.

Dalam politik teologi Islam yang ingin murni dari pengaruh praktik keagamaan ala masyarakat pra Islam itulah cerita tentang Kaum Lut ditonjolkan dalam Alquran, sebagai strategi bagi penguatan citra bahwa Islam adalah agama yang lebih baik, dan “bersih” dari pengaruh praktik-praktik keagamaan masyarakat sebelumnya. Karena itu, konteks cerita ini bukan dalam hal membinasakan orang-orang dengan perilaku seksual seperti Kaum Lut itu, tetapi dalam rangka menegakkan wajah dan identitas Islam yang bersih-putih dari pengaruh keagamaan orang-orang itu. Karena logika kontekstual inilah, sangat tidak beralasan menggunakan cerita orang-orang Lut untuk melakukan diskriminasi terhadap kelompok homoseksual. Apalagi, kondisi kontemporer yang lebih menuntut kapasitas dan kualitas, politik pencitraan sudah tidak dibutuhkan. Penguatan kapasitas dan kualitas diri setiap individu Muslim jauh dibutuhkan agar Islam bisa menyumbang di berbagai perkembangan zaman demi peningkatan kualitas hidup manusia.

Terakhir, kebutuhan untuk menggunakan pendekatan kontekstual terhadap ayat-ayat homoseksual bukan tanpa alasan. Seperti sedikit disebut di atas, pewahyuan ayat-ayat Alquran memiliki konteks sosial-kultural, dan Alquran tidak resik dari pengaruh sosial-budaya itu. Contoh jelas, cerita tentang hubungan seksual sesama jenis dalam Alquran itu lebih banyak menekankan pada kisah hubungan seksual antara laki-laki dan laki-laki (men who have sex with men), dan tidak banyak bertutur tentang hubungan sesama jenis antara perempuan dan perempuan (women who have sex with women). Karena Alquran sangat terpengaruh cara pandang sosial-budaya patriarkhal, perspektif sosial-budaya yang dominan di saat ia diturunkan, maka, mengikuti cara pandang dominan itu, ayat-ayat tentang hubungan seksual sejenis itupun lebih banyak menekankan hubungan di antara laki-laki, dan “menyembunyikan” hubungan seksual sejenis di kalangan perempuan. Atas dasar pandangan-pandangan di atas, saya lebih percaya kalau Islam tetap merupakan sebuah agama rahmatan lil’alamin, agama penuh kasih termasuk terhadap kelompok homoseksual. Saya juga lebih percaya, kalau sikap homofobia di kalangan muslim selama ini lebih karena mereka menomorsatukan pendekatan literal terhadap ayat-ayat Alquran tentang Kaum Lut itu, yang mengabaikan sisi sosial-kultural- politik di balik ayat-ayat itu. Dengan dasar pandangan ini pula, tidak perlu takut dianggap melakukan dosa (fakhisyah) atau melanggar moral ketika kita hendak menjalin hubungan seksual sesama jenis. Semoga, pandangan dalam tulisan ini, bisa menjadi alternatif cara pandang keislaman kita terhadap hubungan seksual sesama jenis, selain jalan literal yang nyatanya memunculkan wajah Islam yang tidak adil terhadap kelompok homoseksual. Wallahu’alam.*** *)

Farid Mutaqqin adalah alumnus Pesantren Darussalam, Ciamis, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Ohio University, Athens, Amerika Serikat. Pernah aktif di PUAN Amal Hayati, Jakarta. Ia juga mengelola forum diskusi online tentang isu-isu jender dan perempuan, dan berbasis di Banda Aceh.

29 Oktober 2010

Korban Jiwa Tsunami Mentawai Hampir Tembus 400 Orang




REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Staf Khusus Presiden bidang Bencana dan Bantuan Sosial, Andi Arief, mengatakan saat ini korban jiwa akibat bencana tsunami di Mentawai, Sumatera Barat mencapai 394 orang. Sementara, korban yang mengalami luka berat sebanyak 267 orang, sedangkan luka ringan 142 orang.

Jumlah pengungsi yang berada di titik-titik lokasi pengungsian tercatat 12.865 orang. "Data diperoleh dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Sumatera Barat pada pukul 08.00 WIB," kata Andi melalui pesan singkat, Jumat (29/10).

Saat ini, Andi bersama asistennya berada di Padang setelah meninjau Mentawai. Dia juga memberi perkembangan jumlah korban bencana letusan Gunung Merapi di Yogyakarta. Korban jiwa sudah tercatat sebanyak 33 orang dan luka sebanyak 10 orang. "Jumlah pengungsi di Kabupaten Sleman sebanyak 17.776 orang dan Kabupaten Magelang sebanyak 13.757 orang," kata Andi.

Ponimin, Seorang pengganti sosok Mbah Maridjan

Sepeninggal Mbah Maridjan, praktis kini tak ada lagi seorang yang kini bertugas sebagai juru kunci dan 'menjaga' Gunung Merapi. Namun, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas dari Keraton Yogyakarta Hadiningrat telah meminta agar seorang pria bernama Ponimin, tetangga almarhum Mbah Maridjan, yang selamat dari letusan Gunung Merapi menjadi penunggu gunung tersebut.

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas mengatakan hal itu ketika mengunjungi Ponimin yang mengungsi di rumah kerabatnya di Dusun Ngenthak, Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (28/10).

"Yo wis, kowe saiki sing tunggu Merapi (ya sudah kamu sekarang yang menunggu Merapi)," kata GKR Hemas kepada Ponimin usai mendengarkan cerita Ponimin bersama istrinya perihal bagaimana keluarga tersebut menyelamatkan diri dari letusan Gunung Merapi.

Namun saat itu, Ponimin tidak segera menyanggupi permintaan GKR Hemas dan mengatakan bahwa dirinya tak bisa memberikan jawaban saat ini, dan hal itu bisa dipahami oleh GKR Hemas.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) ini mengunjungi tempat tinggal sementara Ponimin di Desa Umbulmartani Kabupaten Sleman bersama empat anggota DPD RI yakni Hafidh Asrom, Bambang Suroso, Supardi, dan Nurmawati. (antara/bun)

Misteri Sosok Gaib Sebelum Letusan Merapi



TEMPO Interaktif, Sleman - Sosok misterius itu muncul beberapa saat sebelum Merapi memuntahkan isi perutnya, Selasa (26/10/2010) lalu. Ponimin --orang yang diminta GKR Hemas menjadi juru kunci Merapi menggantikan Mbah Maridjan-- dan istrinya sedang duduk di ruang tamu rumahnya yang terletak di Dusun Kinahrejo atau kurang lebih 100 meter dari rumah Mbah Maridjan.

Ponimin, 50-an tahun, memegang gepokan uang sebesar Rp 25 juta. Dari jumlah itu, Rp 15 juta diberikan isterinya untuk membayar hutang bisnis kayu yang ditekuninya selama ini. Sedangkan sisanya, Rp 10 juta baru saja akan dimasukkan ke tas ketika suara gemuruh tedengar dari Merapi.

Ponimin dan istrinya bangkit dari duduknya. Bukan untuk mengungsi. Ponimin bergegas menuju kebun untuk mengambil daun awar-awar dan dadap serep. Dua daun itu dipercaya bisa digunakan untuk tolak bala. Sedangkan istrinya, Yati, keluar rumah membaca ayat suci al Qur’an.

Saat itulah, Yati berkisah, dirinya dikejutkan kemunculan sosok misterius. "Tiba-tiba ada sosok tua berpakaian Jawa berdiri di depan saya. Orang itu mengatakan akan mengobrak-abrik keraton Yogya,” cerita Yati kepada GKR Hemas yang menemuinya di rumah pengungsiannya di Dusun Ngenthak, Kelurahan Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Kamis (28/10) siang.

Dengan sedikit gemetaran Yati pun mencegah keinginan sosok orang tua gaib itu. "Ojo (jangan),” kata Yati.

Sosok orang tua dengan api menyala-nyala di belakangnya itu kemudian menghilang. Yati pun masuk ke dalam rumah karena dari atas Gunung Merapi ia melihat ada api yang meluncur ke bawah. Pun Ponimin. Keduanya pun berlindung di dalam rumahnya bersama anak-anaknya. Mereka bersembunyi di dalam kamar.

Hawa panas tiba-tiba menerjang disertai angin kencang dan debu. Di dalam rumah, keluarga ini masuk ke kamar dan berlindung di balik rukuh (mukena) milik Yati.

“Kami selamat, meski api berkobar-kobar di sekeliling kami. Atap rumah beterbangan. Kaca-kaca jendela pecah,” cerita Yati.

Setelah awan panas reda, mereka bergerak ke luar rumah. Namun tanah yang diinjak terasa panas. Mereka berhasil naik mobil di halaman rumah yang selamat dari amukan awan panas. Namun baru berjalan beberapa meter, ban mobil pecah karena meleleh. Mereka kembali masuk rumah.

Di dalam rumah mereka mengumpulkan tujuh bantal dan satu sajadah. Benda-benda itulah yang kemudian dijadikan “jembatan” untuk keluar dari rumah, menuju tempat aman.

Agak jauh dari rumah, mereka ditolong Tris, tetangganya yang juga selamat dan kemudian dilarikan ke RS Panti Nugroho di Pakem. Rukuh yang menyelamatkan nyawa Ponimin dan keluarganya itu kini disimpan. “Sudah ada yang nawar Rp 40 juta. Namun tidak saya kasih,” kata Yati.

Ponimin dan keluarga memilih kini mengungsi di rumah dokter Anna Ratih Wardhani di Dusun Ngenthak, Kelurahan Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman hingga saat ini. Selama mengungsi, dokter Anna merawat luka bakar di telapak kaki Ponimin. Akibat kedua telapak kakinya yang melepuh, Ponimin hingga saat ini hanya bisa duduk dan berbaring di kasur.

Di pengungsian ini, Yati masih bertanya-tanya, siapa gerangan sosok orang tua misterius yang muncul sebelum Merapi mengamuk itu.

27 Oktober 2010

Abu Merapi Sampai ke Pangandaran



Jakarta - Meskipun berjarak sekitar 795 kilometer dari Yogyakarta, abu Gunung Merapi ternyata mampu mencapai Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat. Gerimis abu Merapi sempat melanda Pangandaran tengah malam tadi.

"Abu tidak begitu kelihatan. Bentuknya seperti gerimis, turun tengah malam, sekitar 1 jam," ujar salah satu pembaca detikcom, Taopik, melalui fasilitas Info Anda, Rabu (27/10/2010).

Akibat abu tersebut, genteng dan pohon-pohon menjadi kotor. "Saat itu tebalnya kira-kira 1 cm," terangnya.

Namun demikian, hal ini tak berlangsung lama. Hujan kemudian turun dan abu menjadi tipis.

"Kalau sekarang bentuknya abu kecil seperti debu. Belum terlalu mengotori pernapasan. Pandangan mata tidak terganggu," ucapnya.

Kali ini merupakan pertama kalinya abu Merapi sampai ke Pangandaran. Saat Merapi meletus tahun 2006 lalu, abunya tidak mencapai daerah yang terletak di Jawa Barat ini.`

"Tahun 2006 tidak sampai ke sini, baru kali ini," tandasnya.

Abu Merapi juga berhembus ke Gombong (Kebumen) dan Cilacap.

Letusan Merapi Bersifat Eksplosif, Sebabkan Banyak Korban Tewas



Yogyakarta - Jumlah korban tewas akibat awan panas (wedhus gembel) Gunung Merapi, sedikitnya 19 orang, kemarin lebih besar dibandingkan peristiwa letusan Merapi 2006 lalu. Sebab letusan 2010 lebih besar daripada 2006 yang menewaskan 2 orang.

"Dulu 2006 letusan Merapi masih tergolong normal. Sedangkan 2010 kemarin letusan Merapi berjenis eksplosif," kata kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), Subandriyo, saat berbincang dengan detikcom, Rabu (27/10/2010).

Indikasi letusan eksplosif, dia melanjutkan, sudah terlihat dengan fenomena gelombang awan panas yang mengarah ke dusun sekitar Merapi. Ditambah lagi dengan dentuman yang beberapa kali terdengar saat erupsi terjadi.

"Jalur ke Kali Kuning itu yang paling rawan meski selama ini di situ relatif aman," tutur Subandriyo.

Dia menampik jika korban tewas tersebut dikarenakan tidak ada peringatan dari pihak berwenang kepada masyarakat. "2-3 hari sebelum letusan sudah disosialisasikan ke warga dan meminta mengungsi, karena sudah diperkirakan berbahaya dengan status awas," sanggahnya.

Menurut Subandriyo, kondisi Merapi saat ini relatif aman dibandingkan dengan hari kemarin. Proses evakuasi masih dilakukan tim SAR di Desa Kinahrejo, Cangkringan, Sleman. Desa ini merupakan kampung Mbah Mardjan. Di desa ini sekitar 16 jenazah ditemukan hingga semalam, belum termasuk Mbah Maridjan yang ditemukan tadi pagi.
(ahy/nrl)

06 Oktober 2010

Satya Wacana Carnival akan tampil di Jogja Java Carnival 2010



Dalam rangka melakukan promosi Satya Wacana Carnival yang memasuki tahun kedua ini, SATYA WACANA CARNIVAL akan terlibat dalam perhelatan akbar Ulang Tahun Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di tahun 2010. Dalam perhelatan yang bertajuk "HARMONIGHT', Satya Wacana Carnival akan menampilkan 20 talent / model dari mahasiswa UKSW yang tergabung dalam Satya Wacana Carnival Community. seluruh model akan dibagi dalam tiga bagian yaitu Guest Arrival, Garuda Indonesia, dan Fire. 20 Talent dari Satya Wacana Carnival ini akan bergabung dengan seluruh talent Jogja Java Carnival. Kegiatan ini akan berlangsung pada tanggal 16 Oktober 2010 pukul 19.00 wib dan berada di jantung kota Yogyakarta yaitu Jalan malioboro hingga Kraton Yogyakarta. Saksikan kami dalam seluruh paduan fashion, koreografi, makeup, hairstyle, dan runway yang dikemas secara apik!!!!

29 September 2010

Festival Mata Air 2010



Sebagai bentuk dukungan kepada program komunitas Tanam Untuk Kehidupan Salatiga. Yang akan menggelar acara FESTIVAL MATA AIR 2010 yang diselenggarakan pada tanggal 1 - 3 Oktober 2010 di Kampung Seni Lerep, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Maka Satya Wacana Carnival akan ikut terlibat dalam performing FASHION CARNIVAL pada tanggal 1 Oktober 2010. Dalam acara ini Satya Wacana Carnival akan menampilkan 4 model dalam 3 kostum yang berbeda. 1 kostum berupa kostum kecintakan dan suasana biru laut dan langit yang selalu indah. ditambah 2 kostum garuda Indonesia sebagai lambang Negara Indonesia. dan 1 buah kostum bertema Api sebagai kekuatan dan pengobar semangat saling memahami lingkungan. Selamat menyaksikan....

PAWAI BUDAYA SATYA WACANA CARNIVAL 2010



Penyerahan wayang secara simbolis oleh Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Prof. Pdt. John A. Titaley, Th.D kepada Adita Sutresno, S.Si., M.Sc ketua panitia Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) 2010 menjadi tanda dibukanya acara Pawai Budaya Program OMB UKSW 2010, Sabtu siang (25/9).

Lebih dari 1500 mahasiswa baru mengikuti pawai budaya kemarin. Berbagai kostum hasil kreativitas mahasiswa baru dengan mengangkat sub tema Garuda Indonesia dan Api disuguhkan dalam pawai tersebut.

Lima etnis yang menggambarkan kemajemukan budaya di UKSW meliputi etnis Batak, Jawa, Kalimantan, Poso dan Papua ikut mewarnai barisan pawai. Selain 5 etnis tersebut, turut ditampilkan sejumlah pasangan adat dari daerah Sulawesi Selatan, Betawi, Lampung, Nusa Tenggara Timur, Padang, Toraja dan Bali.

Replika fakultas-fakultas yang ada di UKSW juga ditampilkan dalam pawai yang menempuh rute hampir 2,5 kilometer ini. Enam tema dunia juga diusung dalam pawai tahun ini, meliputi eksploitasi anak, kemiskinan, mistik, global warming, terorisme dan korupsi. Mewakili Kelompok Bakat Minat (KBM) yang ada di UKSW, turut tampil KBM Taekwondo, KBM Wushu dan KBM Teater Tilar.

Selain mahasiswa baru UKSW, sejumlah siswa SMA Kristen Satya Wacana juga ikut ambil bagian dalam barisan pembawa bendera pataka fakultas di UKSW. Dua kelompok drumband masing-masing dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) 6 Salatiga dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Stella Matutina ikut menyemarakkan pawai budaya yang tahun ini memasuki tahun ke-2 penyelenggaraanya.

Hujan yang mengguyur Salatiga tidak menyurutkan peserta pawai dan masyarakat kota Salatiga untuk menyaksikan rangkaian pawai yang melewati Jalan Diponegoro-Jalan Jenderal Sudirman-Jalan Sukowati dan berakhir di Lapangan Pancasila tersebut.

Adopsi Pohon

Selain pawai budaya, pada hari yang sama juga digelar kegiatan penanaman pohon oleh sebagian mahasiswa baru UKSW. Kegiatan yang berlangsung Sabtu pagi (25/9) tersebut mengambil lokasi di Jalan Lingkar Selatan (JLS), Tegalsari, Salib Putih dan sebuah lokasi di Blotongan yang direncanakan akan menjadi lokasi kampus UKSW.

Sebanyak 1241 pohon jenis Trembesi, Mahoni dan Kenari ditanam mahasiswa baru dalam kegiatan tersebut. Konsep yang dipakai dalam kegiatan penanaman pohon kali ini adalah satu mahasiswa satu pohon. Kegiatan tidak berhenti dipenanaman pohon saja, mahasiswa baru akan melakukan adopsi pohon selama satu semester kedepan untuk memastikan pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik.

Berbeda dengan kegiatan penanaman pohon sebelumnya, pembuatan lubang tanam telah dipersiapkan panitia beberapa hari sebelum penanaman untuk meminimalisasi jumlah pohon yang tidak tumbuh. Selain pembuatan lubang tanam, jarak tanaman juga dipersiapan panitia dengan pemasangan acir dilokasi penanaman.

Pohon yang ditanam mahasiswa baru UKSW merupakan bentuk investasi UKSW untuk Kota Salatiga tercinta dimasa mendatang. Diharapkan dengan kegiatan penanaman pohon dan adopsi selama 1 semester, kesejukan kota Salatiga tetap terjaga dimasa mendatang.

Pawai Budaya Program OMB 2010 dan Penanaman dan Adopsi Pohon merupakan rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat mahasiswa baru UKSW. (dan/upk_panomb2010/ft:upk).

09 September 2010

PRESS RELEASE PAWAI BUDAYA 2010 DALAM PROGRAM ORIENTASI MAHASISWA BARU UKSW



Sebuah kehormatan dan keagungan bahwa PAWAI BUDAYA PROGRAM ORIENTASI MAHASISWA BARU kembali digelar untuk kedua kalinya. Dengan meningkatkan produktivitas dan kreatifitas generasi muda melalui fashion carnival.

PAWAI BUDAYA PROGRAM ORIENTASI MAHASISWA BARU 2010 memasuki tahun penyelenggaran kedua, diselenggarakan di Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia pada Hari Sabtu, 25 September 2010, pada pukul 10.00 wib.

Panitia mengundang media elektronik dan cetak serta fotografer Nasional maupun Internasional karena Pawai Budaya Program Orientasi Mahasiswa Baru 2010 merupakan acara yang unik, fantastik, spectakuler dan amazing dengan tema yang berbeda setiap tahunnya. Peserta tampil dengan kostum hasil rancangan sendiri dengan fashion run way dan fashion dance serta ditonton oleh ratusan ribu orang baik dalam maupun luar negeri.

Tahun ini Pawai Budaya akan mengangkat tema utama, “JAYALAH INDONESIAKU!!!”, yang berarti mengangkat kembali kejayaan Indonesia yang akan menjadi inspirasi fashion dunia.

Pawai Budaya Program Orientasi Mahasiswa Baru 2010 dipresentasikan dengan catwalk sepanjang 2,5 KM. Dengan penataan musik jalan yang selalu membawa penonton untuk menari dan berjoget bersama. Seluruh sub tema yang akan ditampilkan merupakan cerminan perbedaan yang ada di Salatiga yang memiliki kampus terbesar dan terbaik yaitu Universitas Kristen Satya Wacana yang mendapatkan julukan sebagai Indonesia Mini. Dengan mengambil sub tema :

- GARUDA INDONESIA : Sebagai lambang negara Indonesia, maka Pawai Budaya Program Orientasi Mahasiswa Baru 2010 mecoba mengimplementasikan serta mempresentasikan dalam bentuk kostum fashion carnival. Dengan mengambil warna merah, putih, coklat, dan keemasan menjadi ciri utama dalam kostum fashion karnaval nantinya.
- FIRE : Diambil dalam logo Universitas Kriten Satya Wacan yang berupa Api dengan 7 buah nyala api memberikan semangat yang membara untuk generasi muda terus berkarya. Dengan mengambil warna Merah, Emas, Orange, dan hitam menjadikan ciri utama dalam fashion karnaval nantinya.

Seluruh sub tema diatas dirancang secara bebas dan penuh kreatif dalam busana, musik, makeup, dan runway oleh 300 peserta karnaval dari Mahasiswa Baru. Selama satu bulan peserta karnaval dididik dengan cuma-cuma, melalui persiapan yang matang mulai dari kostum karnaval hingga fashion runway serta makeup yang digarap dan dirancang sendiri. Seluruh peserta yang pada umumnya tidak pernah menempuh pendidikan fashion desaign. Maka di tahun ini dengan mengangkat tema kekayaan Indonesia melalui budayanya yang sangat kental dan energik.

Tidak hanya itu, Pawai Budaya pada tahun ini akan melibatkan 1500 Mahasiswa Baru yang akan menampilkan tarian massal rainbow flag, tarian massal etnis, replika fakultas di UKSW, grup-grup Drumband SD-SMP se-Kota Salatiga, replika Fakultas di UKSW, serta Produk Unggulan UKSW. Dan yang pasti akan menampilkan lebih dari 300 orang dalam Fashion Catwalk Carnival.

Kegiatan ini diharapkan cukup untuk menggugah masyarakat dunia betapa cantik dan menariknya untuk berkunjung di Indonesia khususnya Kota Salatiga.

Secara khusus panitia berterima kasih kepada seluruh media cetak maupun elektronik serta fotografer yang telah menghantarkan kami di beberapa event nasional maupun dunia seperti penutupan Q Film Festival di BOSHE VVIP Club, Yogyakarta, Pembukaan Jogja Fashion Weeks, Pembukaan Gebyar Budaya Indonesia 2010. Dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia dan jajarannya, dan kedutaan besar negara-negara tetangga, serta seluruh pimpinan pemerintah kota ataupun kabupaten di seluruh Indonedia. Tak lupa juga kami mengucapkan terima kasih dan memberikan rasa hormat sebesar-besarnya kepada Walikota Salatiga yang telah memberikan ruang kepada generasi muda untuk memajukan kotanya sendiri. Dan juga sebagai persembahan rasa hormat kami kepada Pimpinan UKSW dan SMU UKSW serta seluruh panitia Orientasi Mahasiswa Baru 2010.

Akhirnya kami mengucapkan selamat menikmati dan menyaksikan acara kami ini, semoga kasih Tuhan selalu menyertai kita. Sampai bertemu di Pawai Budaya Program Orientasi Mahasiswa Baru 2011 berikutnya.


Salam Budaya,

24 Mei 2010

WARIA DIHARAMKAN DI SALON WANITA

Kediri - Forum diskusi yang dilakukan para santri atau Bahtsul Masail Ke-22 di Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, mengharamkan pemilik usaha kecantikan (salon) mempekerjakan waria. Meski memiliki sikap seperti perempuan, para waria tetap dinyatakan sebagai laki-laki dan tidak boleh bersentuhan dengan wanita.

Juru Bicara Pondok Pesantren Al Falah Abdul Manan mengatakan rekomendasi ini ditujukan kepada para pemilik usaha salon wanita saja. Dengan mempekerjakan waria, pemilik salon dianggap membiarkan terjadinya perbuatan maksiat karena melakukan kontak fisik dengan perempuan sebagai konsumennya. “Pada prinsipnya waria adalah tetap laki-laki dan dilarang bersentuhan dengan perempuan di luar muhrim,” kata Abdul Manan, Jumat (21/5).

Menurut dia, rekomendasi ini perlu disampaikan kepada masyarakat mengingat semakin banyaknya komunitas waria di tanah air. Bahkan keberadaan mereka kerap dijumpai di tempat usaha kecantikan dan melakukan perbuatan yang dilarang syara’ kepada konsumen.

Forum diskusi yang dihadiri 125 delegasi pondok pesantren se-Jawa dan Madura itu meminta kepada pengusaha salon untuk mempekerjakan waria di tempat usaha laki-laki sesuai jenis kelaminnya. Mereka juga berharap keberadaan para waria ini bisa dikurangi dengan memberikan pengetahuan agama sejak dini. “Kami minta masyarakat bisa menerima masukan ini dengan bijak,” katanya.

Bahtsul Masail pria ke-22 ini diselenggarakan selama dua hari sejak tanggal 19 – 20 Mei 2010. Selain merumuskan tenaga kerja waria, forum itu juga memperkuat hubungan pernikahan siri sebagai perbuatan yang sah. Rencananya seluruh rekomendasi tersebut akan diberikan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta untuk ditindaklanjuti secara politik.

17 Mei 2010

(Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia)


“Setiap manusia dilahirkan merdeka dan mempunyai hak dan martabat yang sama”

(Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia)



Hari ini 17 Mei, masyarakat dunia yang peduli akan hak-hak kelompok Lesbian,Gay, Biseksual, Transgender/ Transeksual, Intersex (LGBTIQ) meyuarakan kepada pemimpin dunia dan masyarakat untuk melawan segala bentuk kebencian terhadap homoseksual. Pada 17 Mei 1990 Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) menghapuskan homoseksual sebagai klasifikasi penyakit . Kemudian pada Deklarasi Montreal di Kanada 26-29 Juli 2006 merekomendasikan agar semua negara dan PBB mengakui dan mempromosikan 17 Mei sebagai Hari Internasional Melawan Kebencian Terhadap Homoseksual. Keputusan WHO tersebut juga telah diadopsi oleh Departemen Kesehatan RI dalam Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ) III tahun 1993 juga mengeluarkan homoseksual sebagai penyakit.

Di Indonesia dalam kebijakannya baik tingkat nasional (Pasal 4 ayat 1 UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi), homoseksual termasuk dalam persenggamaan meyimpang. Ada sekitar 10 peraturan daerah meyamakan homoseksual dengan pelacuran, misalnya Perda Kota Palembang Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Pemberantasan Pelacuran, pasal 8 ayat 1 dan 2 meyebutkan bahwa yangg termasuk dalam perbuatan pelacuran adalah a. homoseks; b. lesbian;



Praktek kebencian terhadap LGBTIQ di Indonesia sejak tahun 2009-2010 tercatat ada beberapa diantaranya; 13 Februari 2010 Sekjen Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Tgk Faisal Ali mengecam Waria melakukan kegiatan malam amal budaya di Banda Aceh, dianggap telah menodai pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tasikmalaya Achef Noor Mubarok akan melakukan pembinaan kepada 900 gay yang bekerjasama dengan Departemen Agama (Depag) dan Polisi Resort (Polres) Kota Tasikmalaya, dengan alasannya karena gay dianggap sebagai penyakit mental dan dinilai sebuah adzab.



Masih hangat juga pemberitaan pembubaran oleh kelompok FUI dan FPI pada Konferensi International Gay Lesbian Association (ILGA) Asia ke-4 26- 28 Maret 2010 di Surabaya Jawa Timur. Serta yang terakhir pembubaran pelatihan HAM Waria oleh massa FPI di Depok yang diselenggarakan oleh Komnas HAM 29 April- 1 Mei 2010.



Sedangkan di dunia ada sekitar 80 negara yang mengkriminalisasika n homoseksualitas dan mengutuk prilaku seks sejenis dengan hukuman penjara, bahkan ada yang menggunakan hukuman mati, seperti Iran, Mauritania, Nigeria, pakistan, Saudi Arabia, Sudan,Emirat Arab dan Yaman.



Dengan ini kami meminta kepada pemerintah Indonesia :

1. Membuat kebijakan khusus sementara (afirmative action) untuk perlindungan dan keamanan bagi kelompok LGBTIQ sebagai warga negera.

2. Menghapuskan segala kebijakan baik ditingkat nasional maupun daerah yang mendiskriminasikan kelompok LGBTIQ baik yang berdampak secara langsung maupun tidak langsung.

3. Menindak tegas kelompok yang melakukan kekerasan terhadap kelompok LGBTIQ untuk berserikat dan berkumpul

4. Meminta pemerintah secara aktif mengkampanyekan dan mengadvokasi hak-hak kelompok LGBTIQ ditingkat International.

Wasalam

a.n Lembaga Ourvoice

05 Mei 2010

PRESS RELEASE SALATIGA CARNIVAL CENTER 2

Sebuah kehormatan dan keagungan bahwa Salatiga Carnival Center kembali digelar yang merupakan kerja sama dengan pihak panitia Gebyar Budaya Indonesia 2010. Dengan meningkatkan produktivitas dan kreatifitas generasi muda melalui fashion carnival. Tahun kedua ini bersamaan dengan digelarnya Gebyar Budaya Indonesia 2010 oleh Senat Mahasiswa Universitas Universitas Kristen Satya Wacana. Salatiga Carnival Center berkesempatan untuk tampil dan menjadi ujung tombak pembukaan acara tersebut.

SCC memasuki tahun penyelenggaran kedua, diselenggarakan di Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia pada Hari Senin, 10 Mei 2010.

SCC mengundang media elektronik dan cetak serta fotografer Nasional maupun Internasional karena SCC merupakan acara yang unik, fantastik, spectakuler dan amazing dengan tema yang berbeda setiap tahunnya. Peserta tampil dengan kostum hasil rancangan sendiri dengan fashion run way dan fashion dance serta ditonton oleh sekitar 500 ribu orang

Tahun ini SCC akan mengangkat tema utama ,“INDONESIA HERITAGE”, yang berarti mengakat kembali kekuatan budaya Indonesia yang selalu menginspirasi fashion dunia. Dan jika ingin melihat budaya dunia tak perlu jauh untuk kita datang ke negara tersebut. Hanya di Indonesia semua budaya dunia telah ada. Selalu memberikan kesan menawan, megah, dan memukau.

SCC dipresentasikan dengan catwalk terbaik di dunia dengan panjang 2,3 KM. Dengan penataan musik jalan yang selalu membawa penonton untuk menari dan berjoget bersama. Seluruh sub tema yang akan ditampilkan merupakan cerminan perbedaan yang ada di Salatiga yang memiliki kampus terbesar dan terbaik yaitu Universitas Kristen Satya Wacana yang mendapatkan julukan sebagai Indonesia Mini. Dengan mengambil sub tema :

SUMATERA - Kekayaan Indonesia sebagai pesona yang tidak ada duanya di dunia dengan latar belakang budaya dan sejarah. SUMATERA merupakan The Land of Gold dipresentasikan dalam kesan mewah, fantastis dan monumental. Warna emas, merah, hijau, dan hitam akan mengingatkan kejayaan Indonesia pada Jaman Monarki. Dengan slogan SAVE SUMATERA.

JAWA – Kekayaan Indonesia kedua ini merupakan sebuah pulau yang padat penduduknya dengan kekhasan dan perbedaan yang mencolok. Hadir pula tarian khas Jawa yang menggunakan topeng. Jawa akan dipresentasikan bagaimana topeng Gecul yang merupakan perawakan dari punokawan yang memberikan kesan lucu, elegan, tetapi cantik.

KALIMANTAN – Kekayaan Indonesia satu ini tidak ada duanya. Sebagai inspirasi kostum yang penuh keanekaragaman burung yang selalu tampil cantik dan penuh dengan kelembutan. The Land of Khatulistiwa akan dipresentasikan bagaimana solah-polah burung yang selalu menari kesana dan kesini. Dengan kekhasan warna hitam, merah, emas yang penuh kemegahan.

SULAWESI – Kekayaan Indonesia berikutnya penuh dengan ornamen kekhasan yang selalu memukau banyak orang. Dengan wisata bahari yang dikenal dunia yaitu Bunaken membawa SULAWESI sebagai tujuan wisata dunia. Dengan mempresentasikan SULAWESI dengan rumah adat Toraja yang penuh kekhasan dan kemegahannya. Warna Merah, Hitam, dan Emas akan membawa Sulawesi sebagai pulau wisata dunia berikutnya.

BALI – kekayaan Indonesia satu ini tak boleh ditinggalkan bahwa BALI merupakan tujuan wisata kedua untuk wisatawan mancanegara setelah Hawai. Dengan budaya yang kuat, bali hadir dengan kegagahan dan kecantikan para penarinya. BALI adalah Surga Dunia juga bagi para fotografer dan peselancar dunia. Yang tak boleh ketinggalan adalah bunga kamboja yang selalu menghias di mahkota dara-dara cantik di Bali. Warna kekhasan PULAU SURGA DUNIA ini akan dipresentasikan dengan orange, merah, hitam, putih, dan keemasan.

PAPUA – Kekayaan Indonesia yang satu ini merupakan omega dan budaya terbaik Indonesia. Dengan kekhasan dan pula penuh emas. Membawa PAPUA sebagai inspirasi terbaik di Carnival kali ini. PAPUA merupakan surga bagi para wisatawan yang ingin menjelajahi budaya asli Indonesia. Warna hitam, coklat, serta kesederhanaan masyarakat papua membawanya tetap tampil megah dan memukau.

CHINA – Budaya satu ini diambil dikarenakan adanya masyarakat Indonesia yang enuh dengan keanekaragaman. Maka CHINA merupaka tema kostum tamu di karnaval tahun ini. Dengan warna kekhasan merah, hitam, emas, dan putih serta dengan ornamen yang megah mengantarkan presentasi kostum karnaval china sebagai kostum karnaval yang penuh suara dan kelincahan.

NEO HERITAGE – Merupakan tema pendukung untuk karnaval tahun ini. Neo Heritage merupakan penggabungan 7 tema sebelumnya yang selalu memberikan ciri khas megah, menawan, tetapi tetap tampil cantik. Akan dipresentaikan dengan warna hitam, emas, dan penggabungan 7 unsur budaya yang sudah ada sebelumnya.

Seluruh sub tema diatas dirancang secara bebas dan penuh kreatif dalam busana, musik, makeup, dan runway oleh 200 peserta karnaval. Selama 4 bulan lebih peserta karnaval dididik dengan cuma-cuma, melalui persiapan yang matang mulai dari kostum karnaval hingga fashion runway serta makeup yang digarap dan dirancang sendiri. Seluruh peserta yang pada umumnya tidak pernah menempuh pendidikan fashion desaign. Maka di tahun ini dengan mengangkat tema kekayaan Indonesia melalui budayanya yang sangat kental dan energik.

Kegiatan ini diharapkan cukup untuk menggugah masyarakat dunia betapa cantik dan menariknya untuk berkunjung di Indonesia.

Secara khusus Salatiga Carnival Center berterima kasih kepada seluruh media cetak maupun elektronik seta fotografer yang telah menghantarkan kami di beberapa event nasional maupun dunia seperti penutupan Q Film Festival di BOSHE VVIP Club, Yogyakarta serta Pembukaan Jogja Fashion Weeks. Dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia dan jajarannya, dan kedutaan besar negara-negara tetangga, serta seluruh pimpinan pemerintah kota ataupun kabupaten di seluruh Indonedia. Tak lupa juga kami mengucapkan terima kasih dan memberikan rasa hormat sebesar-besarnya kepada Walikota Salatiga yang telah memberikan ruang kepada generasi muda untuk memajukan kotanya sendiri. Dan juga sebagai persembahan rasa hormat kami kepada Pimpinan UKSW dan SMU UKSW serta seluruh panitia Gebyar Budaya Indonesia 2010. Sebagai kebanggaan kami dapat diundang dan bergabung diacara tersebut.

Akhirnya kami mengucapkan selamat menikmati dan menyaksikan acara kami ini, semoga kasih Tuhan selalu menyertai kita. Sampai bertemu di SCC berikutnya.


Salam Budaya,

Theodurus Gary Natanael
President Directur Salatiga Carnival Center

21 April 2010

Call for applications to the CSBR Sexuality Institute

***Deadline for Applications: May 21, 2010***

The Coalition for Sexual and Bodily Rights in Muslim Societies (CSBR)
is pleased to announce the 3rd CSBR Sexuality Institute 2010 to be held
between September 18th and 25th 2010 in Jakarta, Indonesia. Designed as
a comprehensive curriculum on sexuality, sexual and reproductive health
and rights with an in depth discussion on the linkages between research
and practice, the CSBR Sexuality Institute offers a holistic
interdisciplinary program combining history, theory, research and
politics of sexuality with applications of advocacy, and fieldwork.

The CSBR Sexuality Institute brings together leading leading sexual and
reproductive rights activists, academics and researchers. Held
previously in Malaysia (2008) and Turkey (2009) with participants from
20 countries throughout Asia, Africa and the Middle East, the
institutes include lectures, group work, roundtables, panels, site
visits and film screenings, as well as a methodology to engage
participants’ own experiences around sexuality.

Background

“I would summarize the experience I had at the CSBR Institute in one
word - that is: LIBERATING. The novelty of this [CSBR’s] discourse in
our socio-cultural context is certainly one important aspect, but more
importantly, the silence that our society harbors around sexuality has
become so “normal” that we often forget how integral it is to our
existence and well-being.” (Mahrukh Mouhiddin, BRAC University –
Bangladesh, CSBR Sexuality Institute 2008).

“In one sentence; the Institute has shown me that sexuality is not only
about problems, ill-being and repercussion; it is also about pleasure,
happiness, well being and CHANGE” (Gulalai Ismail, Aware Girls –
Pakistan, CSBR Sexuality Institute 2009).

The realization of sexual and reproductive health and rights is an
integral part of gender equality, development and social justice.
However, sexuality continues to be a contested site of political
struggles both in Muslim societies and across the globe. Increasing
global militarism, conservatism, and nationalism over the last decades
provoked a serious backlash on sexual and reproductive health and
rights, both at national and global levels. Given the current
polarizations, it is more pertinent than ever to strengthen critical
insight, further research, enhance knowledge and capacity on sexual and
reproductive health and rights, and build an inclusive and affirmative
discourse on sexuality.

Aim

In the above mentioned context, the aims of the CSBR Sexuality
Institute are:

To further knowledge on the multi-dimensional and intersecting aspects
of sexuality, health and rights;
To develop a deeper theoretical understanding of sexuality through a
historical overview and analysis of current debates and research at the
global level;
To provide a comprehensive and holistic understanding of sexuality in
Muslim societies through a discussion of the history, legal frameworks,
research, and current discourses;
To enhance participants’ sexual and reproductive health and rights
advocacy skills on national and international levels;
To increase participants’ capacity as leading advocates, practitioners
and researchers on sexuality issues at national, regional and
international levels.

Dibutuhkan Karyawan Pengelola Program KPAP Jawa Timur

Dear All...

Dibutuhkan tenaga staf Pengelola Program di Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa Timur. Kualifikasi dan Rincian Tugas dapat dilihat pada lampiran.
Lamaran ditujukan kepada : Sekretaris KPA Provinsi Jawa Timur melalui Email dan Surat ke alamat :

Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa Timur
d/a Kantor Gubernur Jawa Timur Jl. Pahlwan No 110 Lt 1 Surabaya
no telp. 3575547

Salam,
KPAP Jatim

Dibutuhkan Karyawan Pengelola Program KPAP Jawa Timur

Dear All...

Dibutuhkan tenaga staf Pengelola Program di Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa Timur. Kualifikasi dan Rincian Tugas dapat dilihat pada lampiran.
Lamaran ditujukan kepada : Sekretaris KPA Provinsi Jawa Timur melalui Email dan Surat ke alamat :

Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa Timur
d/a Kantor Gubernur Jawa Timur Jl. Pahlwan No 110 Lt 1 Surabaya
no telp. 3575547

Salam,
KPAP Jatim

Amerika Dukung Program HIV/AIDS di Indonesia

Jakarta, KabariNews.com - Pemerintah Amerika Serikat melalui Badan Pembangunan Internasionalnya (USAID) terus mendukung program pencegahan penyebaran virus HIV/AIDS di Indonesia.

Salah satu bentuk nyata yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat tersebut di antaranya adalah dengan meluncurkan program baru nya yang diberi nama Scaling Up for Most-at-risk Populations untuk jangka waktu lima tahun kedepan.

Proyek senilai US$ 35 juta tersebut akan memfokuskan diri di delapan provinsi di Indonesia.

Berdasarkan siaran pers yang dikeluarkan Kedutaan Besar Amerika Serikat, provinsi yang akan menjadi fokus program ini di antaranya adalah Jawa, Sumatera dan Papua.

Berikut ini isi siaran pers tersebut.

Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) hari ini meluncurkan sebuah program pencegahan HIV/AIDS yang baru untuk kurun lima tahun di Indonesia. Proyek yang diberi nama Scaling Up for Most-at-risk Populations merupakan bagian dari upaya Pemerintah AS senilai 35 juta dollar AS untuk membantu Pemerintah Indonesia mencegah penyebaran HIV/AIDS. Proyek ke-dua yang fokus pada peningkatan kapasitas LSM bagi HIV/AIDS juga akan diumumkan. Kedua proyek ini akan dijalankan secara terpadu dan kemitraan dengan Pemerintah Indonesia di bawah naungan Rencana Aksi Strategis Nasional bagi HIV/AIDS untuk 2010-2014. Proyek ini akan dipusatkan di delapan provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Riau, Sumatra Utara, Papua dan Papua Barat, dan DKI Jakarta.

20 April 2010

LGBT Coming Out

Selamat Pagi.

- Terkait dengan kegagalan kongres Gay & Lesbian di Surabaya ini,
sebenarnya bagaimana menurut bu Soe Tjen Masyarakat seharusnya
menyikapi hal tersebut.

Yang saya herankan dari masyarakat Indonesia adalah bila mereka bilang
kalau LGBT (Lesbian gay biseksual transseksual) ini bukan bagian budaya
Indonesia. Orientasi seksual ini harus ditolak karena merupakan
kebudayaan asing. Ini hal yang salah kaprah bagi saya. Misalnya, di
Ponorogo. Di situ ada warok, yang mempunyai gemblak yaitu lelaki muda
yang biasanya cakap parasnya. Dan ini amat diterima di Ponorogo. Bahkan
warok itu amat dihormati.

Dan di Sulawesi, ada Bissu. Dia adalah lelaki yang mirip perempuan dan
berpakaian perempuan. Dan dia adalah pendeta di sana. Mereka juga
mengenal Calalai dan Calabai, yaitu gender-gender yang lain. Tidak
hanya lelaki dan perempuan saja. Bahkan pada abad 17, 18 bahkan sampai
awal abad ke-19, ada catatan-catatan dari misionaris Eropa tentang
keberagaman orientasi seksual di Nusantara ini. Dan justru mereka ini
yang mengecam bahwa orang-orang di Nusantara ini tidak bermoral.

Padahal di Asia Tenggara sendiri orientasi seksual seperti itu diterima
pada jaman dulu. Sekarang malah kebalikannya. Banyak orang Indonesia
yang bilang kalau LGBT itu dari Barat dan tidak bermoral. Gimana ini
sekarang? Jadi yang namanya moral itu sangat rancu.

- Bu Soe Tjen, tapi apakah karena kebudayaan itu sudah mengakar dan
sudah menjadi sebuah kultur dari masyarakat. Jadi, kalau ada LGBT yang
come out atau menampilkan diri, justru ini yang dirasa mengganggu bagi
mereka. Apa benar begitu, ibu Soe Tjen?

Sebenarnya banyak budaya yang bukan merupakan akar dari masyarakat itu.
Tidak ada budaya yang asli sama sekali – biasanya budaya sekarang sudah
merupakan campuran di sana-sini dan dipengaruhi oleh berbagai budaya
lain. Bahkan suatu budaya seringkali adalah comotan dari budaya lain
dan Negara lain. Jadi, kalau ada yang bilang hal ini budaya asli
Indonesia, aduh, ini pernyataan yang tidak masuk akal sama sekali dan
bahkan bodoh sekali. Ini adalah pernyataan orang yang jarang membaca.
Akhirnya inilah yang menyudutkan para LGBT ketika mereka come out,
mereka akhirnya ditolak karena anggapan tidak sesuai dengan akar budaya
Indonesia.

Bahkan beberapa orang juga sempat bertanya apa saya ini lesbian. Saya
biasanya tidak menolak dianggap lesbian. Karena menurut saya, orientasi
seksual itu tidak sepatutnya dipermasalahkan. Itu hak pribadi
seseorang. Kalau ada orang yang bilang saya lesbian, ya terserah. Tapi
saya sekarang mau menyatakan bahwa saya adalah heteroseks yang
pro-LGBT. Mengapa? Karena saat ini, saya merasa malu menjadi
heteroseks, kalau heteroseks hanyalah dibuat sebagai tanda kenormalan
dan bisa mengintimidasi LGBT. Karena itu sekali lagi saya menyatakan
bahwa saya malu menjadi heteroseks, kalau mereka merasa mempunyai hak
melecehkan para LGBT. Saya benar-benar malu.

- Ibu Soe Tjen, golongan LGBT ini juga sering menerima hambatan dari golongan agama. Menurut ibu Soe Tjen ini bagaimana?

Sekarang mari kita bicara tentang agama Islam dulu. Di Alquran, tidak
ada pengutukan terhadap lesbian. Sama sekali tidak. Baca deh, kalau
nggak percaya. Yang dipakai sebagai referensi pengutukan gay lelaki
selalu Sodom dan Gomorah, dan Nabi Lut. Tapi Alquran itu ayatnya banyak
sekali. Jadi tidak saja Sodom dan Gomorah saja yang seharusnya menjadi
referensi. Tapi kisah Sodom dan Gomorah itu sebenarnya dipengaruhi oleh
budaya saat itu dan juga interpretasi manusia yang menuliskannya juga.

Dan ada beberapa hal yang aneh pada kisah itu: Pertama, kalau memang
gay lelaki yang dikutuk, kenapa istri-istri mereka juga dikutuk oleh
Allah? Ini mengherankan sekali. Dan dalam Islam itu ada ijtihad. Yaitu,
kita berpikir sesuai dengan hati nurani dan konteks. Jadi, konteks
Sodom dan Gomorah ini sebenarnya sudah tidak berlaku lagi.

- Baik, tapi ini bukan cuma dari satu agama saja, ya bu Soe Tjen. Bukan
hanya agama Islam tapi beberapa golongan lain juga menolak keberadaan
LGBT ini dengan mengatasnamakan agama mereka.

Memang, dari golongan Kristen juga banyak sekali. Sama juga,
referensinya itu juga Sodom dan Gomorah itu. Jawaban saya sebenarnya
hampir sama dengan di Alquran itu dan yang . . . (diputus)

- Baik, bu Soe Tjen. Apakah menurut bu Soe Tjen kebudayaan LGBT ini
diimpor dari luar Negeri atau dasarnya itu sudah ada di Indonesia
aslinya?

Seperti yang sudah saya katakan: Masalah kebudayaan itu amat rancu.
Jadi kebudayaan itu tidak ada yang asli, tidak ada yang bisa disebut
hal ini kebudayaan Indonesia saja. Kebudayaan itu tidak pernah dari
satu sisi. Tapi, LGBT itu ada, dan sempat diterima dalam kebudayaan
kita, bahkan sempat dikecam oleh pihak luar.

- Bu Soe Tjen, sekarang saatnya kita terima komentar dan pertanyaan dari pendengar.

Pertanyaan dan komentar:

1. Begini, mbak, saya melihat di Indonesia ini sudah keblinger. Anda
mengatasnamakan budaya, dan dengan ini mereka bisa menentang agama.
Justru lelaki perempuan ini sudah ditakdirkan oleh Allah untuk para
mahluknya. Kita melihat binatang saja tidak ada yang begitu kok.
Apalagi manusia yang sudah mempunyai aturan-aturan agama. Ketika anda
berbicara agama dan budaya, semua disalahkan untuk membenarkan suatu
hal.

2. Menurut saya, ini harus dipahami dulu oleh ibu. Keberadaan lesbian
dan gay ini apakah hasil kebudayaan, kebiasaan, atau apa saja, ini
harus kita tolak. Ini merupakan penyakit. Seperti yang telah dinyatakan
oleh Profesor Naya Sujana di radio ini. Penyakit ini real, penyakit ini
ada di masyarakat. Jadi, hal ini penyakit. Masyarakat harus
menyembuhkannya. Jadi ibu jangan hanya hantam kromo begitu. Ini masalah
real. Ini memang betul-betul penyakit.

3. Saya menolak homo dan lesbian. Coba buka Alquran dan Hadis. Itu ada
di ALquran dan Hadis. INi penyakit social. Ini adalah penyakit yang
berbahaya. Oleh Rasul Allah kita dianjurkan untuk menikah. Ini sudah
diatur oleh agama dan moral itu sangat penting. Sampai kapan pun saya
tolak ini.

4. Allah sudah menciptakan manusia berpasang-pasangan, jadi jangan
merakayasa Alquran dan membuatnya mengikuti aturan manusia. Karena
hanya manusia aneh yang berbuat demikian.

Jawaban saya:

OK, sekarang tentang Alquran dan Islam dulu. Tapi dalam Islam itu ada
yang namanya Khuntsa. Ini munculnya pada abad-8, saat ada reformasi
pengetahuan dalam dunia Islam. Dan ini tertulis dalam Fikh. Khuntsa itu
artinya lelaki yang keperempuanan. Jadi ada gender-gender yang lain,
ada yang berkelamin ganda juga. Jadi, Quran itu tidak bisa dibaca satu
ayat saja, lalu dicuplik dan dilepaskan dari keseluruhan Alquran. Ini
yang menyebabkan kekerasan dan kebencian. Padahal saya yakin, Islam itu
agama yang penuh cinta kasih.

Sekarang tentang kebudayaan, kalau ada pemirsa yang bilang budaya kita
tidak bisa diterima. Aduh, saya sudah berkali-kali berkata bahwa
kebudayaan itu tidak ada yang asli. Budaya selalu berubah. Seperti yang
saya sebut, dulu orientasi seksual yang berbeda itu cukup diterima di
Nusantara dan bahkan sempat dikecam oleh orang-orang Eropa.

- Baik, ibu Soe Tjen. Jadi, kesimpulannya LGBT belum diterima secara
bebas di Indonesia ya. Kalau sembunyi-sembunyi mungkin tidak apa-apa
ya. Tapi kalau come out, di Indonesia ini mungkin masih belum bisa.
Baik, ibu Soe Tjen Makasih atas waktunya yang diberikan untuk radio
Elshinta.
Ada kesalahan di dalam gadget ini