Salatiga Carnival Center

Salatiga Carnival Center
Sebuah event akbar tahunan WORLD CULTURE FASHION CARNIVAL..

Profil Saya

Foto saya
Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
I was born in Solo, December 25, 1987 from the father of Drs. Luke Suroso and Mrs. Sri Puji Lestari Hantokyudhaningsih. I grew up in a city full of culture that is the city of Solo. as the descendants of the solos even have blood from a stranger. I was born like a tiny man, weighing> 4 kg. the second child of three brothers that I tried to be a pioneer and a child who was always proud of my extended family. trained hard in terms of education and given the religious sciences until thick. I am standing upright in my life the 19th to voice the aspirations of the marginalized of LGBT in the city of Salatiga. as a new city that will be a starting point toward change and transformation that this country is a country truly democratic. soul, body and all of my life will always fight for rights of the marginalized is to get our citizen rights. Ladyboys no rights, no gay rights, no rights of lesbian, but there's only citizen rights regardless of sexual orientation and gender.

18 November 2010

Pertanyaan atas semua hal tentang aku

Perkenalkan nama saya Theodurus Gary Natanael. Saya anak dari Drs. Lukas Suroso dan Sri Puji Lestari Hantok Yudhaningsih. Saya lahir pada 25 Desember 2010 dan saya beragama Kristen Protestan. Saya merupakana warga kenegaraan Indonesia hingga sekarang. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S1 Komunikasi di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Dan saya juga bekerja sebagai President Directur Satya Wacana Carnival yang merupakan icon pusat karnaval fashion dunia di Salatiga.

Ada 15 hal yang akan saya ungkapkan disini untuk menjawab segala pertanyaan anda tentang saya.
1. Sejak kapan anda sadar bahwa anda memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis ?
Saya dilahirkan sebagai seorang lelaki yang memang untuk mencintai lelaki. Saya menyadari bahwa saya adalah seorang gay sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar tepatnya di kelas 1 dan saat itu saya sedang berumur 7 tahun. Saya sadar bahwa saya gay bukan tanpa alasan. Saat itu saya pernah suka dengan teman saya yang sebangku dengan saya bahkan saya juga pernah suka dengan guru olahraga saya waktu itu guru olahraga saya adalah guru paling muda dan modis.
2. Sejak kapan anda mulai membuka diri sebagai seorang gay?
Saya membuka diri sebagai gay sebenarnya sudah sangat lama. Kalao menjadi gay yang terbuka sebenarnya membutuhkan sebuah perjuangan dan proses yang lama. Ada beberapa hal seorang akan membuka diri menjadi seorang gay. Diawali dengan terbuka di komunitas gay itu sendiri, lalu terbuka di kalangan teman, di kalangan keluarga, dan secara umum. Saya terbuka di komunitas sejak saya duduk di bangku SMP, setelah itu saya berusaha tegar dan berjuang untuk terbuka dengan teman saya di bangku SMA. Dan di akhir pendidikan SMA saya memberanikan diri untuk terbuka di keluarga saya. Dan di awal perkuliahan saya memberanikan diri untuk terbuka pada Januari 2007. Ada seorang wartawan dr sebuah koran Jawa Pos meminta saya untuk melakukan wawancara. Dan di bulan Februari tepatnya 28 Februari 2007 media kampus UKSW mempublis saya untuk melakukan pengakuan diri. Dan berikutnya di lakukan oleh seluruh media di seluruh Indonesia dan Dunia.
3. Apa motivasi anda untuk menjadi gay yang terbuka ?
Motivasi ini sebenarnya muncul sejak saya duduk di bangku SMA dan waktu saya terlibat di LSM GESSANG sebagai seorang volunteer. Saya termotivasi untuk terbuka karena bukan karena ikut-ikutan atau apapun. Saya juga tidak memiliki keinginan atau motivasi untuk pamer atau apapun. Tetapi saya berusaha menyadarkan masyarakat bahwa seorang gay itu ada di sekitar kita dan menjadi seorang gay atau orientasi apapun sebenarnya merupakan kebanggaan dan saya selalu berkata bahwa banggalah sengan orientasi anda. Lalu motivasi kedua saya adalah ingin membuka wacana dan pemikiran teman-teman saya secara khusus dan masyarakat dunia secara umum bahwa menjadi gay di Indonesia juga mampu untuk menunjukan ekspresinya. Bukan hanya datar-datar saja. Dan memiliki orientasi seksual apapun sebenarnya bukan menjadi penghalang untuk berekspresi. Bahkan saya waktu itu memiliki motivasi bahwa menjadi gay bukan hanya sex yang dipikirkan tetapi memikirkan bagaimana menjadi warga Negara yang mempunyai hak yang sama sebagai WNI dan mampu untuk membangun Negara ini.
4. Apakah ada peristiwa khusus yang terjadi dalam hidup anda, sehingga menjadi alasan kuat bagi anda untuk memilih menjadi seorang gay?
Tidak ada peristiwa apapun yang membuat saya menjadi gay. Semuanya kehidupan saya berjalan dengan baik. Saya merasakan bagaimana mendapatka kasih saying oleh kedua orang tua saya dan kakak saya. Bahkan saya juga merasakan bagaimana menjadi anak kecil yang manja dan sering bermain selayak laki-laki lainnya. Untuk jalan hidup saya sebenarnya baik-baik saja memang tidak ada yang special tetapi untuk anak seumur saya sebenarnya tidak ada hal menonjol juga di perjalanan hidup saya. Dengan kegiatan rutin pagi sekolah, siang pulang ke rumah kadang klayapan ke mall, sore latihan dance atau kadang les dan banyak bolosnya alasan latihan dance. Malam minggu nongkrong ma teman-teman tapi kadang diajak teman agency model juga untuk dugem. Semua berjalan dengan baik kok.
5. Apakah ada peristiwa khusus yang terjadi dalam hidup anda, sehingga menjadi alasan kuat bagi anda untuk memilih membuka diri sebagai seorang gay?
Coming Out. Merupakan sebuah perjuangan dan membutuhkan proses yang panjang. Tetapi saya juga tidak ada peristiwa yang membuat saya terbuka. Karena kapanpun dan dimanapun saya pastinya berusaha untuk tetap terbuka. Oleh sebab itu saya memberanikan diri saya sebagai seorang lelaki untuk terbuka dan mengakui kalau saya adalah seorang gay. Saya tidak mengalami peristiwa apapun disini. Semuanya baik-baik saja.
6. Apa kendala yang dihadapi anda, ketika anda memilij untuk membuka diri sebagai seorang gay?
Sebenarnya kendalanya tidak ada. Ini masalah kepercayaan diri saja. Dibutuhkan keberanian dan mempunyai dasar atau tujuan yang menjadi dasar coming out itu sendiri. Tidak ada kendala apapun yang saya hadapi untuk menjadikan saya sebagai seorang gay. Semua berjalan dengan lancar dan untuk saya jika ada pro – kontra itu hal yang biasa karena Negara ini adalah Negara demokrasi.
7. Bagaimana anda menghadapi itu?
Kalau masalah pro-kontra itu tidak perlu saya tanggapi. Biarkan masyarakat sendiri yang menilai karena pro-kontra dari masyarakat dan saya hanya ingin menyaksikan dan berbuat yang terbaik saja untuk masyarakat saja.
8. Tekanan – tekanan seperti apa yang terjadi pada diri anda yang menyebabkan anda untuk mengambil keputusan berani membuka diri ?
Tidak ada tekanan dari pihak manapun dan dalam bentuk apapun yang membuat saya membuka diri. Ini dari hati saya dan kata hati saya untuk berkata. COMING OUT…!!! to be proud of their sexuality.
9. Bagaimana anda melihat pandangan masyarakat melihat anda?
Masyarakat masih bisa terkontrol. Karena jika mereka melakukan kekerasan pastinya hokum Negara ini yang bertindak. Dalam arti saya sebagai warga Negara ini sudah menjalankan kewajiban yang sama dan seharusnya memiliki hak untuk dilindungi. Jadi, buat saya pro-kontra itu masih biasa kok.
10. Apakah keluarga mengetahuinya?Bagaimana reaksi mereka?
Keluarga sudah mengetahuinya. Pertama kali mereka dengar dari mulut saya sendiri mereka sangat kaget dan tidak menerima saya. Di rumah saya seperti terasingkan dan tidak pernah di dengar. Orang tua saya pergi dari rumah untuk menenangkan diri sendiri. Tetapi setelah beberapa hari orang tua saya sudah tahu dan semuanya berjalan normal kembali. Tetapi prose situ sangat menyakitkan dan penuh keanehan. Tanya jawab yang panjang serta dibubuhkan perdebatkan sering terjadi. Tetapi buat saya itu karena saya berusaha menjadikan pikiran mereka terbuka. Hanya satu pesan orang tua saya adalah membuat mereka bangga. Dan itu saya buktikan dengan cepat. Segala prestasi saya raih dalam 2 tahun terakhir ini. Mulai dari beasiswa dan kemandirian saya untuk tidak bergantung pada orang tua. Itulah hal yang saya lakukan. Dan memiliki usaha di dunia fashion sebagai penyaluran hobi saya dan memiliki sebuah wadah komunitas sendiri untuk memperkuat kepercayaan diri teman-teman komuitas membuat kedua orang tua saya bangga.
11. Pernahkan anda mengalami diskriminasi dari masyarakat? Contoh?
Untuk diskriminasi sebagai seorang gay selama hidup saya belum pernah saya alami. Semua berjalan baik. Tetapi saya pernah merasakan bagaimna dihina dan dicaci maki. Buat saya itu hal yang biasa, dan membuat saya semakin kuat untuk menghadapi hidup. Tetapi di tahun 2009 pertama kali saya memiliki sebuah event fashion show tunggal dalam Fashion Weeks di Salatiga berupa WORLD CULTURE FASHION CARNIVAL itulah saya memiliki banyak tekanan. Banyak hal yang saya alami. Mulai di cemooh dan dipermasalahkan karena memang waktu itu saya mengajak teman-teman komunitas untuk terlibat di dalam kegiatan itu. Saya diludahi oleh orang-orang yang mengatasnamakan agama. Bukan hanya itu saja, saya juga pernah merasakan bagaimana keadaan yang sangat mencekam saat saya dan seluruh aktivis LGBT se-Asia melakukan kegiatan di Surabaya pada tahun 2010, tepatnya pada kegiatan ILGA-ASIA. Saya terpojokkan dalam kamar hotel bersama kawan-kawan saya. FPI dan Hizbullah melakukan pengepungan dan pemberontakan di lobi hotel waktu itu. Sungguh membuat saya merasakan bagaimana saya dan teman-teman saya untuk berjuang atas hak kami sebagai WNI untuk berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Hak kami waktu itu terenggut.
12. Bagaimana anda memandang hidup anda saat ini?
Saya memandang dan mengartikan hidup saya sebagai seorang gay haruslah mempunyai arti dan berguna bagi masyarakat di sekitar kita. Itulah mengapa saya terus berjuang untuk teman-teman dan sekeliling saya. Dimana ada diskriminasi dan kekerasan pastilah saya terus menolaknya. Bukan hanya untuk lesbian, gay, biseksual, ataupun transeksual dan transgender. Seorang heteroseksual pun menjadi perjuangan saya jika hak mereka direnggut.
13. Apa pendapat anda tentang pelaku transseksual dan transgender ?
Buat saya hidup adalah pilihan. Semua sudah diatur dalam buku kehidupan kita dan yang mengatur kita adalah Tuhan bukan manusia dengan agama apapun. Jadi buat saya, menjadi transseksual dan transgender itu merupakan pilihan dari seorang manusia. Mereka memiliki hak atas seksual mereka. Karena seksual itu bukan nafsu melainkan dari hati dan pilihan. Jadi setiap gay ataupun lesbian itu juga mempunyai type pasangan yang disukainya. Tidak semuanya ingin dimiliki. Jadi jika ada teman lelaki saya yang takut karena ke’gay’an saya, maka satu hal yang menjadi pertanyaan saya adalah “lha apa kamu itu typeku? Jangan menjadi orang yang terlalu keren dan terkenal dihadapan saya. Jika mereka ini belum mampu melebihi keberanian saya.” Mungkin hal itu sedikit sombong, tetapi saya memiliki hak untuk melakukan hal itu. Karena buat saya bahwa menjadi gay itu bukan penyakit yang menular seperti flu dan lainnya. Jadi, buat saya menjadi gay itu adalah hak mereka.
14. Bagaimana anda memandang fenomena tersebut ?
Saya memandang itu semua baik adanya. Tidak ada yang salah. Dan menjadi LGBT itu juga tidak mudah semua butuh perjuangan dan masih banyak hal. Dan jika masih ada yang menyingkirkan dari kehidupannya tentang seorang LGBT dari kehidupannya itu salah. Sebenarnya mereka itu ada dan berada di sekitar kita. Mungkin ada di keluarga kita, teman kita, bahkan sahabat dekat kita. Semua tergantung kita memandang mereka seperti apa. Jangan meminta mereka berubah, tetapi mintalah kepada mereka untuk menjadi gay ataupun lesbian untuk selalu peduli dan menjadi yang terbaik.
15. Apakah anda mengetahui motivasi mengapa seorang memilih untuk menjadi seorang transgender ?
Buat saya apapun motivasi mereka menjadi playboy, transgender atau manusia seperti apapun berusaha menjadi manusia yang peduli dan bisa berarti dan berguna buat masyarakat. Memang saya tidak mengerti motivasi mereka ataupun tujuan hidup mereka. Tetapi jadilah yang terbaik dan bisa dibanggakan tanpa melakukan diskriminasi apapun.


Ditulis sebagai tugas untuk mahasiswa Fakultas Bisnis dan Ekonomi UKSW atas nama Rio angkatan 2009.

Tidak ada komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini