Salatiga Carnival Center

Salatiga Carnival Center
Sebuah event akbar tahunan WORLD CULTURE FASHION CARNIVAL..

Profil Saya

Foto saya
Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
I was born in Solo, December 25, 1987 from the father of Drs. Luke Suroso and Mrs. Sri Puji Lestari Hantokyudhaningsih. I grew up in a city full of culture that is the city of Solo. as the descendants of the solos even have blood from a stranger. I was born like a tiny man, weighing> 4 kg. the second child of three brothers that I tried to be a pioneer and a child who was always proud of my extended family. trained hard in terms of education and given the religious sciences until thick. I am standing upright in my life the 19th to voice the aspirations of the marginalized of LGBT in the city of Salatiga. as a new city that will be a starting point toward change and transformation that this country is a country truly democratic. soul, body and all of my life will always fight for rights of the marginalized is to get our citizen rights. Ladyboys no rights, no gay rights, no rights of lesbian, but there's only citizen rights regardless of sexual orientation and gender.

22 Juli 2008

Di California Gay Boleh Kawin


SAN FRANCISCO, JUMAT - Ratusan pasang kaum homoseksual California berpelukan, berciuman, dan berurai air mata begitu mendengar pengadilan tinggi negara bagian terbesar di AS itu mengesahkan UU perkawinan sejenis.

Tetapi, kemenangan para pejuang hak kaum homoseksual, Kamis (15/5) atau Jumat (16/5) waktu Indonesia, itu tampaknya tak akan berlangsung lama. November depan, California akan menggelar pemungutan suara atas usulan amandemen UU oleh kelompok agama dan konservatif. Amandemen ini, kalau disetujui, akan menganulir keputusan pengadilan itu dan selanjutnya melarang perkawinan sejenis.

"Yang penting ini mengubah kemarahan menjadi cinta. Kami saling cinta. Kami sekarang punya hak yang sama di bawah UU. Kami akan segera menikah," kata Robin Tyler yang bersama pasangan perempuannya menjadi penggugat dalam kasus itu.

Begitu palu diketukkan, kerumunan orang di dalam Balai Kota langsung mengepalkan tinju ke atas. Begitu juga dengan orang-orang yang menyelimutkan bendera pelangi, bendera kebanggaan kaum gay.

Sementara itu di Castro, distrik pusat gay di San Francisco, Tim Oviatt menangis saat menyaksikan berita itu di televisi. "Saya telah menunggu ini selama hidup. Ini sebuah momen yang menegaskan sebuah kehidupan," kata Oviatt.

Sejak siang, pasangan-pasangan gay dan lesbian telah berbaris di depan Balai Kota untuk mendaftarkan diri untuk mendapatkan akta nikah. Di West Hollywood, para pendukung kaum ini berencana menyajikan kue perkawinan dalam sebuah perayaan malam harinya.

James Dobson, ketua kelompok Kristen konservatif, Focus on the Family, menyebut kerumunan itu biadab. Kelompoknya telah menghabiskan dana ribuan dolar untuk mengegolkan pemungutan suara November itu.
"Terserah rakyat California saja, apakah mereka akan mempertahankan perkawinan tradisional dengan menyetujui sebuah amandemen konstitusional. Hanya dengan itu mereka bisa melindungi diri dari tirani yudisial, seperti contoh terakhir," kata Dobson lewat surat elektronik.

Putusan ini diambil oleh majelis hakim yang didominasi kaum Republik dengan komposisi 4-3. Putusan ini menjatuhkan UU negara bagian yang melarang perkawinan sejenis dan menganggap hubungan semacam itu, meski disertai keuntungan finansial seperti layaknya perkawinan, tidak cukup.

SAS
Sumber : AP

Cenderung Homoseksual, Gimana Dong?

Ada seorang pria mengaku dirinya memiliki kecenderungan homoseksual Ia merasa senang bila melihat kelamin teman sejenis dan bahkan muncul keinginan untuk memegangnya. Apakah ini normal?

Berikut adalah ulasan lengkapnya dalam rubrik konsultasi seks asuhan Prof. Wimpie Pangkahila yang dimuat dalam Tabloid Gaya Hidup Sehat .

Saya seorang pemuda berusia 29 tahun. Saya punya kebiasaan buruk dari kecil, yaitu suka melakukan onani. Hampir setiap hari saya melakukan itu, kira-kira 5 menit langsung mencapai klimaks, keluar sperma.

Saya merasa ragu karena saya mau menikah pada awal tahun depan. Keraguan yang saya maksud, selain cepat keluar sperma, juga karena saya suka melihat kelamin teman sejenis. Bahkan, kalau diizinkan saya mau memegangnya.

Saya sudah pacaran dengan calon istri sejak setahun yang lalu. Selama itu saya tidak pernah terangsang kalau misalnya berciuman dan berpelukan dengan pacar saya. Padahal, semua teman mengatakan terangsang kalau berciuman dengan pacar mereka. Saya jadi merasa takut membina rumah tangga, takut istri merasa tidak puas.

Apakah saya homoseks? Apakah saya mengalami ejakulasi dini karena hanya sebentar onani, saya langsung mencapai klimaks? Apakah saya tidak akan kehabisan cairan sperma karena mulai umur empat tahun sudah melakukan onani tersebut?

Rd., Jakarta

Kehabisan Sperma?
Banyak informasi yang salah tentang masturbasi, bahkan telah menjadi mitos yang menyesatkan. Padahal, sebenarnya masturbasi, yang populer disebut onani, bukanlah suatu perbuatan yang aneh atau dapat menimbulkan akibat buruk.

Dalam perkembangan psikoseksual anak, masturbasi juga sudah dilakukan, yaitu dalam bentuk memegang-megang kelamin, baik pada anak pria maupun wanita. Sebagian anak bahkan dapat mencapai orgasme melalui perbuatannya itu.

Jadi, perbuatan yang Anda lakukan sejak kecil itu sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Hanya pada waktu itu tentu saja tidak ada sperma yang keluar ketika Anda melakukan masturbasi karena pada usia itu sperma belum diproduksi.

Anda tidak perlu takut kehabisan sperma. Sebab, sperma diproduksi terus-menerus selama buah pelir sehat dan normal dengan kesehatan tubuh yang baik. Namun, perlu diketahui bahwa masturbasi yang dilakukan dengan tergesa-gesa agar cepat selesai dikhawatirkan dapat melatarbelakangi terjadinya ejakulasi dini.

Mengenai ketakutan bahwa istri tidak puas kelak karena ejakulasi dini, sebaiknya hilangkan dulu perasaan itu. Apalagi Anda belum pernah melakukan hubungan seksual. Kelak, bila setelah menikah Anda masih mengalami ejakulasi yang terlampau cepat, tentu harus diatasi agar dapat terbina kehidupan seksual yang harmonis dengan istri. Ejakulasi dini dapat diatasi dengan baik.

Kini justru lebih penting Anda perhatikan kesukaan melihat kelamin sesama jenis. Kalau benar Anda lebih suka melihat kelamin pria daripada wanita, apalagi kalau Anda menjadi terangsang terhadap pria, sedangkan terhadap wanita tidak, itu petunjuk bahwa Anda punya kecenderungan homoseksual.

Sayangnya Anda tidak menjelaskan sejauh mana ketertarikan Anda terhadap sesama jenis. Saya sarankan jangan sampai kesukaan itu Anda ekspresikan dalam bentuk perilaku, yaitu melakukan kontak seksual dengan sesama jenis. Kalau sampai Anda melakukan itu, mungkin akan semakin sulit Anda menghentikannya. Saya pikir Anda memerlukan konsultasi lebih jauh mengenai kecenderungan homoseksual ini.

Homoseks, Bisa Karena Lingkungan



Jumat, 28 Maret 2008 | 02:17 WIB

Seorang laki-laki usia 28 tahun, sebut saja X, bercerita kepada Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And.

Hampir empat tahun ini, X bekerja, dan sang bos sering mengajaknya keluar. Kebetulan sang bos singel. Awalnya biasa saja. Suatu hari, sang bos mengajaknya tidur di kediamannya yang kebetulan ditempatinya sendirian.

Awalnya, X tidak curiga, tetapi saat tidur, sang bos mulai berlaku lain. Dia memeluk X dan langsung memegang alat vitalnya serta ingin melakukan hubungan intim. Jelas, ini di luar dugaan X yang langsung ingin pulang karena kaget. X menolak meski terus dipaksa sang bos. Esok hari, sang bos minta maaf dan berjanji tidak akan berbuat lagi.

Namun, saat sang bos mengajak X ke kampungnya dengan alasan saudaranya sakit. Kejadian berulang. Sang bos melakukan hal yang sama di hotel dan memberi uang 2,5 juta rupiah untuk tutup mulut.

X heran, di hari kosong justru dirinya sampai sekarang masih tetap berhubungan sebagaimana layaknya suami istri. X merasa menjadi homoseksual. Bahkan sempat diputus pacar karena ketahuan begitu akrab dengan bosnya.

X yang gusar bertanya: Apakah Saya tidak normal lagi sebagai laki-laki sejati? Kadang di saat dia ada di luar kota saya merasa kangen dan sering melakukan masturbasi sendiri. Apa yang harus dilakukan?

Empat Penyebab
Perilaku seksual dipengaruhi oleh empat faktor. Dorongan seksual, pengalaman seksual sebelumnya, lingkungan sosiokultural dan psikologis. Dalam kehidupan seksual Anda, faktor pengalaman seksual dengan pria itu tampaknya berpengaruh besar. Akibatnya X merasa sangat terkesan dan kemudian menjadi berperilaku homoseksual.

Keadaan seperti ini bukan hal yang aneh. Dalam teori penyebab homoseksual, ada empat faktor penyebabnya. Pertama, faktor biologis, berupa gangguan pada otak. Kedua, faktor psikodinamika yakni gangguan perkembangan psikoseksual pada masa kecil. Ketiga, faktor sosiokultural yakni keharusan atau kebiasaan budaya setempat dan keempat, faktor lingkungan yang mendorong melakukan hubungan homoseksual.

Tanpa melupakan kemungkinan adanya ketiga faktor lain, pria homoseksual (sang atasan) merupakan faktor lingkungan yang sangat berarti bagi X. Perjalanan kehidupan seksual X akan berbeda andai X berani menolak ajakan sehingga hubungan homoseksual tidak berlangsung.

Andai setelah hubungan pertama, x lebih berani menolak ajakan pulang kampung, hubungan berikut tidak akan terjadi. Namun, karena tidak berani tegas menolak, terjadilah hubungan yang tidak diinginkan.

Banyak
Yang dialami X juga dialami orang lainnya yang kemudian menjadi homoseksual. Seorang pria pernah datang kepada saya menyampaikan pengalaman seksual pertamanya saat masih usia sepuluh tahun. Pamannya membujuknya melakukan hubungan homoseksual. Akhirnya sang anak tumbuh sebagai homoseks karena itu pengalaman pertamanya.

Seorang wanita homoseksual ternyata juga mempunyai pengalaman pertama dengan teman wanitanya ketika sedang mengalami masalah keluarga. Demikian juga dengan beberapa pria homoseksual yang pada awalnya hanya berfungsi sebagai pekerja seks untuk tujuan materi. Ternyata mereka kemudian merasa menikmati dan sulit meninggalkan perilaku homoseksualnya.

Dengan orientasi seksual seperti ini, tentu saja dapat dimengerti kalau pacar X tidak mau melanjutkan hubungan, apalagi dia tidak mengerti kenapa X menjadi homoseksual.

Coba Keluar
Pada dasarnya, tidak ada perempuan heteroseksual mau bersuamikan homoseksual. Juga sebaliknya. Sesungguhnya perkawinan tidak boleh dilangsungkan antara seorang homoseksual dengan heteroseksual. Kalaupun perkawinan seperti ituada di masyarakat, itu terjadi karena pihak homoseksual tidak berterus terang kepada pasangannya.

Perkawinan semu seperti itu terpaksa dilakukan karena orang menganggap homoseksual sebagai sesuatu yang tidak baik atau terhormat. Padahal, sesungguhnya orientasi seksual seseorang tidak berkaitan dengan baik buruk atau kehormatan seseorang. Apalah artinya seseorang yang heteroseksual tetapi koruptor atau penipu?

Namun, karena kini X merasa terganggu dengan kehidupan homoseksualnya, lebih baik mencoba keluar dari situasi ini.Coba lupakan pengalaman dan kenangan bersama sang bos. Mulailah dengan tidak bertemu berdua,kemudian tidak bertemu sama sekali,meski kelihatannya tidak mungkin. Akan jauh lebih baik bila X keluar pekerjaan sehingga bisa keluar dari lingkungan penyebab munculnya homoseksual.

Saya yakin, X menjadi homoseksual karena faktor lingkungan. Sehingga dengan kemauan kuat, X bakal bisa keluar dari lingkungan penyebab dan menjadi heteroseksual kembali, meski tidak mudah. Apalagi bila ada faktor selain lingkungan sebagai penyebab, akan lebih sulit bahkan tidak mungkin menjadi heteroseksual.

KArena itu, ada sebagian orang yang berhasil meninggalkan perilaku homoseksual dan menjadi heteroseksual. Sebaliknya, banyak yang juga tetap hidup sebagai homoseksual.

Bagi yang berhasil menjadi heteroseksual, mereka dapat hidup normal dan biasa seperti manusia pada umumnya. Bagi mereka yang tetap hidup sebagai homoseksual, belum tentu dapat hidup tenang karena sangat tergantung pada lingkungan sosial tempatnya hidup.

Kalau mereka hidup dalam lingkungan sosial yang tidak mengerti tentang homoseksualitas, sangat mungkin sang homoseksual ditolak. Bahkan tidak sedikit orang yang mengutuknya sebagai pendosa.

Berbeda bila lingkungan sekitar bisa mengerti mengapa orang menjadi homoseksual. Mereka akan permisif bahkan membantu orang homoseksual agar hidup wajar seperti orang lain yang heteroseksual. Coba X lakukan upaya bila ingin menjadi heterokseksual.

* Prof. DR.Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And adalah seorang pakar andrologi dan seksologi dari Universitas Udayana, Bali

Source: Gaya Hidup Sehat

Anakku Lesbi, Bisa Normalkah?


IBU Leila yang baik, barangkali inilah kemalangan terberat dalam hidup saya. Sebuah surat datang ke anak gadis saya dari seorang cewek. Karena curiga atas seringnya inlok cewek tersebut yang sampai lebih dari satu jam, maka surat tersebut saya buka. Ternyata cewek tersebut menganggap anak saya istrinya dan rupanya mereka sudah berasyik-masyuk sekitar tiga bulan lewat internet.

Setelah itu langsung saya mendatangi seorang psikiater. Psikiater tersebut menyarankan agar hormon anak saya diperiksa. Dokter ahli kelainan seksual memeriksa prolaktin dan testosteron anak saya. Hasilnya baik, tidak ada tanda-tanda ketidaknormalan. Testosteron menunjukkan ia wanita dan mensnya juga teratur.

Oleh dokter tersebut saya dirujuk ke psikiater yang lebih andal. Kata beliau, gadis saya sebenarnya kidal, tetapi tangan kiri tidak pernah digunakan sehingga bingung pada jati dirinya. Padahal, dalam mendidik kami tidak pernah memaksakan agar anak kami menggunakan tangan kanan dan dalam keluarga besar kami turun-temurun tidak ada yang kidal.

Hingga sekarang saya belum berhasil membawa anak saya ke psikolog karena ia menolak. Ke dokter-dokter sebelumnya kami menggunakan alasan tersamar. Sekarang kami sudah tidak dapat menggunakan cara itu lagi karena ia sudah tahu dan rupanya bahagia dengan kelesbianannya.

Apa yang harus saya lakukan, Bu? Dapatkah lesbian disembuhkan tanpa yang bersangkutan ingin sembuh? Dengan suratnya kepada gadis temannya itu, anak saya mengatakan bahwa ia trauma dengan pria. Ya, ia dulu pernah pacaran dengan pria dua kali dan keduanya gagal. Tolong saya, Bu.

Ibu X yang baik, Berat sungguh ”pukulan” yang menimpa Anda sampai disebut kemalangan terberat dalam hidup Anda. Tetapi, saya juga dapat mengerti ”pukulan” berat patah hati yang diderita putri Anda. Mungkin cintanya begitu besar sampai mentalnya ”babak belur” alias trauma. Keinginan menjadi istri yang dicintai suami dan mencintai suaminya hancur luluh.

Pas dalam keadaan parah itu ada yang menawarkan persahabatan dan kasih sayang. Bahkan, lebih dari itu (dan sudah) menjadikan dia ”istri” tersayang oleh seorang perempuan yang mungkin merasa dirinya ”cowok”. ”Pucuk dicita ulam tiba”, atau lebih tepat ”tak ada umbi akar pun jadilah”, hingga berasyik-masyuklah mereka berdua.

Dalam keadaan demikian, memang sukar untuk banting setir jadi heteroseks kembali. Namun, lambat atau cepat ia akan menyadari, masyarakat kita (juga di negara yang sudah maju seperti Amerika) banyak yang masih bersikap negatif kepada kaum homoseksual. Mereka sering menjadi korban diskriminasi dan hate crimes.

Penelitian menunjukkan, mereka 92 persen mendapat verbal abuse, sering kali dari keluarga sendiri dan 24 persen diserang secara fisik. Selain itu, 50 persen dari gelandangan muda di New York adalah homoseksual, juga bunuh diri dan percobaan bunuh diri lebih banyak di antara homoseksual daripada heterokseksual (Davison, G & Neale, J. Abnormal Psychology, 2004)

Apakah ia dapat berubah jika dia sendiri tidak ingin?

Tidak, kendala utamanya karena ia tidak mau. Bahkan, yang mau jadi heteroseks pun sukar kalau sudah lama jadi homoseks.

Putri Anda baru tiga bulan berkenalan dengan gadis lesbian itu, juga semoga baru di internet saja. Jika kelak ia mengalami sikap diskriminatif dan dikucilkan sebagai lesbian, baik secara terus terang maupun tersembunyi, melihat penderitaan orangtua, dan juga takut kepada Tuhan, mungkin ia akan sadar dan kembali jadi heteroseksual.

Yang dapat Anda lakukan adalah mengingatkannya dengan lembut, tetapi tegas sambil tetap mendukung prestasinya dalam berbagai bidangnya lain (studi, pekerjaan, aktivitas sosial). Obat paling manjur bagi putri Anda adalah jika ia ”jatuh cinta” lagi kepada seorang pria dan cintanya disambut baik. Semoga benar terjadi, saya ikut mendoakan.


Sumber : KOMPAS

Pria Homoseksual Mudah Dikenali dari Wajahnya

MASSACHUSETTS, SELASA - Hanya dalam hitungan detik, hampir setiap orang dapat mengenali apakah seseorang di depannya homoseksual atau bukan hanya dari wajahnya. Temuan ini memperkuat pendapat bahwa pikiran bawah sadar manusia berperan penting dalam memandu perilakunya.

Manusia dikenal sebagai makhluk paling pintar dan cepat menilai sesamanya. Hal tersebut telah disimpulkan sebagai hasil penelitian yang dilakukan duo psikolog, Nalini Ambady dan Rovert Rosenthal, tahun 1994.

Saat itu, mereka menghadapkan orang-orang pada video seorang profesor yang sedang mengajar berdurasi dua detik saja kemudian diminta memberikan opini mengenai kemampuan mengajarnya. Hasil penilaian tersebut ternyata mirip benar dengan penilaian para mahasiswa profesor tersebut yang diajar selama satu semester.

Temuan ini tidak hanya mengejutkan tapi membuat pebasaran para pakar perilaku untuk meguak rahasia kemampuan manusia menilai sesamanya dalam waktu sangat singkat. Ambady kemudian bersama koleganya, Nicholas Rule, sama-sama dari Universitas Tufts, Massachusets, AS meneliti apakah hal tersebut juga berlaku untuk menilai orientasi seksual.

Sukarelawan pria maupun wanita dihadapkan 90 lembar foto wajah pria homoseksual dan pria normal secara acak, masing-masing antara 33 milidetik hingga 10 detik. Saat diberikan waktu 100 milidetik atau lebih, mereka dapat mendeteksi foto pria mana yang homoseksual dengan tingkat ketepatan 70 persen.

Jika waktunya kurang dari itu, mereka kesulitan. Namun, jika diberikan waktu lebih lama, peluangnya tidak semakain baik.

"Apa yang paling menarik adalah tambahan waktu tidak meningkatkan hasil," ujar Ambady yang melaporkan penelitian ini dalam Journal of Experimental Social Psychology edisi terbaru. Jadi, mungkin ada benarnya juga semboyan cinta pada pandangan pertama.(SCIENCE/WAH)

Pria Pendiam Itu Ternyata Bertangan Dingin


KASUS mutilasi (pembunuhan dengan korban dipotong-potong) yang dilakukan tersangka Very Idam Henyansyah (sesuai KK di desa asalnya) alias Ryan (30) mengagetkan penduduk Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ryan yang lahir di Jombang, 1 Februari 1978, dikenal para ibu di desa itu sebagai guru mengaji di TPQ di Desa Jatiwates.

Suharti (34) yang pada hari Minggu (20/7) malam ditemui di belakang rumah orangtua Ryan mengaku kaget dengan apa yang terjadi terhadap Ryan tentang kasus mutiliasi terhadap Heri Santoso di Depok, dan selanjutnya masih diduga melakukan pembunuhan juga terhadap Ariel Somba Sitanggang (34). Belakangan bahkan diketahui selain Heri dan Ariel masih ada tiga korban lain yang juga dibunuh dan dikubur di belakang rumah orangtua Ryan.

Sebab, selama 10 tahun menjadi guru mengaji, Ryan justru kerap menjadi penggiat berbagai lomba yang bernuansa keagamaan di desa itu. Di kampungnya, Ryan tenar dengan nama Yansyah.

Nama itu diambil dari nama belakangnya, Henyansyah. Sepanjang ingatan warga, Yansyah adalah sosok pemuda yang gemar merias anak-anak asuhannya. Yansyah juga suka melatih anak-anak muridnya menari dengan gerakannya yang gemulai.

”Ya, memang gayanya Yansyah kemayu. Gaya jalan, gaya ngomong-nya lembut dan kalem,” kata Zainal (38) yang putranya (umur 10 tahun) pernah menjadi murid Yansyah.

Tarubi (55), seorang tetangga Yansyah, mengatakan, sosok tersangka pelaku mutilasi itu sebagai orang yang pendiam. Hanya saja, kemudian entah kenapa, Yansyah dan keluarganya memiliki tabiat yang tidak disukai warga desa. Akibat perilaku itulah akhirnya warga desa mengucilkannya.

Yansyah pun berubah menjadi penyendiri, pendiam, dan jarang bertegur sapa dengan para tetangga. Perubahan terjadi ketika Yansyah mulai menginjak usia 20 tahun. Sejak saat itu Yansyah mulai aktif sebagai instruktur senam dan pegawai salon di Surabaya, sebelum akhirnya merantau ke Jakarta.

Salah seorang kerabat Yansyah, Solikan (38), mengakui bahwa Yansyah sudah menunjukkan perilaku yang berbeda dibandingkan dengan rekan-rekan sebayanya ketika usianya mulai dewasa. ”Laki-laki, tetapi suka merias,” kata Solikan.

Pada sebagian besar keluarga, teman, dan tetangganya, Yansyah mengaku belum pernah menikah. Namun, menurut seorang tokoh masyarakat bernama A Rohman, yang merupakan imam di masjid desa, lelaki itu mengaku pernah menikah. ”Yansyah mengaku pernah menikah kepada saya. Ia menunjukkan foto (istrinya) itu,” kata A Rohman.

Tampaknya, perubahan mulai terjadi ketika Ryan merantau ke kota dan bertemu dengan komunitasnya sesama kaum homoseksual di mana di komunitas itu Ryan berperan sebagai wanita.

Seperti banyak diulas para ahli, terbatasnya komunitas homoseksual membuat seseorang yang terlanjur menemukan pasangannya bisa berperilaku di luar dugaan --bahkan menjadi sangat keji-- jika merasa dirinya akan kehilangan pasangannya.

Dalam kasus Ryan, ia menjadi sangat tersinggung ketika Heri Santoso yang juga berperan sebagai perempuan "naksir" Noval yang menjadi pasangan Ryan. Ia tersinggung dan sekaligus terancam akan kehilangan Noval kalau sampai Noval "diselingkuhi" Heri.

Pertanyaan yang belum terjawab, benarkah semua korban yang dibunuh Ryan semata-mata karena alasan kehilangan pasangan seksual? Dari empat jenasah korban yang ditemukan, misalnya, tak satu pun dimutilasi seperti Heri. Bahkan orangtua Ariel menampik dugaan motif seksual dalam kasus kematian anaknya. Mereka menduga motif utama Ryan membunuh Ariel adalah penguasaan harta benda seperti telepon seluler dan sebagainya.

Lalu, masih ada lagi dua orang korban yang juga diduga korban Ryan yang saat ini masih dicari. Keduanya adalah Nani Kristanti (35) dan anaknya yang berusia tiga tahun. Nani adalah rekan Ryan mengajar senam di Jombang yang sebelum hilang diketahui bersama Ryan.

Pertanyaan lain yang juga belum terjawab adalah benarkah orangtua Ryan atau keluarga lain sama sekali tidak mengetahui kasus pembunuhan yang dilakukan Ryan? Sebab, Ryan mengubur jenasah korban-korbannya di belakang rumah yang tak begitu luas juga.

Karena itu, meski berhasil dengan cepat mengungkap kasus mutilasi atas Heri Santoso, polisi kini masih punya banyak pekerjaan rumah (PR) baru menyusul temuan empat jenasah yang dikubur di belakang rumah orangtua Ryan itu. Dalam hal ini, jajaran Kepolisian Resor Jombang dan Kepolisian Daerah Jawa Timur masih harus bekerja keras....

Ingki Rinaldi,M Suprihadi
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Tentara Gay Tak Ganggu Daya Tempur

WASHINGTON - Gay masuk militer? Tidak umum memang. Meski begitu, sebuah studi menemukan, kehadiran gay di ketentaraan tidak mengurangi kemampuan tempur dan kesempatan memenangi perang.

"Studi ini menunjukkan, mengizinkan gay dan lesbian masuk militer tidak akan menimbulkan risiko apa pun atas moral, kepatuhan pada perintah, disiplin, dan kekompakan," begitu bunyi laporan penelitian yang dirilis pusat riset di California kemarin (8/7).

Penelitian tersebut dilakukan empat pensiunan pejabat militer. Salah satunya adalah seorang letnan jenderal angkatan udara yang pernah mempertanyakan kebijakan baru yang dibuat Presiden Bill Clinton pada 2003. Saat itu Clinton meminta agar orientasi seksual calon anggota militer tidak lagi ditanyakan.

Mengganggu kekompakan kesatuan memang menjadi kekhawatiran utama saat Kongres meloloskan kebijakan itu lima tahun lalu. Padahal, mereka tidak bisa begitu saja mengatakan mereka gay atau biseks.

"Dalam hal ini, yang menjadi masalah adalah keyakinan dan kepercayaan diri di antara anggota kesatuan," kata Letnan Kolonel Robert Maginnis yang pensiun pada 1993. Saat itu mereka yang punya orientasi seksual berbeda ditempatkan di lingkungan yang lebih tertutup. (AP/dia/soe)

( sumber : www.batampos.co.id )

Studi Gay/Lesbian

Oleh NURAINI JULIASTUTI



Sejak peristiwa Stonewall tahun 1969 (pembangkangan kaum homoseksual untuk memperjuangkan hak-haknya) dan bersamaan dengan gelombang kedua gerakan perempuan, homoseksualitas segera menjadi gerakan yang nyata. Tidak lagi takut-takut, tidak lagi tersembunyi. Sekaligus ia mulai dipertimbangkan sebagai bahan kajian studi.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, homoseksual dipelajari dari jarak yang objektif, tepatnya selalu dilihat dari perspektif heteroseksual. Sampai kemudian muncul generasi baru akademikus homoseksual muda yang mulai ambil peranan dalam studi ini. Mereka mempelajari homoseksualitas dengan penuh semangat empati.

Ken Plummer dalam kata pengantarnya untuk buku Modern Homosexualities (1992) mengatakan bahwa tulisan-tulisan tentang gay dan lesbian yang muncul sebelum tahun 1970-an tampak seperti sedang mencari pengertian diri. Beberapa bahkan bernada destruktif dan bersikap negatif terhadap hidup. Singkatnya, ia menyebabkan orang-orang benar-benar percaya bahwa mereka (gay dan lesbian) adalah termasuk golongan orang-orang sinting dan kesepian di dunia ini.

Tapi keadaan kemudian berubah dengan cepat. Sekarang tidak hanya jumlah buku tentang gay dan lesbian yang berlipat ganda (pada tahun 1969 tercatat hanya 500 judul buku, tapi pada tahun 1989 sudah melonjak menjadi 9000 judul buku), tapi juga jangkauan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang lebih luas, penerapan berbagai disiplin ilmu yang semakin beraneka ragam, dan tentu saja jumlah pembaca yang semakin luas.

Bersamaan dengan lahirnya publikasi-publikasi awal yang radikal tentang gay dan lesbian, berlangsung pula perkembangan-perkembangan penting yaitu pelembagaan studi gay dan lesbian sebagai lapangan akademik profesional. Lambat laun bidang studi ini sudah mempunyai PhD-PhD sendiri, bahan-bahan bacaan khusus, profesor-profesor, pusat-pusat studi, konferensi-konferensi, dan mulai dijadikan mata kuliah di universitas.

Pada tahun 1970-an, bidang studi ini secara internasional dikenal luas dan mulai bisa dibandingkan dengan perkembangan studi perempuan atau studi etnisitas atau ras, meskipun tentu saja ukurannya masih lebih kecil karena lebih banyak stigma-stigma yang dikenakan di situ.

Universitas-universitas dan college-college terkemuka seperti Harvard, Princeton, Yale, Berkeley, MIT, Duke, Nottingham Trente University, mengadakan kuliah-kuliah tentang gay dan lesbian secara tetap. Universitas Utrecht bahkan mempunyai Pusat Studi Gay dan Lesbian. Konferensi-konferensi internasional tentang gay dan lesbian telah diadakan di Toronto, Denmark, London, New York, dan Amsterdam.

Di beberapa negara bahkan ada usaha-usaha yang lebih awal untuk memantapkan kajian studi ini. Beberapa yang bisa disebut disini adalah: Hirshfeld's Institute di Jerman pada tahun 1920-an, beberapa pusat-pusat studi di Belanda, juga Institute for Homophile studies di Amerika, sebuah universitas alternatif yang pernah menerima lebih dari 1000 mahasiswa pada tahun akademik 1957-1958.

Kemapanan kajian studi gay dan lesbian juga ditandai dengan kelahiran jurnal-jurnal ilmiah bidang ini. Journal of Homosexuality pertama kali dipublikasikan pada tahun 1974 dan mengupas berbagai isu seperti remaja-remaja gay, orang-orang tua gay, dan lain-lain. Jurnal-jurnal lain yang banyak mengupas persoalan-persoalan gay dan lesbian adalah Journal of Gay and Lesbian Psychotheraphy, Journal of The History of Sexuality, European Gay Review, Lesbian Ethics, Signs, Feminists review, TRIVIA: A Journal of Ideas, atau Sexualities .

Tulisan-tulisan pertama yang muncul di luar universitas seringkali berupa artikel-artikel pendek di koran tentang kehidupan gay dan lesbian atau pamflet-pamflet kampanye. Buku-buku kumpulan artikel tersebut misalnya The Homosexual Dialectic, The Gay Liberation Book, The Lesbian Reader, atau A Lesbian Feminist Anthology. Kondisi di Indonesia sekarang mungkin bisa disamakan dengan keadaan diatas. Sampai saat ini di Indonesia belum banyak muncul literatur-literatur kajian studi tentang gay dan lesbian. Wacana tentang gay dan lesbian di negara ini hanya muncul secara rutin misalnya lewat majalah atau media-media intern perkumpulan-perkumpulan gay dan lesbian semacam Gaya Nusantara. Belum ada kaum akademikus di Indonesia yang mengkhususkan diri menulis tentan fenomena gay dan lesbian. Salah satu usaha penting untuk membawa wacana homoseksualitas di Indonesia ke tingkat yang lebih akademis adalah tulisan Dede Oetomo "Homoseksualitas di Indonesia" di Prisma (Juli 1991). Setelah itu belum ada lagi sesuatu yang penting dalam perkembangan studi gay dan lesbian di Indonesia.

* * *

Ada dua term utama dalam wacana homoseksualitas modern, yaitu: 'closet' (kloset) dan 'coming out' (keluar). Term 'kloset' digunakan sebagai metafor untuk menyatakan ruang privat atau ruang subkultur dimana seseorang dapat mendiaminya secara jujur, lengkap dengan keseluruhan identitasnya yang utuh. Sedangkan term 'coming out' digunakan untuk menyatakan ekspresi dramatis dari 'kedatangan' yang bersifat privat atau publik. Pemakaian term 'closet' dan 'coming out' disini bermakna sangat politis. Narasi 'coming out of the closet' menciptakan pemisahan antara individu-individu yang berada didalam dan diluar kloset. Kategori yang pertama diberi makna sebagai orang-orang yang menjalani hidupnya dengan kepalsuan, tidak bahagia, dan tertekan oleh posisi sosial yang diterima dari masyarakat. 'Kloset' kemudian bermakna strategi akomodasi dan pertahanan yang diproduksi untuk menghadapi norma-norma masyarakat heteroseksual di sekitarnya.

'Closet Practice' adalah respon terhadap strategi represif yang diterapkan oleh masyarakat heteroseksual untuk mengeluarkan homoseksual dari kehidupan masyarakat. Strategi ini mulai dilakukan pada tahun 1940-an, tapi kemudian mulai diintensifkan pada tahun 1950-an dan 1960-an. Hal ini memantapkan posisi 'kloset' sebagai konsep identitas seksual yang berbeda dan sebagai sebuah simbol kehidupan ganda.

Para teorisi di bidang ini misalnya adalah Dennis Altman, Ken Plummer, Mary McIntosh, Gayle Rubin, dan Jefrey Weeks. Dennis Altman menulis Homosexual: Liberation/Oppression (1971) yang lantas menjadi bahan perdebatan sampai 20 tahun berikutnya. Ia menyoroti penciptaan identitas baru dengan kelahiran gerakan lesbian dan gay, perbedaannya dengan masa lalu dan identitas politik mereka.

Studi ini lantas berkembang lebih jauh dengan penggabungan-penggabungan atau persilangan antara studi gay dan lesbian dengan berbagai disiplin ilmu yang lain. Pada tahun 1970-an, psikologi, sosiologi, dan sejarah menjadi kajian yang berpengaruh. Di bidang psikologi, Freedman menulis Homosexuals May Be Healthier Than Straights (1975). Ia menyatakan bahwa homoseksual adalah sesuatu yang normal, sama seperti orang-orang lain, dan mungkin bahkan lebih sehat dari kaum heteroseksual. Freedman kemudian juga memperkenalkan konsep utama 'homophobia' yang kemudian dilanjutkan dalam karya-karya Lesbian Psychologies (Boston Lesbian Psychologies Collective, 1987) dan Lesbianism:Affirming Non Traditional Roles (Rothblum & Cole, 1989). Topik penting yang dibahas dalam sosiologi adalah mengubah fokus dari memandang homoseksual sebagai salah satu tipe individu ke respon sosial terhadap homoseksualitas, yaitu perubahan konstruksi sosial homoseksualitas secara radikal. Karya-karya penting yang membahas topik ini misalnya: Sexual Stigma: An Interactionist Account (Ken Plummer, 1975), The Construction of Homosexuality (Greenberg, 1988), atau Forms of Desire:Sexual Orientation and The Social Constructionist Controversy (Stein, 1990). Perdebatan tentang tema ini terutama dipercepat oleh terbitnya seri History of Sexuality yang sangat berpengaruh karya Michel Foucault.

Dalam bidang sejarah bisa disebut buku karya Herdt yang berjudul Ritualized Homosexuality in Melanesia (1984), Passions Between Women (1993) karya Emma Donoghue yang membahas kebudayaan lesbian di Inggris tahun 1668-1801, atau The Wilde Century (1994) karya Alan Sinfield yang membahas tentang kehidupan gay Oscar Wilde yang hidup di masa Victorian di Inggris.

Mulai sepanjang tahun 1980-an ada perubahan tren dalam studi gay dan lesbian, yaitu perhatian yang besar kepada cultural studies dan persoalan AIDS. Persoalan AIDS dalam studi gay dan lesbian menjadi penting karena penyakit ini seringkali digunakan sebagai alat politis untuk menempatkan gay dan lesbian dalam posisi yang merugikan. Dan dalam beberapa hal terbukti bahwa menyerang kaum gay dan lesbian lewat isu kesehatan cukup ampuh, karena masyarakat biasanya dengan mudah membenarkan kekhawatiran terhadap penyakit serius semacam AIDS ini.

Perhatian yang besar terhadap cultural studies bisa terlihat dari berkembangbiaknya studi-studi kebudayaan gay dan lesbian dalam segala bentuk: film, TV, novel, karya-karya fiksi, biografi, musik, karya-karya seni, dan bentuk-bentuk kebudayaan populer lainnya. Bonnie Zimmerman misalnya menganalisa 200 karya fiksi lesbian yang dipublikasikan mulai tahun 1969-1989 dalam karyanya yang berjudul The Safe Sea of Women . Dengan perspektif yang sama Richard Dyer berusaha melacak perkembangan genre film-film gay dan lesbian dalam Now You See It (1991).

Bidang-bidang klasik lain dalam studi-studi lesbian dan gay modern adalah tentang komunitas dan persoalan identitas gay, seksualitas, pornografi, juga perubahan dan pergeseran konsep keluarga heteroseksual dengan adanya fenomena gay dan lesbian yang memelihara anak-anak mereka sendiri.



Termuat di Newsletter KUNCI No. 5, April 2000

Alamat halaman ini: http://kunci.or.id/esai/nws/05/gay.htm

Garin Nugroho: Pro Kontra FFI Wajar

Pro kontra dalam sebuah perhelatan adalah suatu kewajaran. Apalagi dengan event seakbar Festival Film Indonesia . "Dan sejak dulu selalu ada pro kontra di festival. Sebenarnya FFI juga merupakan kompetisi di tengah-tengah ragam penghargaan, ada MTV Movie, misalnya dan yang lain-lain. Semakin banyak festival dalam satu negara semakin bagus, karena tiap ajang akan mempunyai kriteria yang berbeda," papar Garin Nugroho dalam acara Diskusi Film "Jadikan FFI Milik Kita Bersama" di Gedung Film, (24/9).

Namun sebagai sebuah kegiatan yang diidam-idamkan oleh pelaku film tiap tahunnya untuk mendapatkan satu referensi karya, FFI diharap bukan hanya menjadi kegiatan ngobrol dan temu tahunan untuk orang-orang film tertentu. "Kerap kali yang membuat saya kecewa adalah ketentuan-ketentuan yang seringkali berubah yang akhirnya tidak memberikan konsistensi dalam pemikiran antara pelaku dan pembina, di mana pemikiran pihak pembina ingin diterapkan untuk menilai baik dan buruk tanpa memikirkan bahwa pelaku film dan juga masyarakat penonton film nasional mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan produk yang baik, bermoral tinggi, mendidik, dan juga memiliki nilai hiburan yang sehat," ujar Garin panjang.

Garin menunjuk piala ANTEMAS, di tahun-tahun sebelumnya diberikan sebagai penghargaan untuk film yang menghasilkan penonton terbanyak. Namun sistem tersebut diubah menjadi film yang layak untuk memperoleh penghargaan adalah film yang masuk dalam nominasi. Hal ini membuktikan bahwa pembina membenarkan bahwa pemikiran merekalah paling tepat.

Hal paling fatal dalam pandangan Garin, bahwa yang selalu dinilai dalam FFI adalah the Singer Not the Song – pembuat yang dinilai, bukan hasil karya. Seolah-olah golongan tertentulah yang paling berhak mendapatkan penilaian dewan juri sehingga pelaku film dari awal sudah bisa menebak film apa yang akan diperhitungkan.

"Kontroversi atau pro kontra yang terjadi di dalam setiap festival film adalah sah-sah saja. Bahkan di festival film bergengsi seperti Cannes, Oscar, Venice, dan lain sebagainya pun terjadi atas hasil keputusan dewan juri yang dianggap salah. Namun setahu saya, tidak pernah terjadi sebuah masalah yang menurut saya sangat dasyat seperti yang terjadi atas hasil keputusan dewan juri FFI 2006, sehingga menimbulkan polemik berkepanjangan dan memicu amarah sebagian besar pelaku film," ungkap Garin.

Itu merupakan bagian dari masa lalu, sudah selayaknya kita memandang ke depan bukan ke belakang, sehingga kita harus menciptakan iklim kondusif untuk dapat diwariskan pada generasi mendatang yang akan meneruskan industri ini untuk dapat dihadirkan ke dunia internasional.

Menurut Garin ada beberapa masukan untuk menuju ke arah sana, yaitu film yang dihasilkan diawali dengan idealisme sehingga tidak bisa digolongkan, dewan juri dan pelaku film harus berdampingan, hilangkan penilaian berdasarkan mitos "the Singer Not the Song". (kpl/wwn)

( sumber : www.kapanlagi.com )

Pro Kontra Seputar Gay


Perjuangan Stevanus Theodurus, dalam memperjuangkan hak lesbian, gay, biseks, transgender dan transseksual (LGBT) menuai pro dan kontra. Terbukti, sejak pengakuan tentang jati dirinya di situs web Scientiarum, timbul komentar dari berbagai kalangan mengenai kaum LGBT. Tak jarang komentar pedas ia terima. Tapi ada pula sebagian yang memahami dan menerima dirinya.

Theo, demikian ia biasa disapa, merupakan Petugas Lapangan Yayasan Gessang untuk Kota Salatiga. Gessang adalah yayasan yang bergerak di bidang sosial, advokasi, dan HAM untuk kaum gay. Theo juga tercatat sebagai mahasiswa aktif Program Studi Komunikasi FISIPOL UKSW angkatan 2006.

Theo memandang, LGBT bukanlah penyakit dan bukan dosa. “Kalo gay adalah penyakit menular, saya cuma mau ngomong, ‘Tolong carikan obatnya dong.’ Kalau tidak ada obatnya, berarti ada dua penyakit yang belum bisa diobati di Indonesia, yaitu gay dan AIDS. Gay bukan penyakit, tapi itu hanyalah suatu perbedaan orientasi seksual,” kata Theo.

”Di Salatiga, yang saya ketahui, ada 200 gay dan 50 persen adalah anak UKSW. Namun mereka masih tertutup dan belum mau mengaku. Sebenarnya, orang-orang yang berjalan dengan maskulin tidak menjamin bahwa ia bukan gay,” papar Theo.

Apakah LGBT itu bukan dosa dan bukan penyakit? Pertanyaan inilah yang akan digali lebih dalam melalui perspektif teologi, sosiologi, psikologi, dan biologi.

Menurut Dien, Dosen Fakultas Teologi yang mengampu matakuliah Feminisme dan matakuliah Gender (Program Pascasarjana), LGBT masih diperdebatkan “kedosaannya,” karena ada pihak yang menentang dan menganggap LGBT sebagai dosa dan harus dikembalikan ke jalan yang benar. Namun ada juga yang mengatakan bahwa LGBT bukan dosa, karena mereka juga mahluk ciptaan Tuhan, dan Tuhan juga mempunyai kuasa yang sama besarnya untuk “mengubah” ciptaannya.

“LGBT tidak dapat dikatakan sebagai dosa. Sejauh bukan sebagai ‘tren,’ karena dewasa ini banyak yang ‘tiba-tiba’ menjadi gay (karena) sekadar tuntutan dunia hiburan,” kata Dien.

Jika seseorang tiba-tiba “menyimpang” dari jalan yang sudah digariskan oleh Tuhan, hanya demi tuntutan duniawi, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai “dosa.” Selain itu, Dien juga menegaskan, bahwa “kelainan” seksual ini dapat terjadi karena berbagai faktor, misalnya saja faktor lingkungan; karena memiliki banyak saudara perempuan, atau terbiasa diberi mainan atau pakaian yang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya.

Hal senada juga diamini Dosen Fakultas Biologi, Ferry Karwur. Menurut Ferry, ketertarikan seksual dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor genetik dan faktor lingkungan. Sistem ketertarikan seksual manusia berada di antara lalat buah dan reptil (buaya). Lalat buah, bagaimanapun kondisi lingkungan, tidak akan mengubah orientasi seksualnya. Genetik memegang peranan 100 persen. Sedangkan buaya terpengaruhi oleh suhu (lingkungan).

Manusia dapat mengalami kebocoran genetik. Hormon sebagai penentu organ seks sekunder (payudara, jakun, dan sebagainya) dalam perkembangannya menjadi perantara situasi lingkungan dan genetik. Lingkungan dapat mengendalikan kita untuk mengubah orientasi seksual.

Neural pada manusia sangat kompleks. Hal ini menyebabkan neural kita berkembang lebih terdiferensiasi, tidak terprogram seperti robot. Sistem manusia yang unik ini membuat perbedaan orientasi seksual bagi tiap-tiap individu.

Ilmu psikologi sudah menyatakan bahwa homoseksual bukanlah penyakit ataupun kelainan. Perlu dibiasakan untuk mengatakan dan meyakinkan diri sendiri bahwa “saya adalah normal.” Penting untuk menghilangkan sifat apatis dan menutup diri dengan perasaan bersalah. Masalahnya, banyak lesbian yang merasa berdosa, sehingga makin menjauhkan diri dari aktivitas ibadah. Kalau perasaan negatif terus menggeluti pikiran, hal itu justru bisa menimbulkan rasa lemah. Nomor satu yang paling penting adalah menerima diri sendiri terlebih dahulu.

Berbeda dengan tiga perspektif yang lain, sisi sosial lebih menekankan bagaimana hubungan interaksi antara kaum LGBT dan masyarakat. Maksudnya, bagaimana cara kaum LGBT dapat masuk dan bergaul dengan masyarakat.

“Untuk urusan dia gay atau nggak sih nggak masalah. Yang penting jangan mengganggu aja,” ujar Rido, mahasiswa UKSW. “Yang penting, kita yang normal ini nggak merasa keselamatan kita terancam. Saya punya teman gay dan dia seringnya ya bergaul cuma dengan teman-teman cewek. Mungkin teman-teman cowok termasuk saya agak jaga jarak aja ya … tanpa bermaksud mengucilkan.”

Kontributor: AQIRANA A. TARUPAY, MUHAMMAD Y. F. NASUTION

( sumber : www.scientiarum.com )

Seminar jurnalistik di UKSW, “Obyektivitas harus dikedepankan”


Salatiga (Espos) Puluhan mahasiswa Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga mengikuti Seminar & Lomba Jurnalistik di Ruang Probowinoto, kampus setempat, Rabu (16/7).

Tampil sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut dua wartawan Harian Umum SOLOPOS, yaitu Rahmat Wibisono yang menyampaikan materi seputar pemberitaan, dan Fadjar Roosdianto yang membahas tentang fotografi jurnalistik. Acara dilaksanakan hampir enam jam mulai pukul 09.00 WIB.

Ditegaskan Rahmat dalam kesempatan itu tentang pentingnya obyektivitas dalam penyampaian fakta dalam wujud berita.

Sementara itu, Fadjar dalam kesempatan tersebut menjelaskan bahwa foto jurnalistik merupakan foto yang mengandung suatu nilai berita dan pemuatannya harus disertai keterangan atau caption. Dikatakan dia, ada beberapa jenis foto yang dikenal dalam dunia jurnalistik , di antaranya yaitu spot news, general news, dan sport news.

“Spot news adalah rekaman peristiwa yang terjadi secara tak terduga, misalnya kecelakaan, bencana alam, dan kerusuhan, sedangkan general news lebih sebagai foto kegiatan harian yang sifatnya terencana atau teragendakan. Kategori terakhir, yaitu sport news, adalah tentang foto-foto olahraga,” sambungnya.

Dekan FISIP UKSW Ir John R Lahade Msoc Si saat membuka secara resmi acara itu menjelaskan bahwa seminar dan lomba karya jurnalistik semacam itu rutin dilaksanakan mahasiswa fakultasnya.

Sementara itu ketua panitia, Tabita Handayani, menjelaskan, bahwa seusai digelarnya seminar yang menghadirkan praktisi, peserta berlomba menerapkan apa yang telah mereka dapatkan selama seminar. “Lulut dari angkatan 2007 dan Theodorus dari angkatan 2006 dinobatkan sebagai pemenang sehingga berhak mendapatkan uang tunai dan sertifikat,” terangnya. – Oleh: try.

(Foto: saam fredy_BPHL).

( sumber : www.uksw.edu )
Ada kesalahan di dalam gadget ini