Salatiga Carnival Center

Salatiga Carnival Center
Sebuah event akbar tahunan WORLD CULTURE FASHION CARNIVAL..

Profil Saya

Foto saya
Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
I was born in Solo, December 25, 1987 from the father of Drs. Luke Suroso and Mrs. Sri Puji Lestari Hantokyudhaningsih. I grew up in a city full of culture that is the city of Solo. as the descendants of the solos even have blood from a stranger. I was born like a tiny man, weighing> 4 kg. the second child of three brothers that I tried to be a pioneer and a child who was always proud of my extended family. trained hard in terms of education and given the religious sciences until thick. I am standing upright in my life the 19th to voice the aspirations of the marginalized of LGBT in the city of Salatiga. as a new city that will be a starting point toward change and transformation that this country is a country truly democratic. soul, body and all of my life will always fight for rights of the marginalized is to get our citizen rights. Ladyboys no rights, no gay rights, no rights of lesbian, but there's only citizen rights regardless of sexual orientation and gender.

22 Juli 2008

Pria Pendiam Itu Ternyata Bertangan Dingin


KASUS mutilasi (pembunuhan dengan korban dipotong-potong) yang dilakukan tersangka Very Idam Henyansyah (sesuai KK di desa asalnya) alias Ryan (30) mengagetkan penduduk Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ryan yang lahir di Jombang, 1 Februari 1978, dikenal para ibu di desa itu sebagai guru mengaji di TPQ di Desa Jatiwates.

Suharti (34) yang pada hari Minggu (20/7) malam ditemui di belakang rumah orangtua Ryan mengaku kaget dengan apa yang terjadi terhadap Ryan tentang kasus mutiliasi terhadap Heri Santoso di Depok, dan selanjutnya masih diduga melakukan pembunuhan juga terhadap Ariel Somba Sitanggang (34). Belakangan bahkan diketahui selain Heri dan Ariel masih ada tiga korban lain yang juga dibunuh dan dikubur di belakang rumah orangtua Ryan.

Sebab, selama 10 tahun menjadi guru mengaji, Ryan justru kerap menjadi penggiat berbagai lomba yang bernuansa keagamaan di desa itu. Di kampungnya, Ryan tenar dengan nama Yansyah.

Nama itu diambil dari nama belakangnya, Henyansyah. Sepanjang ingatan warga, Yansyah adalah sosok pemuda yang gemar merias anak-anak asuhannya. Yansyah juga suka melatih anak-anak muridnya menari dengan gerakannya yang gemulai.

”Ya, memang gayanya Yansyah kemayu. Gaya jalan, gaya ngomong-nya lembut dan kalem,” kata Zainal (38) yang putranya (umur 10 tahun) pernah menjadi murid Yansyah.

Tarubi (55), seorang tetangga Yansyah, mengatakan, sosok tersangka pelaku mutilasi itu sebagai orang yang pendiam. Hanya saja, kemudian entah kenapa, Yansyah dan keluarganya memiliki tabiat yang tidak disukai warga desa. Akibat perilaku itulah akhirnya warga desa mengucilkannya.

Yansyah pun berubah menjadi penyendiri, pendiam, dan jarang bertegur sapa dengan para tetangga. Perubahan terjadi ketika Yansyah mulai menginjak usia 20 tahun. Sejak saat itu Yansyah mulai aktif sebagai instruktur senam dan pegawai salon di Surabaya, sebelum akhirnya merantau ke Jakarta.

Salah seorang kerabat Yansyah, Solikan (38), mengakui bahwa Yansyah sudah menunjukkan perilaku yang berbeda dibandingkan dengan rekan-rekan sebayanya ketika usianya mulai dewasa. ”Laki-laki, tetapi suka merias,” kata Solikan.

Pada sebagian besar keluarga, teman, dan tetangganya, Yansyah mengaku belum pernah menikah. Namun, menurut seorang tokoh masyarakat bernama A Rohman, yang merupakan imam di masjid desa, lelaki itu mengaku pernah menikah. ”Yansyah mengaku pernah menikah kepada saya. Ia menunjukkan foto (istrinya) itu,” kata A Rohman.

Tampaknya, perubahan mulai terjadi ketika Ryan merantau ke kota dan bertemu dengan komunitasnya sesama kaum homoseksual di mana di komunitas itu Ryan berperan sebagai wanita.

Seperti banyak diulas para ahli, terbatasnya komunitas homoseksual membuat seseorang yang terlanjur menemukan pasangannya bisa berperilaku di luar dugaan --bahkan menjadi sangat keji-- jika merasa dirinya akan kehilangan pasangannya.

Dalam kasus Ryan, ia menjadi sangat tersinggung ketika Heri Santoso yang juga berperan sebagai perempuan "naksir" Noval yang menjadi pasangan Ryan. Ia tersinggung dan sekaligus terancam akan kehilangan Noval kalau sampai Noval "diselingkuhi" Heri.

Pertanyaan yang belum terjawab, benarkah semua korban yang dibunuh Ryan semata-mata karena alasan kehilangan pasangan seksual? Dari empat jenasah korban yang ditemukan, misalnya, tak satu pun dimutilasi seperti Heri. Bahkan orangtua Ariel menampik dugaan motif seksual dalam kasus kematian anaknya. Mereka menduga motif utama Ryan membunuh Ariel adalah penguasaan harta benda seperti telepon seluler dan sebagainya.

Lalu, masih ada lagi dua orang korban yang juga diduga korban Ryan yang saat ini masih dicari. Keduanya adalah Nani Kristanti (35) dan anaknya yang berusia tiga tahun. Nani adalah rekan Ryan mengajar senam di Jombang yang sebelum hilang diketahui bersama Ryan.

Pertanyaan lain yang juga belum terjawab adalah benarkah orangtua Ryan atau keluarga lain sama sekali tidak mengetahui kasus pembunuhan yang dilakukan Ryan? Sebab, Ryan mengubur jenasah korban-korbannya di belakang rumah yang tak begitu luas juga.

Karena itu, meski berhasil dengan cepat mengungkap kasus mutilasi atas Heri Santoso, polisi kini masih punya banyak pekerjaan rumah (PR) baru menyusul temuan empat jenasah yang dikubur di belakang rumah orangtua Ryan itu. Dalam hal ini, jajaran Kepolisian Resor Jombang dan Kepolisian Daerah Jawa Timur masih harus bekerja keras....

Ingki Rinaldi,M Suprihadi
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Tidak ada komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini