Salatiga Carnival Center

Salatiga Carnival Center
Sebuah event akbar tahunan WORLD CULTURE FASHION CARNIVAL..

Profil Saya

Foto saya
Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
I was born in Solo, December 25, 1987 from the father of Drs. Luke Suroso and Mrs. Sri Puji Lestari Hantokyudhaningsih. I grew up in a city full of culture that is the city of Solo. as the descendants of the solos even have blood from a stranger. I was born like a tiny man, weighing> 4 kg. the second child of three brothers that I tried to be a pioneer and a child who was always proud of my extended family. trained hard in terms of education and given the religious sciences until thick. I am standing upright in my life the 19th to voice the aspirations of the marginalized of LGBT in the city of Salatiga. as a new city that will be a starting point toward change and transformation that this country is a country truly democratic. soul, body and all of my life will always fight for rights of the marginalized is to get our citizen rights. Ladyboys no rights, no gay rights, no rights of lesbian, but there's only citizen rights regardless of sexual orientation and gender.

27 Agustus 2009

Rangkaian Kegiatan Pengabdian Masyarakat Mahasiswa Baru Tahun 2009

Salah satu agenda dalam Program Pengenalan Mahasiswa Baru (PPMB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) tahun 2009 adalah kegiatan Pengabdian Masyarakat yang digelar Kamis, 20 Agustus 2009. Rangkaian acara yang diselenggarakan meliputi kegiatan donor darah, bersih-bersih kota, pawai budaya dan kunjungan ke panti asuhan. Semua mahasiswa baru mengikuti kegiatan ini setelah sebelumnya dibagi menjadi 4 kelompok kegiatan.

Donor darah

Sejak pukul 08.30 mahasiswa baru sudah mulai memenuhi halaman parkir depan UKSW untuk mengikuti kegiatan donor darah. Bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Salatiga dan Fakultas Ilmu Keperawatan UKSW, sekitar 300 mahasiswa ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Dari PMI dikerahkan 10 tenaga kesehatan untuk mendukung acara, selain itu 7 mahasiswa didampingi dr. Jodelin Muninggar dari Fakultas Ilmu Keperawatan juga hadir untuk melancarkan aksi donor darah ini.

Sebelum mendonorkan darahnya, mahasiswa harus melalui tahap pemeriksaan awal kesehatan. Pada tahap ini mahasiswa diukur tekanan darahnya, golongan darah, berat badan dan keadaan kesehatannya saat ini. Mahasiswa yang baru saja sembuh dari sakit atau pasca operasi tidak boleh menyumbangkan darahnya. Nampak antrian mahasiswa yang menunggu diperiksa kesehatannya atau diambil darahnya.

Menurut Bapak Sumanto, salah seorang rekan dari PMI Kota Salatiga, kegiatan donor darah yang diadakan di UKSW kali ini merupakan yang terbesar di Salatiga. Jika biasanya hanya sekitar 120 orang yang mendonorkan darahnya dalam setiap event, pada kesempatan kali ini lebih dari 150 mahasiswa yang ambil bagian menyumbangkan darahnya. Darah lengkap hasil donor darah kali ini nantinya akan menjadi persediaan darah PMI kota Salatiga, khususnya dalam menghadapi bulan puasa.

Bersih-bersih kota

Pada hari yang sama, diadakan juga kegiatan bersih-bersih kota yang dilaksanakan di 14 titik di kota Salatiga dan 1 titik di luar Salatiga dengan melibatkan Dinas Tata Kota Salatiga. Sejak pukul 08.30 mahasiswa yang tergabung dalam kelompok bersih-bersih ini sudah berkumpul memadati lapangan basket. Berbagai alat kebersihan disiapkan mahasiswa seperti sapu lidi, pengki sampah sampai keranjang sampah.

Lebih dari 16 truk disiapakan panitia untuk membawa mahasiswa menuju 15 titik yang dijadikan sasaran kegiatan bersih-bersih kota. Secara bertahap mahasiswa diberangkatkan menuju tempat kegiatan. Beberapa tempat menjadi sasaran kegiatan ini seperti: perumahan Domas, daerah Kemiri III, daerah Bugel, daerah Argomulyo sebanyak 3 titik dan daerah Tingkir sebanyak 3 titik. Di lokasi yang telah ditentukan, mahasiswa baru melakukan aksi bersih-bersih jalan dan sungai dengan menggunakan peralatan yang ada. Setelah itu, mahasiswa baru dibawa ke tempat pembuangan akhir sampah Ngroggo untuk melihat secara dekat bagaimana kehidupan pemulung.

Pawai budaya

Kegiatan lain yang menjadi agenda Pengabdian Masyarakat adalah pawai budaya yang bertajuk “Satya Wacana Carnival”. Acara yang dimulai sekitar pukul 13.00 ini melibatkan sekitar 1700 orang yang melewati rute pintu masuk UKSW – Jalan Diponegoro – Jalan Jenderal Sudirman – Jalan Sukowati dan beakhir di lapangan Pancasila. Dengan tema “Eins Fur Indonesia, Eins Fur UKSW” (Satu untuk Indonesia, Satu untuk UKSW), kegiatan ini ikut melibatkan kelompok drumband dari SD Kristen 04, SD Kristen 03 Eben Heazer dan SD Marsudirini. Acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan dari Salatiga Carnival Center, Solo Batik Carnival 2 dan Drum Blek Pancuran.

Karnaval ini terbagi dalam 10 defile meliputi kemiskinan, korupsi, HAM dan pelanggaran hukum, illegal logging, global warming, musik, robot, teknologi informasi, militer dan pendidikan. Masing-masing defile digambarkan secara kreatif oleh mahasiswa lewat kostum yang dikenakan. Berbagai limbah dimanfaatkan sebagai kostum karnaval. Botol plastik bekas dengan berbagai ukuran disulap menjadi pakaian robot yang diberi warna perak dan aneka jenis senjata dengan warna hitam yang menjadi kostum militer. Dari kardus bekas, kain berwarna-warni dengan aneka motif dan aneka daun; mahasiswa membuat beraneka bentuk kostum untuk masing-masing defile yang mengundang decak kagum masyarakat. Nampak disini kreativitas mahasiswa dalam memanfaatkan limbah bekas dan menggambarkan masing-masing tema yang dibawakan. Di depan hadapan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Umbu Rauta, S.H.,M.Hum dan Ibu walikota Salatiga beserta beberapa pejabat Kodim, peserta pawai menggelar pertunjukan singkat sebelum akhirnya membubarkan diri di lapangan Pancasila.

Kunjungan ke panti asuhan

Kegiatan lain yang ikut mewarnai agenda Pengabdian Mahasiswa adalah kunjungan ke panti asuhan. Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 14.00 ini mengambil tempat di 7 panti asuhan yang ada di Salatiga meliputi: Panti Asuhan Taman Harapan, Panti Asuhan Aisyah, Panti Asuhan Woro Wiloso, Panti Asuhan Wiloso Tomo, Panti Asuhan Sion, Panti Asuhan Muhammadiyah dan Panti Asuhan Bakti Luhur. Jarak dari kampus UKSW ke panti asuhan ditempuh mahasiswa dengan berjalan kaki, khusus untuk kelompok yang menuju ke panti asuhan Sion disediakan angkutan umum karena jaraknya yang jauh.

Kegiatan seperti permainan, bernyanyi bersama, makan bersama, unjuk bakat dan pembagian hadiah yang disediakan sendiri oleh mahasiswa baru dilakukan di semua panti asuhan yang dikunjungi mahasiswa. Berbagai jenis permainan digelar mahasiswa untuk menjalin keakraban dengan anak-anak yang tinggal di panti asuhan. Umumnya yang tinggal di panti asuhan adalah anak-anak mulai dari bayi sampai anak sekolah menengah umum (SMU), dan mereka merespon baik kegiatan yang diadakan mahasiswa di sana. Dari kegiatan ini, diharapkan antar mahasiswa baru bisa lebih mengakrabkan diri dan bisa belajar bersosialisasi selain untuk mengenalkan lingkungan panti dan mengakjak mahasiswa untuk lebih berempati dengan keadaan di sekitarnya (upk_bphl).

Tidak ada komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini