Salatiga Carnival Center

Salatiga Carnival Center
Sebuah event akbar tahunan WORLD CULTURE FASHION CARNIVAL..

Profil Saya

Foto saya
Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
I was born in Solo, December 25, 1987 from the father of Drs. Luke Suroso and Mrs. Sri Puji Lestari Hantokyudhaningsih. I grew up in a city full of culture that is the city of Solo. as the descendants of the solos even have blood from a stranger. I was born like a tiny man, weighing> 4 kg. the second child of three brothers that I tried to be a pioneer and a child who was always proud of my extended family. trained hard in terms of education and given the religious sciences until thick. I am standing upright in my life the 19th to voice the aspirations of the marginalized of LGBT in the city of Salatiga. as a new city that will be a starting point toward change and transformation that this country is a country truly democratic. soul, body and all of my life will always fight for rights of the marginalized is to get our citizen rights. Ladyboys no rights, no gay rights, no rights of lesbian, but there's only citizen rights regardless of sexual orientation and gender.

29 September 2009

Masalah Seksual Umum Laki-laki Gay yang HIV+




Hampir separuh laki-laki gay dengan HIV memiliki beberapa masalah seksual. Hal itu dilaporkan para peneliti Australia dalam Journal of Sexual Medicine edisi Mei 2009. Kemungkinan laki-laki gay yang HIV+ melaporkan kesulitan seksual adalah lebih tinggi secara bermakna dibandingkan laki-laki gay yang HIV-, dengan penyebab yang berbeda-beda berdasarkan status HIV-nya.

Kemampuan secara seksual dapat mempengaruhi kesehatan fisik, mental dan sosial. Namun, hanya ada sedikit informasi tentang disfungsi seksual pada laki-laki gay. Sedikit penelitian yang dilakukan pada populasi tersebut memberi kesan bahwa masalah seksual pada laki-laki gay mungkin memiliki beberapa penyebab. Hal itu termasuk faktor sosial, misalnya usia dan status pekerjaan; faktor kesehatan fisik, terkait dengan infeksi HIV dan penyakit kronis lain; masalah psikologis, misalnya depresi dan homofobia; serta faktor perilaku, termasuk penggunaan narkoba dan alkohol.

Lebih lanjut, hingga saat ini penelitian hanya berpusat pada dua ukuran disfungsi seksual: masalah ereksi dan masalah ejakulasi. Penelitian terdahulu juga tidak pernah secara langsung meneliti hubungan antara disfungsi seksual pada laki-laki gay yang HIV-positif dan kesehatan mental. Lebih lagi, penelitian yang ada belum meneliti apakah masalah seksual yang dialami oleh laki-laki gay yang HIV-positif berbeda dengan yang ditemukan pada laki-laki gay yang HIV-negatif.

Oleh karena itu, para peneliti dari Australia melakukan penelitian yang melibatkan 542 laki-laki gay yang dilibatkan dari klinik umum yang memiliki banyak pasien HIV+. Sejumlah 217 laki-laki (40%) yang terlibat dalam penelitian itu adalah HIV+.

Laki-laki itu ditanyakan apakah mereka pernah mengalami salah satu dari tujuh masalah seksual yang berlangsung paling sedikit selama empat minggu dalam 12 bulan terakhir.

Kemungkinan laki-laki HIV+ mengalami setiap bentuk disfungsi seksual dibandingkan laki-laki HIV- : masalah ereksi (52% banding 39%); kesulitan ejakulasi (31% banding 22%); ejakulasi dini (21% banding 17%); kehilangan libido (60% banding 40%); ketiadaan kenikmatan seks (32% banding 26%); cemas terhadap kemampuan secara seksual (47% banding 42%); dan nyeri saat berhubungan seks (8% banding 7%).

Tidak hanya kemungkinan laki-laki HIV+ melaporkan satu masalah seksual lebih tinggi secara bermakna dibandingkan laki-laki HIV- (81% banding 67%, p < 0,001), mereka juga lebih mungkin mengalami lebih dari satu masalah (48% banding 35%, p = 0,002).

Selanjutnya, para peneliti meneliti penyebab lebih dari satu masalah seksual pada laki-laki HIV+dan HIV-.

Pada laki-laki HIV+ dan HIV-, depresi berat terkait secara bermakna dengan masalah seksual (laki-laki HIV+, p < 0,05; laki-laki HIV-negatif, p < 0,001).

Namun, faktor lain berbeda berdasarkan status HIV laki-laki. Pada laki-laki HIV-positif, pengobatan dengan antidepresi (p < 0,05), strategi penyesuaian yang buruk (p < 0,003) dan seks dubur tanpa kondom dengan pasangan yang tidak tetap dalam enam bulan terakhir (p < 0,001) juga bermakna. Pada laki-laki HIV-negatif faktor yang bermakna adalah kesehatan umum yang buruk (p < 0,05), dan ketiadaan dukungan sosial (p < 0,01).

“Tingkat masalah seksual yang dilaporkan sendiri tinggi di antara laki-laki gay di Australia,” para peneliti menulis. Mereka menambahkan, “Laki-laki gay dengan HIV lebih mungkin mengalami masalah seksual dibandingkan laki-laki tanpa HIV. Selain depresi berat, faktor terkait dengan beberapa masalah seksual berbeda di antara kedua kelompok.”

Para peneliti menekankan temuan mereka bahwa disfungsi seksual pada laki-laki HIV+terkait dengan seks dubur tanpa kondom dengan pasangan tidak tetap. Mereka menyimpulkan “pendidikan pencegahan HIV adalah hal yang perlu diutamakan.”

Ringkasan : Sexual problems common in HIV+ gay men - Spiritia

Tidak ada komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini