Salatiga Carnival Center

Salatiga Carnival Center
Sebuah event akbar tahunan WORLD CULTURE FASHION CARNIVAL..

Profil Saya

Foto saya
Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
I was born in Solo, December 25, 1987 from the father of Drs. Luke Suroso and Mrs. Sri Puji Lestari Hantokyudhaningsih. I grew up in a city full of culture that is the city of Solo. as the descendants of the solos even have blood from a stranger. I was born like a tiny man, weighing> 4 kg. the second child of three brothers that I tried to be a pioneer and a child who was always proud of my extended family. trained hard in terms of education and given the religious sciences until thick. I am standing upright in my life the 19th to voice the aspirations of the marginalized of LGBT in the city of Salatiga. as a new city that will be a starting point toward change and transformation that this country is a country truly democratic. soul, body and all of my life will always fight for rights of the marginalized is to get our citizen rights. Ladyboys no rights, no gay rights, no rights of lesbian, but there's only citizen rights regardless of sexual orientation and gender.

30 Agustus 2009

Japanese-Indonesia Culture Sharing di UKSW




Tarian “Sigulepong” asal Sumatra Utara menjadi pembuka “Japanese-Indonesia Culture Sharing”, Rabu sore 26 Agustus 2009 di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Acara ini merupakan rangkaian program East Asia Student Encounter (EASE) 2009; merupakan program pertemuan mahasiswa dari UKSW dengan Kwansai Gakuin University (KGU) Jepang yang telah berlangsung selama 32 tahun.

Dalam acara Culture Sharing ini, UKSW menampilkan juga tembang dolanan dari Jawa Tengah yang terdiri dari lagu “Padang Bulan”, “Cublak-cublak Suweng” dan “Gundul-gundul Pacul” serta tarian “Dingkula” asal Sulawesi Tengah. Selain tarian tradisional, ditampilkan juga modern dance yang menggambarkan kekuatan, kegembiraan dan semangat perjuangan; dimainkan 10 mahasiswa dengan memukau.

Peserta dari Jepang menyuguhkan suatu pagelaran opera “Kaguya Hime” yang diangkat dari cerita daerah Jepang “Taketori Monogatari”. Dipadukan dengan lagu daerah seorang nelayan dari Hokaido-Jepang “So-Ran Bushi” dan lagu “Tomodachi No Uta”, opera ini dimainkan 9 mahasiswa dengan penuh semangat dan ekspresi.

Di akhir acara, peserta EASE 2009 yang terdiri dari 11 Mahasiswa UKSW dan 9 Mahasiswa KGU di damping 1 Leader bersama-sama menyanyikan lagu “Bengawan Solo” dan “Jalan Sore-sore” dengan diiringi permainan angklung, sebuah alat musik tradisional dari jawa Barat.

Dalam kesempatan ini hadir pula Alumnus EASE yang datang dari luar kota seperti dari Jakarta dan Wakil Rektor IV Bidang Hubungan Luar dan Kewirausahaan Agna S. Krave, M.Sc. Ph.D. “Dari EASE saya mendapat banyak pengalaman. Saya pernah mengunjungi Jepang dan sempat menjadi Leader EASE. Saya bisa mengenal banyak dosen dari program studi lain yang ada di UKSW. Dan jika tidak mengikuti EASE, saya tidak mungkin mendapatkan kesempatan itu”, ungkap Frances Loraine Sinanu, S.Pd tentang pengalamanannya mengikuti program EASE.

Culture Sharing merupakan salah satu rangkaian kegiatan EASE 2009 yang mengangkat tema “Global Crisis and Young Generations”, dan direncanakan berlangsung 17 hingga 29 Agustus 2009. Sebelumnya sejumlah kegiatan telah dilakukan program ini.

Mahasiswa dari Jepang dikenalkan dengan aneka masakan Indonesia pada kegiatan Food Sharing. Peserta EASE juga melakukan presentasi paper tentang tema yang diangkat. Selain itu, selama 2 hari mahasiswa KGU Jepang juga diberi kesempatan untuk tinggal di rumah penduduk Indonesia untuk mengetahui lebih dekat bagaimana kehidupan orang Indonesia. Pada kesempatan ini mereka juga diajak untuk mengenal Indonesia lebih dekat dengan mengunjungi Malioboro, Keraton Yogyakarta, Borobudur, Sendratari Ramayana dan museum Ulu Sentalu di Yogyakarta. Pabrik Garuda Food dan Krisna Kuningan menjadi tempat tujuan selanjutnya peserta EASE 2009 ini (upk_bphl).

Tidak ada komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini