Salatiga Carnival Center

Salatiga Carnival Center
Sebuah event akbar tahunan WORLD CULTURE FASHION CARNIVAL..

Profil Saya

Foto saya
Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
I was born in Solo, December 25, 1987 from the father of Drs. Luke Suroso and Mrs. Sri Puji Lestari Hantokyudhaningsih. I grew up in a city full of culture that is the city of Solo. as the descendants of the solos even have blood from a stranger. I was born like a tiny man, weighing> 4 kg. the second child of three brothers that I tried to be a pioneer and a child who was always proud of my extended family. trained hard in terms of education and given the religious sciences until thick. I am standing upright in my life the 19th to voice the aspirations of the marginalized of LGBT in the city of Salatiga. as a new city that will be a starting point toward change and transformation that this country is a country truly democratic. soul, body and all of my life will always fight for rights of the marginalized is to get our citizen rights. Ladyboys no rights, no gay rights, no rights of lesbian, but there's only citizen rights regardless of sexual orientation and gender.

14 April 2010

Pengalaman Perempuan Pekerja Sexz..

Suamiku mantan aparat TNI yg ditahan slma 1 thun karena Narkoba,aku menyuap aparat hukum 30 jt dri hasil menjual tbuhku untk keringan tahanan. Tpi saya selalu dipukul suamiku. Mau cerai tp suamiku mengancam akan bunuhku. Skrg tiap hari aku menjenguknya dipenjara dgan memberikan makanan n uang 50 ribu/hari.(Pengakua n Pekerja Sex Perempuan di Sumatera).

Umurku 30 tahun, aku menikahumur 16 tahun. Pada saat umur anakku 17 bulan, selama menunggu hampir 4 tahun dalam ketidakpastian akhirnya aku mendapatkan kabar bahwa dia telah menikah dengan perempuan lain. Jangan nafkah bertemu anaknya juga tidak dia lakukan. Segala bentuk pekerjaan "halal" telah aku lakukan. Sekarang kedua orang tua saya sakit-sakitan permanen dan anak saya sedang sekolah di bangku SMP kelas 3. Akhirnya aku memutuskan untuk menjual tubuhku untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga. Perobatan orang tua dan biaya sekolah anak. Aku jujur semua kepada anakku apa yang aku lakukan. Pekerjaan ini tidak pernah aku bayangi sebelumnya. (Pengakuan Pekerja Sex Perempuan di Jawa Timur).

Aku tidak tahan lagi kalau harus berhubungan sex untuk melayani dua orang, suamiku dan seorang Waria. Selama 2 tahun aku harus melakukan cara-cara hubungan sex yang diinginkan suamiku. Perbuatan yang menjijikan bagi diriku. Tidak ada pilihan bagi diriku saat ini atas perlakuan suamiku kepada tubuhku. Suamiku tidak bisa ereksi dan nafsu kalau tidak melakukan hubungan sex bersamaku dan waria. Sampai sekarang aku harus melayani nafsu biadab suamiku secara berulang-ulang. Selain itu aku harus tidur dengan banyak laki-laki lagi untuk mencari nafkah. Saya menjadi benci dan marah kepada semua waria yang aku kenal.(Pengakuan seorang ibu 4 orang anak, Perempuan Pekerja sex di Jawa)

Tiga penggalan cerita diatas adalah gambaran pengalaman perempuan pekerja sex yang saya ketemui.

Kalau sudah begini siapa yang harus bertanggungjawab? Layakkah kita terus mengkriminalkan pekerja sex dan menstigmanya sebagai orang yang tidak bermoral? Hanya kejujuran hati yang dapat menjawabnya. ...


Salam Duka

Tidak ada komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini