Salatiga Carnival Center

Salatiga Carnival Center
Sebuah event akbar tahunan WORLD CULTURE FASHION CARNIVAL..

Profil Saya

Foto saya
Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
I was born in Solo, December 25, 1987 from the father of Drs. Luke Suroso and Mrs. Sri Puji Lestari Hantokyudhaningsih. I grew up in a city full of culture that is the city of Solo. as the descendants of the solos even have blood from a stranger. I was born like a tiny man, weighing> 4 kg. the second child of three brothers that I tried to be a pioneer and a child who was always proud of my extended family. trained hard in terms of education and given the religious sciences until thick. I am standing upright in my life the 19th to voice the aspirations of the marginalized of LGBT in the city of Salatiga. as a new city that will be a starting point toward change and transformation that this country is a country truly democratic. soul, body and all of my life will always fight for rights of the marginalized is to get our citizen rights. Ladyboys no rights, no gay rights, no rights of lesbian, but there's only citizen rights regardless of sexual orientation and gender.
Tampilkan postingan dengan label Wolrd Fashion Carnival. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wolrd Fashion Carnival. Tampilkan semua postingan

07 Oktober 2009

Singapura Berbinar oleh Karnival Batik



Saat para pemain Solo Batik Carnival (SBC) muncul ke panggung di Civic Plaza, Ngee Ann City, Orchard Road, Singapura, Sabtu (18/7), pusat perbelanjaan di kota Singa nan ramai itu seperti hendak meledak. Gelegar suara tambur massal ala musik Brasil dipadu orkestra gamelan yang didominasi suara saron (perkusi dari lempeng kuningan), bak memanggili mereka yang lalu lalang. Saat mereka tiba, mereka disuguhi penampilan sejumlah penari berbusana glamour nan unik. Wajah para penari dilukisi motif dengan warna-warni cerah ditaburi butir warna keperakan dan keemasan. Tubuh mereka, Januar, Anneke, Nining, Kwita, Uli, Asti, Ragowo, Fania, Wissyu, Suryadi, dan Novita dibungkus busana berlapis hingga menyerupai pakaian kurungan ayam orang-orang Eropa pada abad pertengahan.

Di sela pakaian yang mengembang terselip banyak sampur serta selendang batik. Kepala mereka penuh berbagai rumbai-rumbai yang mengembang bak ekor merak jantan. Demikian pula sayap-sayap kain yang kadang mereka kepakkan. Mereka mengggantung beraneka toping kayu di dahi, kepala, pinggang dan pangkal paha. Beberapa penari memasang dua bendera panji-panji di punggung mereka bak pakaian para jenderal China di era kekaisaran.

Ribuan pengunjung datang silih berganti menyaksikan penampilan SBC dengan takjub. Sebagian memilih bertahan hingga SBC selesai manggung sambil mengikuti irama musik dan menikmati gerakan tari gado-gado tradisional-kontemprorer itu. Sebenarnya rasa takjub para pengunjung ini sudah terasa sejak para penari berkostum ramai ini hadir di belakang panggung.

Puluhan juru foto dan para pengunjung berebut memotret saat mereka masih merias akhir wajah mereka. Saat mereka saling berlatih kecil merancang gerakan. Saat mereka saling merapikan kostum. Tapi pengunjung dan juru foto yang tergoda keelokan kostum mereka seperti tak peduli. Mereka tak segan menegur pemain untuk berfoto bersama dengan keluarga mereka. Dan seperti sudah terlatih, para pemain dengan ramah mengabulkan permintaan mereka dan berbaur.

Ketika para pemain mengakhiri pementasan mereka dengan datang ke tengah penonton, suasana serupa kembali terjadi. Para penonton mengepung dan berebut berfoto dengan para pemain. Sementara itu, suara orkestra tambur Brazil terus mengalun yang kadang diselingi orkestra gamelan.

Jubir SBC, Kepala Bidang Promosi dan Kerjasama Dinas Kebudayaan Pariwisata Kota Surakarta, Mufti Rahardjo mengakui, sajian SBC mengadopsi pesta karnaval yang setiap tahun diadakan di Rio De Janeiro, Brazil. Dan hasilnya memang tidak kalah heboh dengan karnival di negeri asalnya. Ia mengaku tidak sulit menyiapkan penampilan seperti ini, sebab, antusias warga Solo yang ingin terlibat SBC, tinggi, selain itu, "Solo kan sejak dulu dikenal sebagai kota kirab yang bahasa lainnya adalah karnival atau karnaval," ucapnya.

Ia menjelaskan, SBC dibentuk dengan semangat ingin membuat tag dan branding bagi industri batik Indonesia dengan mengemas seni pertunjukkan seperti disajikan SBC. Duta Besar RI untuk Singapura, Wardana menambahkan, oleh karena itu, acara promosi wisata dan produk kerajinan Indonesia yang dikemas dalam acara Enchanting Indonesia 3 ini melibatkan tiga perusahaan batik besar, Batik Danar Hadi, Batik Keris, dan Batik Semar. "Kita sudah memasuki jaman serba massal. Oleh karena itu, usaha batik tak cukup dengan kerajinan batik tulis. Harus ada industri batik yang tumbuh menjulang. Kami mau mengawalinya dari Singapura," tuturnya.

Mufti mengatakan, penampilan SBC yang kedua ini bertema topeng dengan tiga karakter, karakter panji atau ksatria, kelana atau amarah, dan gecul atau badut. "Selain berlatih di Pendapi Gedhe, Solo, dua bulan sebelum tampil, kami mengikuti lokakarya tentang cara merias diri, memilih, dan membuat kostum serta cara berbusana, berjalan, berkomunikasi dengan penonton serta menghidupkan suasana, mendalami satu diantara tiga karakter topeng," ujar Ragowo Ade yang masih kuliah di Universitas Muhammadiyah, Solo, Jawa Tengah. Tak heran, selama penampilan mereka di Enchanting Indonesia 3, mereka menjadi bintang acara. Setiap mereka melihat kamera mengarah kepada mereka, dengan spontan mereka pasang aksi bak foto model tanpa menghilangkan kesan luwes dan ramah di tengah kerumunan para pengunjung.

Masih defisit

Enchanting Indonesia 3 juga menyajikan sejumlah tarian daerah dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Jogyakarta, dan Jawa Timur. Mereka tampil dengan bermacam busana tari daerah berkualitas tinggi yang membuat pengunjung berdecak kagum. Salah satu kesenian daerah yang mendapat sambutan hangat adalah kesenian reog yang dibawakan Reog Sadupi (Duta Perdamaian Indonesia) dari Wonogiri, Jawa Tengah.

Reog yang dibentuk tahun 80-an oleh Bupati Wonogiri, Begug Purnomosidi ini, telah beberapa kali tampil di luar negeri seperti di Albert Hall, Inggris, di Belanda, Jerman dan Prancis. Menurut Jubir Reog Sadupi, Nyonya Ida Erawati, setelah Malaysia mengklaim reog sebagai kesenian tradisional Malaysia, undangan manggung ke luar negeri di kalangan kelompok kesenian reog, meningkat, termasuk undangan untuk Reog Sadupi.

Menurut Wardana, antusias masyarakat Singapura terhadap acara promosi wisata dan industri kerajinan Indonesia ini terus meningkat. Jika Enchanting Indonesia yang pertama dikunjungi 22.000 turis dalam dua hari, maka Enchanting yang kedua dikunjungi 30.000 turis. Melihat hal ini, KBRI berniat membuat acara ini menjadi acara rutin setiap tahun pada bulan Juli.

"Kami sengaja memilih lokasinya di tengah kawasan perbelanjaan agar mudah menarik minat warga atau turis asing di Singapura. Target kami meraih pasar turis menengah. Selain secara kuantitas lebih menjanjikan, pelayanannya pun lebih sederhana sehingga modal untuk menggerakkan usaha wisata bisa lebih kecil. Prinsip saya, kalau ingin mengembangkan industri, mulailah dengan segala hal yang bersifat massal. Demikian pula industri pariwisata kita," ucap Wardana.

Ia mengakui, sampai sekarang, soal perolehan devisa dari sektor ini, Indonesia masih defisit terhadap Singapura. Jika setiap tahun Singapura mampu menarik wisatawan Indonesia sebanyak 1,7 juta orang, maka Indonesia baru mampu menarik wisatawan Singapura ke Indonesia sebanyak 1,4 juta orang. Meski demikian ia mengingatkan, dari 6,6 juta turis asing yang ke Indonesia tahun 2007, 1,4 juta di antaranya berasal dari Singapura. Singapura sendiri setiap tahun mampu mendatangkan 10 juta turis asing sementara Malaysia sudah mencapai 22 juta.

Wardana berharap, industri pariwisata nasional dan sejumlah industri ikutannya bisa terdorong oleh hubungan bilateral yang baik antara Indonesia dan Singapura, sebab, bagi Indonesia, Singapura adalah kawasan strategis untuk menangguk turis dari negara lain.

04 Oktober 2009

SOLO GELAR KARNAVAL BATIK




SOLO -- Pemerintah Kota (Pemkot) Solo sepertinya tidak pernah berhenti mengangkat kembali citra produk batik. Ini dilakukan setelah diakui batik Indonesia sebagai warisan dunia (world heritttage) oleh lembaga internasional PBB, Unesco.

Solo Batik Carnival (SBC) sudah dua kali digelar, dan dijadikan kalender even tahunan. ''Kini, Pemkot Solo akan menggelar kegiatan karnaval batik kolosal -- sebagai bentuk apresiasi pengakuan Unesco atas produk budaya warisan leluhur,'' kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pawisata (Dishubpar), Purnomo Subagyo kepada Republika, Selasa.

Menurut Ipung -- panggilan akran Purnomo Subagyo,karnaval batik kolosal dijadwalkan Sabtu, 3 Oktober 2009. Even ini akan melibatkan seluruh elemen masyarakat. ''Siapapun yang ikut terlibat, silahkan bergabung ke Stadion Sriwedari. Tidak perlu mendaftar, langsung ikut bergabung saja''.

Karnaval batik kolosal diusung dengan tema Solo Membatik Dunia. Karnaval mengambil start dari Stadion Sriwedari pukul 15.00 WIB. Jam ini dipilih persis waktu pelaksanaan Solo Batik Carnival II, beberapa bulan lalu -- memanfaatklan waktu akhir pekan untuk menyedot perhatian publik.

Rute karnaval meneyusur jalan protokol Slamet Riyadi ke arah Tumur ke arah Pertigaan Gladag. Dan, berakhir di Halaman Balaikota Solo.

''Peserta yang ikut bisa melakukan penampilan dan berkreasi apapun. Atau sekedar ikut pawai saja. Tapi, harus mengenakan busana batik,'' tambah alumnusn Fisip UNS Jurusan Komunikasi ini.

Dishubpar Solo mengajak sejumlah asosiasi bergerak bidang industri pariwisata untuk memeriahkan even ini. Diantaranya, Asita (Asosiasi Tour dan Travel Pariwisata), PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), Dinas Koperasi dan UKM (Usaha Kecil dan Menengah), dan sejumlah elemen masyarakat lainnya'.

Dilibatkan Disdikpora agar setiap sekolah bisa mengirim peserta didik sebanyak-banyaknya untuk ikut berpartisipasi karnaval. Ini dilakukan sekaligus untuk menanamkan rasa cinta kalangan muda terhadap produk batik.

Ipung tak mentarget jumlah peserta yang ikut karnaval. Yang jelas, panitia berharap banyak pihak yang ikut terlibat. Mereka nanti ditata untuk dikirab secara rapi dan tertib sepanjang rute. Karnaval berjalan kaki menempuh jarak sekitar tiga kilometer.

Seperti SBC, karnaval batik kolosal ini sebagai bentuk perwujudkan kecintaan terhadap budaya batik sendiri. Ini sekaligus sebagai apresiasi atas pengakuan badan dunia, Unersco terhadap produk batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia.

Even ini sekaligus sebagai ajang promosi produk batik Solo, utamanya industri pariwisata. Tekad mengangkat citra budaya batik Solo selaras dengan dihidupkan kembali Kampoeng Batik di kawasan Laweyan, Solo. Kini sudah puluhan industrin batik bangkit kembali di sana. eds/pur

KIRAB BATIK "SOLO MEMBATIK DUNIA"

’’SEBAGAI bentuk rasa syukur atas dikukuhkannya batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia oleh Unesco, Sabtu (3/10) pukul 15.00 diadakan karnaval batik bnertajuk Solo Membatik Dunia di sepanjang Jl Slamet Riyadi. Silakan nonton, tapi harus berpakaian batik.’’

Kalimat tersebut ditulis Wali Kota Surakarta Joko Widodo dalam statusnya di facebook pada Kamis lalu. Sosialisasi lewat jejaring sosial itu ternyata ampuh. Tak berselang lama, ratusan orang menanggapi status tersebut di internet.

Bukti lain, yang lebih konkrit, kemarin, ribuan orang memadati jalan yang menghubungkan Stadion Sriwedari hingga Balai Kota Surakarta untuk menyaksikan event kirab batik itu.

’’Peserta kirab sesuai target yakni mencapai sekitar 10.000 orang,’’ kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta Drs Purnomo Subagyo.
Pada acara itu, dibuka oleh Sekda Budi Suharto di Stadion Sriwedari.

Meski demikian, antusiasme warga begitu kentara. Tak hanya mempertontonkan orang yang berjalan kaki mengenakan batik, kirab juga menampilkan beragam kreatifitas, seperti becak yang dihias dengan batik, kereta kuda berbatik.

Ada pula model dan peragawan yang mengenakan busana batik dengan menaiki kendaraan. Bahkan, melintas pula sepeda onthel, yang berasal dari kelompok Sepeda Onthel Lawas Solo, yang dicat dengan corak batik. Tampil pula, Solo Batik Carnival (SBC) dan puteri yang menaiki kereta yang dibalut dengan kain batik.

Tampil pula peserta dari pengusaha atau perajin batik, semisal batik Semar, Batik Danar Hadi, Batik Keris. Ada pula peserta dari Kampung batik Laweyan dan Kauman serta yang lain. Sembari mengikuti karnaval, mereka juga memperkenalkan merk dagang produknya.

Dari Kampung Batik Laweyan, misalnya ada Batik Mahkota dan Batik Putri Kencana. Pedagang dari Pasar Klewer pun tak kalah kreatif. Sambil mengikuti pawai, mereka mengusung spanduk bertuliskan ’’Terasa Belum ke Solo, Kalau Belum Berbelanja di Klewer.’’

Remaja Gaul

Tak kalah unik, pohon-pohon di sepanjang jalan Slamet Riyadi pun diselubungi kain jarik. Ajang semacam ini, selain melestarikan budaya juga untuk mengenalkan batik pada masyarakat secara luas. ’’Kami tampil untuk melestarikan batik. Generasi muda tak kalah gaul meski mengenakan batik,’’ kata Cecep dari Sepeda Onthel Lawas.

Menurut Purnomo, kirab tersebut tak hanya melibatkan Kampung Batik Laweyan dan Kauman. Tapi juga desainer, Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Asita, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perindustrian, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dikpora).

Salah satu warga, Ngatiman, mengatakan sangat senang dengan acara tersebut, terutama dengan partisipasi para pemuda. “Sekarang batik sudah tidak seperti zaman dulu. Coraknya sudah bermacam-macam dan bisa dipadu-padankan,” jelas warga Gentan, Sukoharjo ini.

Hal yang sama diutarakan Ragil. Menurutnya pemakaian batik tidak hanya dilakukan saat momen tertentu saja, tapi bisa sesering mungkin. “Kalau bisa seminggu dua kali dibudayakan memakai batik karena saat ini motif batik sudah tidak tradisional lagi,” ungkapnya.

Ya sore itu, Solo memang sedang membatik dunia. Yang menonton dan yang ditonton sama-sama mengenakan batik. Meski tak seragam, rasa batiknya terasa banget.(Widodo Prasetyo, Gading P, Anie R Rosyidah-39)